Memberi Hidup bagi Sesama

0
88 views
Ilustrasi: Belarasa. (Ist)

BANYAK orang zaman kini sedang lapar. Mereka tampak beringas. Bisa-bisa sesama manusia diterkam sama mereka.

Mengapa mereka begitu lapar? Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Namun satu hal yang jelas adalah mereka sedang kehilangan kasih. Tidak ada orang yang rela membagikan kasih kepada mereka. Padahal semakin banyak kasih itu dibagikan, semakin berlimpah ruah pula kasih itu.

Egoisme telah mengerdilkan kasih. Cinta diri yang berlebihan telah membuat banyak orang merasa lapar. Ketiadaan kasih membuat banyak orang bringas dan berusaha untuk menguasai orang lain.

Sudah lama seorang gadis terlunta-lunta di jalanan kota. Pakaiannya compang-camping dan kumal. Rambutnya awut-awutan. Tubuhnya berbau tidak sedap. Padahal ia seorang gadis cantik.

Mengapa terjadi begitu? Karena harta milik kedua orangtuanya telah dirampas oleh paman-pamannya. Sejak ia kehilangan kedua orangtuanya dalam suatu kecelakaan, gadis itu tidak boleh tinggal di rumah warisan orangtuanya. Paman-pamannya telah menguasai rumah dan harta kekayaan lain peninggalan kedua orang tuanya.

Suatu hari, gadis itu ditemukan sepasang suami isetri yang melewati trotoar kota. Mereka membawanya ke rumah mereka. Setelah dimandikan, ia diberi makan dan minum.

Itulah pertama kali ia mandi setelah diusir dari rumahnya. Ia diberi pakaian yang baru. Jadilah ia seorang gadis cantik yang disayangi keluarga yang sudah punya lima orang anak itu.

Ia berkata, “Kalau saja keluarga ini tidak menemukan saya, mungkin saya sudah mati. Waktu itu, seharian saya tidak dapat apa-apa dari mengemis. Tubuh saya jadi lemas.”

Baginya, keluarga yang menyelamatkannya adalah pahlawan. Ia kemudian mendapatkan kasih sayang yang sama dengan lima orang anak dari keluarga itu. Ia bisa kembali ke bangku sekolah. Ia boleh menuntut ilmu seperti anak-anak yang lain.

Iman yang hidup
Tindakan sepasang suami istri ini ternyata memiliki dasar iman yang kuat. Iman itu ingin mereka hidupi dalam perjalanan hidup yang konkrit. Dengan demikian, iman berbuahkan kasih bagi sesama yang menderita.

Dalam kisah di atas, keluarga yang menemukan gadis itu tidak pernah merasa lapar atau haus meski mereka mesti mengeluarkan anggaran tambahan untuk gadis itu. Ia bisa sekolah. Ia bisa hidup dalam keluarga itu yang tentu saja membutuhkan banyak biaya. Tetapi justru yang didapatkan keluarga itu adalah berlimpah-limpahnya rahmat dari Tuhan. Gadis itu pun belajar untuk membagikan kasih kepada sesama.

Kasih itu semakin berlimpah ruah, ketika dibagi-bagikan kepada sesama. Dalam salah satu pengajaranNya, Yesus berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” sabda Tuhan Yesus (Yoh. 12:24).

Yesus mempersembahkan diriNya, agar manusia yang sudah mati oleh dosa Adam dapat memperoleh kehidupan. Tuhan memberi diriNya dengan cinta yang sama yang Ia tunjukkan di atas kayu salib. Pemberian cinta Yesus menjadi contoh, bagaimana umat manusia mesti memberi diri bagi sesama.

Mari kita saling memberi diri dengan kasih bagi sesama, terutama mereka yang sedang menderita. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan sesama. Tuhan memberkati.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here