Membangun Karakter dari dalam Diri

0
121 views
Ilustrasi: Sr. Kristina Fransiska CP dari Malang memberi sesi paparan tentang pendidikan bina karakter di SMAK Don Bosco Tarakan, Kalimantan Utara. (Mathias Hariyadi)

WILLIAM Shakespeare, sastrawan Inggris, berkata, “Tuhan telah memberi Anda satu wajah, dan Anda membuat wajah lain untuk dirimu.”

Ada seorang ibu yang selalu ingin tampil menarik. Ia tidak mau ada kerutan-kerutan di wajahnya. Karena itu, ia selalu berusaha untuk memperbaiki wajahnya. Berbagai upaya ia lakukan.

Misalnya, ia pergi ke dokter untuk melakukan bedah plastik. Rupanya, penampilan itu sangat penting baginya.

Ibu itu terobsesi oleh apa yang dianggap sebagai ‘kekurangan’ dalam penampilannya. Ia ingin melakukan bedah plastik, supaya wajahnya mirip dengan foto yang difilter dengan Snapchat dan Instagram.

Namun apa yang terjadi kemudian adalah ia mengalami stress dalam hidupnya. Bermalam-malam ia tidak bisa tidur. Ia resah, karena telah melakukan kesalahan. Ia tidak bisa menerima diri apa adanya.

Bahaya fantasi
Ada fenomena baru yang diungkapkan para peneliti dari Boston University, Amerika Serikat, yaitu Snapchat Dysmorphia.

Tren ini cukup mengkuatirkan, karena selfi hasil filter sering tidak dapat dicapai. Selfi hasil filter mengaburkan garis antara kenyataan dan fantasi bagi para pasien ini.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Ibu itu terobsesi oleh apa yang dianggap sebagai ‘kekurangan’ dalam penampilannya. Akibatnya, ia justru mengalami hidup yang tidak memuaskan.

Ia resah dan kemudian mengalami stres.

Manusia zaman sekarang sangat fokus pada penampilannya. Atau penampilan seolah-olah segala-galanya. Bahkan banyak orang tidak membatasi penampilan mereka. Apa yang dituju dari upaya-upaya itu?

Yang dituju adalah meningkatkan rasa percaya diri. Yang terjadi sesungguhnya adalah orang tidak percaya diri dalam menjalani hidup ini.

Karena itu, caranya adalah memperbaiki penampilan. Seolah-olah penampilan yang keren akan membuat orang bahagia. Sialnya, ternyata tidak.

Apa yang mesti dilakukan? Yang mesti dilakukan adalah upaya menerima diri apa adanya. Yang mesti dilakukan adalah membangun rasa percaya diri dari dalam diri. Yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan perasaan hati.

Mari kita terus-menerus membangun hidup kita, agar kita mampu menjalani hidup ini dengan baik dan benar.

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here