Membongkar Bait, Mencari Allah

0
2,316 views

Jika kita merenungkan peristiwa Yesus mengusir para pedagang di Bait Allah, yang aneh adalah Yesus, bukannya ditangkap karena mengacau, tetapi malah ditanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Artinya tindakan Yesus tidak dilihat sebagai gangguan dan kekacauan, tetapi merupakan suatu tindakan kenabian yang mau menyatakan sesuatu dari Allah.  Sambil menunjuk kepada meja dan uang yang berantakan Yesus menyatakan: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Jawaban ini sangat mengejutkan. Disamping kitab Taurat yang memuat X Perintah Allah, tanda ikatan perjanjian Allah dengan umatNya; Bait Allah adalah tanda kehadiran Allah di tengah umatNya. Bagi bangsa Israel pada waktu itu, melaksanakan Hukum Taurat dan beribadat di Bait Allah menjadi tanda jaminan keselamatan bagi mereka. Tetapi dalam praktek, ibadat di Bait Allah menjadi beban yang memberatkan orang banyak. Hewan kurban yang harus sempurna dan tak bercacat, membuat orang terpaksa membelinya dengan harga mahal di Bait Allah; dari pada membawa sendiri dengan resiko ditolak. Uang romawi adalah uang kafir yang najis. Maka jual beli ternak harus memakai uang halal. Karena penukaran dimonopoli petugas Bait Allah, maka nilai tukar menjadi sangat tinggi. Melaksanakan Ibadat di Bait Allah menjadi beban yang merepotkan dan menyusahkan. Allah tidak dijumpai sebagai yang membebaskan dan memberi kedamaian hidup; Allah adalah yang harus dilayani agar manusia mendapat berkat dan bukannya hukuman.. Hal itu yang ingin dibongkar Yesus dan diganti dengan diriNya; tanda kasih Allah yang mau menyelamatkan manusia dengan harga berapapun juga; sampai mengurbankan PutraNya sendiri.

Usaha Yesus diteruskan oleh Gereja. Paulus mencoba mewartakan Yesus yang tersalib kepada umat Korintus dan itu tidak mudah. Orang-orang Yahudi mencari mukjijad tanda kehadiran Allah. Orang Yunani mencari ilmu dan mantra rahasia untuk menemukan Allah. Mereka menolak warta Paulus tentang Yesus yang tersalib. Orang Yahudi melihat salib sebagai tanda kegagalan. Orang Yunani melihat salib sebagai tanda kebodohan. Usaha Gereja masih berlangsung sampai sekarang. Manusia modern, juga orang-orang Katolik mencari Tuhan dan keselamatan lewat mukjijad dan doa-doa yang manjur; juga melalui ilmu ramal yang ilmiah. Salib dan penderitaan sering dilihat sebagai tanda hukuman Tuhan atau kebodohan. Hari gini cari penderitaan? Apa kata dunia? Kita mencari jalan yang mudah dan pasti untuk mendapat keselamatan. Itu adalah gaya budaya instant dunia modern. Jangan repot, jangan susah-susah. Situasi kita belum berubah banyak selama 2000 tahun ini. Kita masih cenderung mencari keselamatan dari Allah demi kepentingan kita. Allah adalah sebuah fungsi untuk menjamin keselamatan. Jika Allah tidak dapat berfungsi seperti yang kita harapkan, ada banyak tempat dan cara lain yang dapat memenuhi kebutuhan kita akan keselamatan. Tuhan yang tersalib hanya dapat kita temukan jika kita punya hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang tersalib bukan sebuah fungsi yang menguntungkan saya. Hubungan itu hanya ada artinya kalau kita dekat dan berelasi akrab dengan Dia. Dalam kedekatan itu, penderitaan, kesusahan dan sengara kita punya makna rohani bagi hidup kita; bukan sekedar nasib sial, kebodohan atau hukuman.

Mengikuti Yesus yang tersalib bagi kita dalam hidup sehari-hari pada umumnya berbentuk ketabahan dalam penderitaan dan perjuangan dan kesediaan untuk melayani. Yang harus dibongkar dari hidup kita adalah kecenderungan untuk cari enak dan mudah serta keinginan untuk pamer dan pamrih. Hal ini dapat terjadi dalam kegiatan hidup keagamaan maupun dalam hidup sehari-hari. Cara mengukurnya sebenarnya mudah sekali. Apakah kegiatan yang kita lakukan, lebih banyak untuk kepentingan dan kebaikan bersama dan orang banyak atau lebih menguntungkan untuk diri kita sendiri dan membebani orang lain? Cara kita hadir, berdoa, bernyanyi dalam ibadat, lebih membantu orang lain untuk bertemu dengan Tuhan atau tidak? Cara kita bekerja, bergaul dalam masyarakat, lebih membantu dan memudahkan hidup orang lain atau tidak?

Tiga orang tukang batu nampak sibuk. Mereka semua sedang menyusun batu bata. Ketika ada yang menanyakan apa yang sedang mereka kerjakan. Tukang batu pertama yang dari tadi nampak mengomel menjawab dengan kesal, Apa kamu tak lihat, saya sedang sibuk menyusun batu bata Tukang batu kedua berdesah, Saya sedang mencari nafkah untuk hidup. Anehnya tukang batu ketiga justru bersiul-siul. Wajahnya pun nampak berseri-seri. Saya sedang membangun katedral, katanya.

Cerita sederhana mengenai tukang batu di atas sebenarnya dapat juga mewakili apa yang terjadi di tempat kerja. Ada karyawan yang setiap hari tak pernah berhenti mengeluh. Ia merasakan pekerjaannya sebagai sesuatu yang rutin dan membosankan. Orang ini gagal menemukan makna dibalik pekerjaannya. Orang kedua sudah mulai dapat melihat makna pekerjaannya, tetapi semuanya itu hanya untuk memenuhi kebutuhannya sekarang ini. Orang ketiga begitu bersemangat karena ia merasakan makna pekerjaannya yang jauh lebih besar dari sekedar kegiatan fisiknya. Ia sadar bahwa hasil pekerjaannya bukanlah sekedar untuk dinikmati di masa sekarang, tetapi untuk masa-masa mendatang, bahkan setelah ia meninggalkan dunia yang fana ini. Inilah yang disebut leaving a legacy (meninggalkan warisan).

Leaving a Legacy merupakan kebutuhan manusia yang tertinggi setelah kebutuhan fisik (to live), kebutuhan sosial emosional (to love) dan kebutuhan mental (to learn). Inilah kebutuhan untuk menemukan makna di balik apa yang kita lakukan sekarang. Lihatlah pekerjaan Anda. Apa maknanya bagi Anda?

Kalau yang Anda cari hanyalah aspek fisiknya yaitu sekedar mencari nafkah, berarti Anda baru ada di tingkat pertama yaitu: to live. Namun banyak juga orang yang bekerja bukan semata-mata karena uang, tetapi karena membutuhkan lingkungan bergaul dan bersosialisasi. Orang itu sudah berada di tingkat kedua yaitu: to love. Bagi Anda yang tergolong high achiever, pekerjaan yang baik bukanlah yang sekedar memberikan penghasilan dan sosialisasi yang memadai. Pekerjaan tersebut juga harus memberikan tantangan dan kesempatan untuk terus belajar. Menurut Herzberg, penghasilan yang memadai dan lingkungan kerja yang menyenangkan saja belum akan mendatangkan kepuasan kerja (job satisfaction). Kedua hal tersebut hanya akan menghindarkan Anda dari ketidakpuasan kerja (job dissatisfaction). Anda tak akan mendapatkan kepuasan kerja bila Anda hanya melakukan sesuatu yang rutin dan mudah. Anda membutuhkan tantangan karena hanya dengan tantangan inilah Anda dapat terus maju dan berkembang. Inilah tingkatan ketiga yaitu: to learn.

Tingkatan yang keempat yaitu to leave a legacy (meninggalkan warisan) berada di atas itu semua. Anda bekerja karena pekerjaan Anda tersebut memberikan (kontribusi) kepada orang lain. Anda bekerja karena hal itu dapat meningkatkan kualitas hidup orang lain: membuat mereka menjadi lebih baik, lebih produktif, lebih sukses, lebih bahagia, lebih maju dan seterusnya. Apapun yang Anda lakukan senantiasa dimaknai dalam konteks membantu orang lain untuk maju.

Tingkatan keempat inilah yang akan begitu menggairahkan kita untuk bekerja. Inilah yang akan memberikan kepuasan kerja yang tak ada taranya. Inilah yang akan membuat keberadaan Anda di dunia ini jauh lebih lama melebihi usia yang mungkin diberikan Tuhan kepada Anda. Inilah sumbangan kebaikan yang akan terus mengalir dari Anda sekalipun Anda telah meninggalkan dunia yang fana ini.

Lantas, pekerjaan macam apa yang dapat membuat Anda mencapai tingkatan keempat ini? Jawabnya, semua jenis pekerjaan yang baik, asalkan dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Pekerjaan tersebut memang masih tetap sama secara fisik, tetapi dengan niat yang tulus makna pekerjaan ini sekarang telah jauh melampaui bentuk fisiknya. Sebuah pekerjaan sederhana seperti tukang sapu memang hanya bermakna fisik bila dilakukan sekedar untuk memidahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi pekerjaan itu akan bermakna spiritual kalau diniatkan untuk menciptakan suasana kerja yang bersih yang menimbulkan semangat dan kegairahan semua orang untuk mencapai produktivitas.

Seorang pengarang Lord Hallifax pernah mengatakan, A Service is the rent that we pay for our room on earth. Pelayanan adalah harga yang harus kita bayar untuk tempat kita di bumi. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang sudah tua dan renta yang sedang menanam pohon mangga. Melihat hal itu tetangganya keheranan dan bertanya, Apakah Bapak berharap dapat makan buah mangga dari pohon ini? Si kakek menjawab, Memang tak mungkin, mengingat umurku sekarang ini. Tapi saya telah menikmati banyak buah mangga yang ditanam orang lain. Saya hanya mencoba untuk membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi yang akan datang.

Ada banyak pekerjaan yang memberikan manfaat kepada orang lain melebihi umur kita sendiri; bahkan melampaui kendala ruang dan waktu. Seorang penemu listrik misalnya, telah membawa kesejahteraan bagi umat manusia sedunia sampai sekarang ini dan di masa depan. Seorang penemu roda telah memudahkan hidup begitu banyak manusia. Semua penemu benda-benda yang telah memudahkan hidup manusia ini masih terus memberikan manfaat kepada dunia sekalipun mereka telah lama tiada.

Para ilmuwan, para guru, para penulis buku, mereka punya peluang untuk hidup lebih lama daripada usia mereka sendiri. Selama masih ada orang yang mengamalkan ilmu mereka yang mungkin dapat diwariskan dari generasi kegenerasi, selama masih ada orang yang menjadi lebih baik, lebih sabar dan lebih arif karena membaca karya-karya mereka, selama itu pula tabungan-tabungan kebaikan itu akan mengalir kepada mereka.

Begitu juga seorang seniman, musisi, penyanyi, pemain drama, dan lain-lain. Kalau mereka dapat menciptakan musik-musik yang menggugah orang untuk melakukan kebaikan, menghibur orang ke arah yang positif, mengingatkan orang akan Tuhan dan sebagainya, mereka akan terus dikenang yang melampaui ruang dan waktu. Seorang ibu yang sederhanapun dapat memberikan sumbangan yang tak ternilai kepada dunia berupa putra-putri yang baik yang selalu mengajak orang untuk berbuat kebaikan, dan pada saatnya nanti akan melahirkan generasi penerus yang baik. Tabungan kebaikan si ibu ini akan terus mengalir dari generasi ke generasi melampaui kendala ruang dan waktu.

Kualitas kita bukanlah ditentukan oleh lamanya kita hidup, bukan pula oleh pangkat dan posisi kita, tetapi oleh dampak yang kita berikan kepada dunia. Orang yang terbaik adalah orang yang paling banyak memberikan dampak kepada orang lain. The Best of You is The Most Advantageous One. Inilah kriteria orang yang sukses. Ukuran kesuksesan bukanlah ketika kita hidup, melainkan ketika kita telah meninggalkan dunia yang fana ini. Bukan berapa banyak yang kita capai, tetapi berapa banyak pengaruh positip hidup dan tindakan kita pada orang lain.

Bagaimana kita menjalani hidup keagamaan kita? Seperti dari contoh tadi, kita dapat mengukur, tingkat semangat kerja kita, juga kita dapat mengukur tingkat semangat penghayatan hidup rohani kita Sekedar menjalani Ibadat sebagai kewajiban rutin? Ikut APP karena suka kumpul-kumpul dan bersosialisasi? Ingin mencapai tingkat kesucian dengan puasa, doa dan amal? Atau menjalani dan menata hidup agar dapat hidup lebih dekat dengan Tuhan dan memancarkan wajah Kristus kepada masyarakat di sekitar kita?

Minggu ini kita diajak untuk mulai lebih sungguh-sungguh memeriksa pertobatan kita. Mengalami firdaus di padang gurun bersama Yesus dan memancarkan kemuliaan Allah dalam perjalanan pertobatan kita hanya akan terjadi jika kita sungguh mau mengambil langkah untuk membongkar bait-bait berhala kita yang membuat kita berpusat pada diri kita sendiri. Jalan salib, puasa dan pantang, derma APP dan pertemuan KBG adalah alat bantu bagi kita untuk berlatih. Mempersiapkan Paskah dalam latihan koor dan segala kegiatan kepanitiaan dan perjuangan hidup sehari-hari adalah tempat kita berlatih. Tuhan Yesus menunggu kita untuk ikut memikul salibNya bersamaNya. Kita mendapat kesempatan untuk belajar dan berlatih mengalami kasih Allah. Dengan mengosongkan diri kita memberi Allah tempat dan kesempatan untuk membangun kita kembali. Kita akan lebih bahagia dan memancarkan wajah Kristus kepada dunia. Itu lah makna masa Prapaska ini. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here