Menangisi Kesombongan dan Kerapuhan

1
1,583 views

MANUSIA pada dasarnya memiliki sifat dan sikap sombong yang sering dia lakukan tanpa sadar sepenuhnya. Padahal, kita tahu itu secara persis bahwa sombong itu sangat bertentangan dengan nilai injili sebagaimana diajarkan Yesus.

Setiap hari kita sudah terbiasa  mendengarkan homili  pastur. Pun pula, kita juga bisa membaca Injil atau bacaan rohani dengan maksud agar bisa membangkitkan semangat dan membangun spiritualitas. Tujuannya agar kita bisa bertumbuh dewasa,  mengakar sehingga kita mempunyai kwalitas iman yang benar-benar sungguh bertumbuh.

Tentu pertanyaanya: Apakah hanya sekedar tahu dan hanya membcanya saja? Kalau yang begini ini tentu saja setiap orang akan mudah melakukannya.

Harapan Yesus
Banyak hal dan perkara yang sudah diajarkan oleh Yesus untuk  kita. Misalnya saja kita diharapkan bisa membawa diri sebagai orang sabar,  penuh kasih, suka cita,  pembawa damai, murah hati, bisa menguasai diri, sabar, dan  rendah hati.

Namun sering  di tengah kesibukkan kita dalam suatu komunitas yang beraneka ragam ternyata kita akan menjumpai duri dan onak  menimpa. Kita sudah melakukan kegiatan dan pelayanan dengan sungguh tanpa pamrih, kita lakukan itu dengan tulus. Namun toh tetap saja ada orang yang kurang suka. Malah, niat baik itu kemudian menjadi bahan olok-olok dan ujung-ujungnya kita jadi bahan gosip: apakah itu ditunduh carmuk atau ingin mendapatkan pujian dan masih banyak lagi.

 Menguasai diri

Bila demikian situasinya, maka sering rasa sakit hati, jengkel, marah akan menguasai  kita. Kita dibuat mendidih hati. Tanpa terasa air mata mengalir deras dari sudut kelopak mata. Menangis dan menangis, itulah yang sering kita lalukan kalau menghadapi kebuntuan dan kejengkelan.

Apakah dengan situasi demikian kita lantas dengan mudahnya ambruk dan menjadi terpuruk?

Sedih dan menangis bagi kaum perempuan memang selalu saja merupakan  keadaan hati yang gak nyaman. Sekalipun tetap manusiawi, tapi yang mengalami kondisi batin seperti ini pastilah juga merasa kurang oke. Nah, di sinilah dibutuhkan kebesaran jiwa dan kematangan emosi untuk mengolah emosi yang tidak oke ini. .

Bangkit dan tersenyum atas peristiwa tersebut memang bukan suatu hal yang mudah, tapi harus ada niat bahwa aku bisa melewati peristiwa tersebut.

Seperti pengalamanku sendiri. Ini memang terasa menyesakkan hati, ketika ada cerita sana-sini yang ujungnya hanya memojokan pribadiku. Saat mana aku merasa tidak kuat dan ingin berbalik mundur, nah ada teman baik –seorang imam—yang menasehati dengan cara sederhana saja.

“Mbak,  kamu harus bangkit. Mbak, kamu harus belajar menjadi pribadi seorang lelaki, bisa sedikit menjadi cuek. Nah, .buat apa menangis? Itu toh .hanya buang energi dan juga tidak penting?,” kata romo itu menghiburku.

“Mengapa  harus menangis lantaran rumor tidak benar tersebut? Apakah dengan menangis, kekayaan bertambah?,” tambah romo itu dengan nasehatnya yang menghentak kesadaran rasionalku.

Belajar mengampuni

Benar juga, kesadaran rasionalku akhirnya membantuku bisa menjadi ‘pulih’ kembali.

Hanya  satu kata yang akhirnya bisa kuucapkan: “Kasihanilah dia ya tuhan karena dia tidak tau apa yang sudah dikatakannya dengan membuat suatu cerita yang menyakitkan hati orang lain. Apalagi kisah itu tidak benar juga.”

Ternyata rasa sombong diri seseorang bisa untuk menjatuhkan orang lain. Orang tega berbuat begini karena barangkali dia merasa diri yang paling benar. Berikutnya, lalu ambil jalan pintas dengan cara mendiskreditkan orang lain.

Sekali waktu, bisa juga kita akan menjumpai orang-orang yang menganggap diri sudah paling berjasa. Nah, dalam kasus demikian orang akan tanpa sadar suka ngegosip. Padahal, keberhasilan itu ada karena bantuan orang lain. Semoga kita selalu diberikan kesadaran untuk tetap senantiasa eling lan waspada.

Semoga kasih Yesus juga menyentuh kita dan menjadi nafas keseharian kita. Hendaknyalah rasa syukur atas penyertaan Tuhan ini menjadi nafas doa kita. Dengan ini, kita akan dibuat mampu membuat diri menjadi pribadi sabar dan rendah hati.

Photo credit: Perempuan renta berdoa di depan patung Yesus di Pastoran Gereja  Hanoi, Vietnam (Mathias Hariyadi)

1 COMMENT

  1. Manakala hati kita sakit mendengar ocehan orang lain , seorang guru spiritualitas Yesuit mengatakan ; ” wah : Anda bodoh karena anda memberikan hak anda untuk bahagia pada mulut orang lain ; mulut mereka terbuka dan anda menjadi susah . Pada hakekatnya mereka yang punya kesadaran spiritual atau damai sejahtera dari Allah tidak akan pernah menjadi susah karena ocehan apapun juga ; karena tindakan , deraan apapun juga ; dia tetap saja penuh damai . Nah lihatlah pada Maria dan Yesus . Maria dalam segala hal ( kata orang katolik mengalami 7 duka cita ? ) namun Maria tidak terlihat susah atau kuatir atau kecewa : Maria menyimpan semua itu dalam hatinya (Tuhan dalam hatinya)
    Demikian juga Yesus ; tidak satu pun dalam jalan salibnya ada kesedihan , kemarahan dan kekecewaan melainkan yang selalu tampak adalah Damai Sejahtera dan Kasih .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here