Mengenal Biara Putri Karmel di Ngadireso, Malang

0
1,212 views
Para Postulan Putri Karmel. (Laurensius Suryono/Paroki Katedral Malang)

SEKALI-sekali mereka mendongak ke atas khawatir kalau buah-buah durian yang menggantung di pohon itu jatuh dan mengenai kepala. Atau, mereka sedang milang-miling mana buah durian yang sudah matang dan boleh diminta.

Buah-buah durian itu membuat konsentrasi mendengarkan kurang fokus, padahal Frater Mario CSE bersama Sr. Kiara Putri Karmel dan Sr. Marta Putri Karmel sudah siap untuk mengenalkan Biara Putri Karmel kepada mereka.

Solusinya ya mereka –anak-anak muda dari Sanggau di  Kalimantan Barat; Manggarai, Ruteng, Nagekeo dan Sumba NTT yang sedang kuliah di Malang—lalu diajak nyanyi dulu lagu populer Dalam Yesus, Kita Bersaudara dengan iringan gitar oleh Frater Mario CSE dan gendang oleh Sr. Kiara P.Karm.

Pohon durian di areal Biara Putri Karmel.

Acara dilanjutkan oleh Kak Mega, aktifis KKI Keuskupan Malang, yang mengajak bernyanyi lagu Adalah Sukacita di Hatimu sambil menggerakkan anggota tubuh.

Lalu berlanjut dengan pengendapan sehingga suasana menjadi tenang dan santai di bawah pohon durian, beralaskan tikar di halaman samping Kapel Biara Putri Karmel Ngadireso, Tumpang, Malang.

Frater Mario mengenalkan rumah pembinaan para Frater CSE di Cikanyere dan tempat studinya di Bandol, Kalimantan Barat, termasuk sharing-nya mulai masuk Biara CSE pada tahun 2008, sempat meninggalkan biara pada tahun 2013 seperti anak yang hilang tapi kembali pulang ke Biara CSE pada 2014.

Ia belum belum ditahbiskan menjadi imam, padahal teman seangkatannya sudah ditahbiskan pada tahun 2018.

Ia juga sempat menyampaikan kedalaman mengimani Yesus Kristus bukan bergantung pada orang lain atau orang di luar diri kita melainkan harus berusaha sendiri dengan berdoa, membaca Kitab Suci menyandarkan kepada Penyelenggaraan Illahi dan mau menghadapi tantangan iman yang sedang dihadapi.

Mendengarkan kisah panggilan.

Macam-macam pelayanan

Sr. Kiara dan Sr. Marta mengenalkan pelayanan Kongregasi Putri Karmel di Tumpang antara lain berupa:

  • Mendoakan umat.
  • Konsultasi pribadi atau Bimbingan Konseling bagi umat yang datang ke Biara, serta
  • Aneka retret yang disediakan: Retret Awal, Retret Penyembuhan Batin, Retret Pasutri, Retret Ekaristi, Retret Bunda Maria Penolong Abadi, dan Live in.

Juga ada pelayanan Camping Rohani yang ditujukan kepada para siswa SD kelas IV, SMP, SMA/SMK, mahasiswa, karyawan muda usia.

Lebih lanjut, suster menyampaikan kalau lama waktu retret untuk siswa SD-SMP adalah empat hari, sedangkan untuk yang lain selama tujuh hari.

Selama ini, pelaksanakan hampir selalu terjadi pada bulan Juli dan dihadiri dari berbagai daerah di Indonesia.

Camping biasanya diikuti oleh ratusan peserta bahkan mendekati seribuan orang untuk itu dibutuhkan banyak tenaga yang membimbing dan mendampingi para peserta.

Karenanya, Biara Putri Karmel membuka diri dan meminta bantuan dari kongregasi lain misalnya dari para Frater praja Keuskupan Malang, Frater SMM, Frater MSF, Frater SVD.

Tahapan pembinaan dan pekerjaan harian

Tahapan untuk menjadi Suster Putri Karmel disampaikan pula:

  • Pendidikan awal dimulai dari status menjadi Postulan.
  • Novis Tahun Pertama.
  • Novis dengan Ikrar Kesetiaan satu tahun.
  • Suster yang ber-Kaul Kekal.

Mengenali mereka mudah saja dengan ciri-ciri berikut ini:

  • Postulan masih mengenakan pakaian atasan warna kuning.
  • Sedang mereka yang sudah mengenakan pakaian biara warna coklat tanah tanpa kalung salib adalah para Novis tahun pertama atau dikenal pula dengan sebutan Novis Tahun Kanonik. Mereka ini seluruh waktu untuk belajar dan belum diperkenankan melayani umat secara langsung.
  • Kemudian para Suster yang sudah berikrar kesetiaan mengenakan kalung salib, tetapi tanpa cincin di jari.
  • Para Suster yang sudah mengenakan kalung salib dan ada cincin di jarinya adalah para suster yang sudah berkaul kekal.

Acara harian

Ritual harian para suster kontemplatif terbuka ini selain berdoa adalah bekerja di toko, bekerja sebagai reseptionis, berkebun, dan melayani tamu dan juga belajar.

Rumah retret mereka ada di Malang, Cianjur (Jawa Barat), Ruteng (NTT), Bandol (Kalbar), dan Medan.  Ada pula di luar negeri yakni di Sabah (Malaysia), Vietnam, dan Tiongkok.

Ada beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa ini, sebagai tanda mereka mendengarkan, bahkan mulai ada yang tertarik lebih lanjut untuk mengenal lebih dekat lagi.

Karenanya, suster lalu mengatakan: “Kalau sudah ada tanda-tanda di hati mulai tertarik dengan panggilan sebagai biarawati walaupun itu hanya kecil sampaikan saja kami siap membimbing. Jadi, mau kapan saja boleh datang untuk live in di sini,” demikian kata mereka.

Ketika ditanyakan batas usia memasuki panggilan, maka dijawab usia minimal 18 tahun setelah lulus SMA atau sederajat hingga maksimal berusia 35 tahun.

Para mahasiswa Katolik dari berbagai daerah di Indonesia yang tengah melakukan studi di Malang.

Pengalaman panggilan

Pada kesempatan ini,  Sr. Kiara P.Karm –Si Anak Ragil berasal Sekadau di Kalbar– berbagi kisah panggilannya.

“Mula-mula, keluarga berat hati melepaskannya, namun tekad untuk menjadi pelayanan Tuhan telah membara. Maka dia tetap melangkah dan terus berdoa dan tetap berdoa bagi keluarga di Kalimantan. Sekarang relasi antara keluarga di Kalimantan dengannya bukan lagi jauh,malahan merasa dekat dengannya.”

Sharing Sr. Marta P.Karm mengenai ‘panggilannya’ dimulai dengan uring-uringan.

Ketika masih remaja, ia  diajak bapaknya mengikuti camping rohani di Ngadireso Tumpang. Ini karena ia merasa sendiri dari kampung halamannya, tapi Tuhan telah mempertemukan dengan teman lama ‘waktu TK’ ketika saling bertatap mata waktu sedang ngantri makan siang di Ngadireso.

Dari situ, ia mulai merasa ada teman tidak sendiri lagi. Maka mulailah mengikuti dengan baik tidak ngambek. Sebaliknya, setelah empat hari mengikuti retret, ia telah terpesona dan menemukan kehadiran Tuhan, bahkan tidak ingin pulang ke rumah, sekarang bapaknya yang malah merayunya untuk diajak pulang.

Tapi dalam hatinya berkata, “Andai seumur hidupku tinggal disini dalam kesunyian dan keheningan, aku akan berjumpa denganNya aku dapat memuji bersyukur kepadaNya yang mulia dan penuh kuasa melalui pelayanan kepada sesama walaupun aku hanya akan bersandal jepit.”

Sesudah menyelesaikan studi S1 pada sebuah universitas di Malang, ia bertekad mewujudkan tekadnya sewaktu masih remaja dulu dengan melangkahkan kaki ke Biara Putri Karmel Malang diantar oleh bapaknya. Hingga sekarang, ia sudah memasuki tahun ke-11.

Lagu Give Thanks dinyanyikan bersama menjadi penutup pertemuan di bawah pohon durian dalam cuaca cerah dengan sedikit awan serta sayup-sayup udara nan sejuk, walau hanya sejenak tapi penuh makna bagi jiwa yang dahaga.

Sebelumnya, para mahasiswa ini mengikuti Perayaan Ekaristi Minggu Pertama Prapaska yang dipersembahkan oleh Romo Eustachius Eko Putranto O.Carm dan Romo A. Hendri Rasdityo CSE di Aula Besar Biara Putri Karmel Tumpang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here