“Melangkah ke Dunia Luas”, Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua (2)

2
2,049 views

BUDAYA denda yang menonjol terjadi di Papua antara lain diceritakan dalam kisah Mengail dari Denda.

Orang merasa dirugikan karena menjadi korban kecelakaan, kejahatan, atau kelalaian. Misalnya, anak dari suatu keluarga meninggal karena tabrakan. Keluarga itu akan menuntut supir yang menabraknya. Tidak berhenti di situ rupanya, kalau anak itu ternyata mabuk, keluarga akan turut menuntut teman-teman si anak yang dianggap membuat anak itu jadi mabuk!

Kisah menarik mengenai lompatan teknologi yang dialami oleh beberapa anak asuhan penulis diceritakan dengan jenaka sekaligus membuat kita miris. Sepeda yang bagi kita merupakan hal yang bisa dikategorikan kuno sekarang ternyata baru pertama kali dilihat oleh Hengky, Dorteus, Selpianus, Yerino, dan Sisco ketika mereka masuk SMA di Nabire.

Tidak bisa membaca

Masalah pendidikan diurai dengan begitu gamblang oleh penulis. Siapa yang patut disalahkan ketika lulusan SMP daerah terpencil tidak bisa membaca dengan baik, belum pernah belajar bahasa Inggris, tidak bisa perhitungan dasar setingkat anak SD, serta mengganggap kalimat ‘Bapak membunuh babi’ sama dengan kalimat ‘Babi membunuh bapak’ – keduanya sama-sama menyatakan bahwa yang mati adalah si babi? Toh dalam satu kesempatan peresmian gedung perkantoran, seorang pejabat tinggi di tingkat kabupaten dengan berwibawa memaklumatkan ‘dengan pita ini saya menggunting gedung baru ini’.

Sudah lumrah anak yang belum bisa membaca dan menulis dengan lancar dinyatakan lulus SMP, anak yang nilainya di bawah kursi jongkok alias 4 bisa naik kelas tiap tahun. Kita dibawa menghayati bagaimana pendidikan di Budi Luhur asuhan Ordo Jesuit ini mempertahankan idealisme pendidikan dengan kosekuensi tiap tahun ada anak yang tidak naik kelas, ada yang tidak lulus ujian nasional. Perjuangan para guru membantu anak didiknya belajar materi yang selayaknya sudah dikuasai ketika SD dan SMP tetapi harus dikejar sekarang ketika dia sudah duduk di SMA.

Apakah ada harapan di Papua, kalau membaca buku tersebut kita mendapat jawaban: Ada. Seperti kisah Arnoldus, anak suku Moni yang berhasil melarang tantenya mengikuti adat memotong jari kelingkingnya sebagai tanda berkabung atas meninggalnya anak laki-lakinya. Arnoldus sudah mulai mempertanyakan budaya yang dipegang sukunya, termasuk juga penetapan denda yang terkesan sesuka hati yang mendenda.

Buku kecil ini menyentak kita dengan kisah-kisah sederhana yang mengalir dengan lancar, membuat kita masuk dalam pergolakan yang dialami anak-anak maupun sang penulis. Lalu kita terhenyak betapa beruntungnya kita yang tidak dilahirkan sebagai mereka, betapa hebatnya kita dan betapa harusnya kita bersyukur dengan segala hal yang buat kita merupakan hal ‘biasa’ ternyata merupakan hal yang lebih dari ‘luar biasa’ di sana.

Buku yang perlu dibaca oleh orang yang peduli dengan sesamanya, orang yang ingin hidupnya berguna bagi orang lain, orang yang berusaha bersyukur atas karunia hidup yang diberikan Yang di Atas.

Selamat membaca. (Selesai)

2 COMMENTS

Leave a Reply to David Gilbert morona Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here