Memperbincangkan Kesehatan Remaja di The 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi – India (2)

0
132 views
Ilustrasi (Ist)

PAGI itu Sabtu, 28 Oktober 2017 kami terbangun di kamar 209 Hotel Bloomrooms di 8591 Arakashan Road, New Delhi, India dengan bugar. Segera kami santap sarapan menu asli India yang kali ini dapat kami nikmati dalam rasa yang penuh rempah, lalu lanjut bergegas akan mengikuti Th di hari kedua, di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi.

Seperti hari sebelumnya, segera kami menikmati nuansa khas kota New Delhi sebagai Ibukota India. Batu fondasi kota itu diletakkan oleh George V, Kaisar India tahun 1911. New Delhi dirancang oleh arsitek Inggris, Sir Edwin Lutyens dan Sir Herbert Baker dan diresmikan pada tanggal 13 Februari 1931, oleh Raja Muda atau Viceroy dan Gubernur Jenderal India, Lord Irwin yang bernama asli Edward Frederick Lindley Wood.

New Delhi dengan jumlah penduduk 26.454.000 jiwa pada tahun 2016, telah dipilih sebagai salah satu dari seratus kota di India, yang akan dikembangkan sebagai kota cerdas di bawah kepemimpinan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Delhi Metro

Setelah kami berjalan kaki sekitar 11 menit sejauh 750 m dari hotel, kami mencapai Delhi Aero City Airport Line Station di New Delhi Platform 2. Delhi Metro adalah sistem metro terbesar ke-12 di dunia dalam hal panjang jalan. Delhi Metro adalah sistem transportasi umum modern pertama di India, yang telah merevolusi perjalanan dengan menyediakan sarana transportasi yang cepat, terpercaya, aman, dan nyaman.

Baca juga: Memperbicangkan Kesehatan Remaja di New Delhi (1)

Saat ini, jaringan Metro Delhi terdiri dari 213 kilometer (132 mil) jalur, dengan 160 stasiun beserta enam stasiun lagi dari Airport Express Link. Empat jenis kerata rolling stock yang digunakan, yaitu Mitsubishi-ROTEM Broad gauge, Bombardier MOVIA, Mitsubishi-ROTEM Standard gauge, dan CAF Beasain Standard gauge.

Delhi Metro telah membantu menghapus sekitar 390.000 kendaraan pribadi dari jalanan Delhi. Projek Delhi Metro dipelopori oleh Padma Vibhushan E. Sreedharan, managing director DMRC (Delhi Metro Rail Corporation Limited) dan dikenal sebagai “Metro Man” dari India. Ia dikenang saat mengundurkan diri dari DMRC, mengambil tanggungjawab moral atas jatuhnya jembatan metro yang menewaskan lima nyawa. Dengan tiket seharga Rs 60 dan 2 kali perhentian, yaitu di Shivaji Stadium dan Dhuala Kuan, kemudian kami turun di Delhi Aerocity Station dilanjutkan berjalan kaki ke lokasi acara di Hotel Pullman, sekitar 11 menit sejauh 850 m.

Paparan materi diskusi

Segera kami mengikuti plenary sessions hari kedua dengan keynote lecrture oleh Dakhshita Wickremarathne (Youth Advocacy Network, Sri Lanka) dengan tema “Herb Friedman Lecture: Young People Changing the Future of Adolescent Health”,  sebuah kuliah yang inspiratif dan Kate Gilmore (Office of the High Commissioner for Human Rights, Switzerland) dengan tema “Migration and Adolescent Health” yang menceritakan pengaruh proses pengungsian karena bencana kemanusiaan.

Selanjutnya Ravi Verma, (International Center for Research on Women, India) dengan tema “Towards a Gendered Approach to Adolescent Health”  yang menjelaskan tingginya angka kejahatan pada wanita di India dan Anne-Sophie Parent (University of Liège, Belgium) dengan tema “Puberty: New Insights”  yang banyak mengubah cara pandang tentang pubertas pada remaja.

Sesi debat antar pakar hari kedua tidak terlalu menarik perhatian peserta, karena tema ‘Brain imaging has made a negligible contribution to adolescent care and health promotion’  dipimpin oleh David Ross (World Health Organization, Switzerland). Debat hari itu menampilkan Russell Viner dengan Sarah-Jayne Blakemore, keduanya dari UCL, UK.

Kami selanjutnya menikmati Plenary Symposium dengan tema “A Lancet Standing Commission on Adolescent Health and Wellbeing: Meeting the Challenge of Global Adolescent Health.” Panel ahli oleh George Patton (University of Melbourne Australia), Marleen Temmerman (Aga Khan University Kenya), Kikelomo Taiwo (Amnesty International New York. USA), dan  Sabine Kleinert  (The Lancet UK).

Panel ahli yang memberikan penjelasan saling melengkapi tersebut, disusul panel kedua yang bertema “Mental Health and Adolescents.” Kali ini panel ahli melibatkan Vikram Patel (Harvard Medical School, USA), Meghna Khatwani (Ambedkar University India), dan Eugene Kinyanda (MRC Uganda) yang lebih hidup dan banyak humor.

Sungai Yamuna

Setelah sesi makan siang, kami melanjutkan perjalanan untuk melihat Sungai Yamuna yang mengalir dari gletser Yamunotri pada ketinggian 6.387 meter. Sungai ini melintasi beberapa negara bagian di India, yaitu Uttarakhan, Haryana dan Uttar Pradesh melewati Himachal Pradesh dan kemudian masuk ke Delhi. Sungai ini semakin besar setelah beberapa anak sungainya, termasuk Ton, Chambal, Sindh, Betwa, dan Ken bergabung.

Hampir 57 juta orang bergantung pada air Sungai Yamuna. Sama seperti Sungai Gangga, Sungai Yamuna juga sangat dihormati dalam agama Hindu dan disembah sebagai Dewi Yamuna. Dalam mitologi Hindu, mandi di air suci sungai ini akan membebaskan seseorang dari siksa maut. Namun demikian, kualitas air di sungai Yamuna yang membelah Delhi, sudah sangat parah.

Dari langit di atas hingga tanah ke bawah, Delhi telah sangat tercemar. Wilayah India yang meliputi Ibukota New Delhi hanya berukuran setengah dari Rhode Island, tetapi merupakan rumah bagi dua kali penduduk kota New York. Semua berkontribusi terhadap kabut kuning tebal di atas kota setiap hari. Bahkan sungai suci Yamuna tidak terbebas dari polusi yang parah.

Sungai kedua setelah Sungai Gangga tersebut mengalir sepanjang 1.376 km melalui India, 80% dari pencemaran di sungai telah masuk sepanjang 14 mil (22,5 kilometer) sebelum melewati Delhi. Erosi tanah dan pembuangan limbah kimia meninggalkan perairan hitam di beberapa tempat dan lapisan putih di tempat lainnya.

Namun demikian, banyak anak tetap bermain air, pria mencuci baju, orang dari segala usia mandi dan minum dari sungai yang diyakini akan membebaskan mereka dari dosa. Setelah mengambil foto dari sebuah sisi Sungai Yamuna yang penuh perjuangan, karena medan yang terjal dan tidak tersedia dermaga yang pas untuk berfoto, kami menuju Akshardham, sebuah  kompleks kuil Hindu yang megah dan sangat besar di seberang sungai Yamuna di pinggiran Delhi.

Disebut juga sebagai Delhi Akshardhamatau Swaminarayan Akshardham, kompleks ini menyimpan berbagai arsitektur, spiritual, budaya India dan Hindu tradisional. Pembangunannya diinspirasikan dan dikembangkan oleh Pramukh Swami Maharaj, kepala spiritual Bochasanwasi, bersama dengan 3.000 sukarelawan dibantu 7.000 pekerja konstruksi Akshardham. Kuil sangat megah tersebut dikunjungi sekitar 70 persen dari seluruh wisatawan yang berkunjung ke Delhi, sejak secara resmi dibuka pada 6 November 2005. Kami harus rela berebut posisi dengan para peziarah lain, untuk berswafoto dengan sudut pengambilan terbaik.

Birla Bhavan

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Gandhi Smriti, yang sebelumnya dikenal sebagai Birla House atau Birla Bhavan. Gandhi Smitri adalah museum yang didedikasikan untuk Mahatma Gandhi, terletak di Tees January atau Albuquerque Road, di New Delhi, India. Ini adalah lokasi di mana Mahatma Gandhi menghabiskan 144 hari terakhir hidupnya dan dibunuh di situ pada tanggal 30 Januari 1948.

Awalnya adalah rumah konglomerat bisnis India, keluarga Birla. Rumah 12 kamar tidur ini dibangun pada tahun 1928 oleh Ghanshyamdas Birla. Sardar Patel dan Mahatma Gandhi, keduanya adalah tokoh penting kemerdekaan India, sering menjadi tamu Birlas. Jawaharlal Nehru, PM India kemudian menulis surat kepada Ghanshyamdas Birla dan akhirnya Rumah Birla dibeli pada tahun 1971 oleh Pemerintah India, seharga Rs 5,4 juta.

Birla House dibuka untuk umum pada tanggal 15 Agustus 1973, berganti nama menjadi Gandhi Smriti (atau Gandhi Remembrance). Museum di gedung ini menampung sejumlah artikel yang terkait dengan kehidupan dan kematian Gandhi. Pengunjung dapat berkeliling ke gedung dan lapangan, melihat ruang yang diawetkan tempat Gandhi tinggal dan tempat di lapangan dimana dia ditembak saat berdoa malam. Gandhi ditembak saat bersemedi di tempat yang sekarang didirikan Martyr’s Column, yang menandai tempat “Bapak Bangsa India” dibunuh.

Setelah terinspirasi oleh kepemimpinan Mahatma Gandhi yang mengutamakan harmoni, kami segera berlanjut ke Indira Gandhi Memorial Museum di  1 Safderjang, New Delhi yang merupakan Museum Peringatan untuk PM Indira Gandhi dan bekas rumah kediaman keluarga. Pengunjung dapat melihat koleksi foto-foto langka gerakan nasionalis, saat-saat pribadi keluarga Nehru-Gandhi dan masa kecilnya. Rumah ini adalah kediaman resmi Indira Gandhi, Perdana Menteri India terlama yang bertugas dari tahun 1966 sampai 1977 dan lagi pada tahun 1980 sampai 1984.

Sebagai penguasa sebuah negara muda yang sedang bergolak, Nyonya Gandhi membuat banyak keputusan yang sulit dan kadang harus tidak populer. Yang utama adalah kebijakan politik pada tahun 1984 berupa ‘Operation Blue Star’, yaitu invasi militer ke Kuil Emas di Armitsar. Selama intervensi militer sepekan penuh, tentara India membunuh ratusan warga sipil tak berdosa di lokasi yang paling suci bagi minoritas Sikh India. Operasi tersebut bertepatan dengan hari besar keagamaan, sehingga tentara dan pemerintah dituduh menutupi banyak kegiatan mengerikan yang terjadi di situ.

Operasi Blue Star membuat marah warga Sikh di seantero negeri. Pada suatu pagi di bulan Oktober 1984, saat Indira berjalan kaki melalui kebun rumahnya, dia dibunuh oleh pengawalnya sendiri,  seorang Sikh.

Beberapa langkah terakhir yang dia jalani pada jalur itu sekarang ditutupi kaca, dan pengawal pribadi orang Sikh masih harus berdiri di posisi yang sama dengan dulu. Ini adalah peringatan menyedihkan dalam sejarah negara ini.

Putera Indira Gandhi, Rajiv, mengambil alih posisi sebagai Perdana Menteri India setelah pembunuhannya. Sayangnya, dia juga terbunuh. Pada tahun 1991, seorang pembom bunuh diri seorang separatis Tamil dari Sri Lanka, Thenmuli Rajaratnam, meledakkan sebuah bom ikat pinggang sambil membungkuk untuk menyentuh kakinya (tanda penghormatan dalam tradisi di India), membunuh Rajiv dan setidaknya empat belas lainnya.

Rajiv Ratna Gandhi lahir di Mumbai, 20 Agustus 1944 dan meninggal di Sriperumbudur, 21 Mei 1991 (pada umur 46 tahun) adalah anak tertua Indira dan Feroze Gandhi. Rajiv adalah Perdana Menteri India yang keenam dan ketiga dari seluruh keluarganya, melalui pemilihan umum (a general election defeat). Ia menjabat Perdana Menteri India ketika berusia 40 tahun, sehingga ia tampil sebagai yang paling muda saat menduduki jabatan perdana menteri. Setelah terkagum dengan perjuangan dan kepemimpinan keluarga besar Nehru-Gandhi, kami segera berniat bersujud berdoa syukur.

Sacred Heart Cathedral New Delhi (Ist)

Kemudian kami mengikuti perayaan misa kudus Sabtu sore pk. 18 di Katedral Hati Kudus atau The Cathedral of The Sacred Heart’,  yang merupakan katedral agama Katolik Roma yang tergabung dalam Ritus Latin. Gereja Katedral di Keuskupan Agung Delhi yang dipimpin oleh Uskup Agung Mgr. Anil Joseph Thomas Couto, merupakan salah satu bangunan gereja tertua di New Delhi, India.

Bersama dengan Sekolah St. Columba dan Biara Yesus dan Maria, semuanya menempati area seluas 14 hektar di dekat ujung selatan Bhai Vir Singh Marg Road di Connaught Place. Gedung gereja dirancang oleh arsitek Inggris Henry Medd dan didasarkan pada arsitektur Italia. Sebuah fasad pilar putih mendukung kanopi, dan di setiap sisi teras masuk katedral, ada menara-menara kecil melingkar yang naik di atas atap.

Interiornya memiliki atap melengkung yang menjulang tinggi, lantai batu yang dipoles dan lengkungan yang lebar. Di balik altar yang terbuat dari marmer terdapat lukisan dinding  besar yang menggambarkan Perjamuan Terakhir. Di sebelah kiri di sisi kapel ada sebuah salib besar, di sampingnya ada sebuah patung Perawan Maria.

Kami mengikuti misa kudus dalam Bahasa Inggris, yang dipimpin oleh pastor kepala parokinya, yaitu Fr. Januario Rebello.

United India Insurance

Setelah misa kudus, secara kebetulan kami berbincang dengan Dr. Sunil Mahra yang terkesan dengan mondolan blangkon gaya Ngayogyokarto Hadiningrat yang kami kenakan, dan bekerja pada ‘Health Instutute for Mother and Child’ New Delhi (semoga kami tidak salah ingat dan salah tulis nama dan institusi tersebut). Penjelasannya menggambarkan bahwa India memiliki tingkat terendah dari pengeluaran publik untuk layanan kesehatan di dunia, dengan tax -based sangat kecil, yaitu hanya 5,5%.

Sementara itu Pemerintah India berturut-turut telah mensubsidi sektor swasta dengan keringanan pajak. Bahkan India kini menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes dan penyakit kronis terbesar di dunia, karena kurangnya layanan kesehatan pencegahan, ditambah dengan sedikitnya pengelolaan penyakit kronis, sehingga menyebabkan layanan kesehatan semakin mahal dan menambah beban dalam sisi keuangan warga.

Satu solusi untuk keluar dari siklus yang memiskinkan ini adalah dengan merancang asuransi sosial di India, yaitu ‘United India Insurance’, yang didasari ideologi sistem kesehatan kapitalis, yaitu sebagian besar dikuasai swasta.

Pemerintah India tidak menyelenggarakan program kesehatan, skema dan pendanaan sendirian, tetapi dalam kemitraan dengan lembaga keuangan dunia. Selain itu, juga membentuk sistem layanan di sekitar warga, yaitu menghadirkan layanan kesehatan lebih dekat dengan warga,* sehingga tidak mewajibkan pasien untuk datang ke rumah sakit. Namun demikian,  pelatihan dibutuhkan untuk implementasi program tersebut.

Contohnya, program ‘Social Health Activist’ di India, yang telah mendidik lebih dari 1 juta petugas kesehatan. Selain itu, hal yang harus dilakukan adalah memungkinkan pasien penyakit kronis untuk dapat *memonitor sendiri kondisi kesehatan mereka, seperti harapan Mario Gutierrez, direktur eksekutif ‘Center of Connected Health Policy’, di mana dokter menjadi bagian dari tim, bukan lagi sebagai pusat sistem layanan kesehatan.

Di India, urusan bidang kesehatan berada di bawah Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan. Jadi, program yang dijalankan tidak hanya terkait kesehatan, tapi juga kesejahteraan dan mengakui pengobatan alternatif seperti Ayurveda dan Homeopathy dalam sistem kesehatannya.* India memiliki sistem kesehatan untuk ’rural’ bagi warga pedesaan dan ‘urban’ bagi warga perkotaan.

Di beberapa kota terdapat ‘urban health centre’ yang berfungsi sebagai poliklinik umum, dan biasanya memiliki pusat pengobatan tuberkulosis (DOTS centre), ‘community care centre’, tempat khusus untuk pasien dengan HIV/AIDS, dan tempat perawatan untuk pasien kusta dalam dukungani ‘Mahatma Gandhi Leprosy Foundation’ (MGLF).

Setelah makan malam menu ‘vegetarian rice’ seharga Rs160 dan ‘fish tikka’ seharga Rs 420 dan ‘mix vegetarian jalfraji’ seharga 170 di Chimney Restaurant (Indian, Mughalai and Chinese) di 68 Khana Market, Lodhi Colony New Delhi, kami kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.

Malam itu kami merasakan kepuasan mendalam, dengan berbagai pengalaman yang inspiratif bagi layanan kesehatan remaja di Indonesia, tidak hanya dari the 11th World Congress on Adolescent Health.  (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here