Menggunakan Media Sosial secara Baik dan Benar

0
101 views
Medsos by Ist

JEAN Twenge, seorang profesor psikologi memberikan nasihat untuk masa remaja yang bahagia: taruh telepon, matikan laptop dan lakukan sesuatu, apa saja, yang tidak melibatkan layar.

Nina Lagton yang baru berusia 17 tahun pernah berusaha untuk bunuh diri. Hal ini sangat mengejutkan, karena sebenarnya ia tidak punya masalah serius. Ia dekat dengan orangtuanya, tinggal di lingkungan yang cukup berada, dan tidak mengalami bullying. Tetapi ia mengalami depresi dan berusaha bunuh diri.

Konselornya mengatakan bahwa sumber depresinya adalah ‘insecurity’ atau rasa tidak aman atau nyaman terhadap gambar dirinya atau tubuhnya. Padahal, Nina lumayan cantik. Setelah diusut, ternyata Nina banyak menghabiskan waktu untuk ‘follow’ para selebriti melalui gadgetnya.

Menurut Clinical Psychological Science, remaja yang banyak menghabiskan waktu dengan gadget lebih besar kemungkinannya mengalami masalah kesehatan mental, termasuk putus asa, depresi dan bunuh diri.

Mereka melihat foto-foto menyenangkan dari teman-teman mereka di media sosial dan mengikuti para selebriti. Lalu mereka membandingkan hidup mereka dengan apa yang terpampang di media sosial. Mereka tidak bisa membedakan apa yang nyata dan tidak.

Punya dasar hidup kuat

Apa yang kita butuhkan dalam hidup ini? Apakah hidup yang biasa-biasa alias dangkal saja? Atau hal yang lebih bermakna? Kalau kita memilih hal-hal yang biasa alias dangkal, cepat atau lambat kita akan mengalami depresi, ketika ada begitu banyak tantangan yang menghadang kita. Mengapa? Karena kita tidak punya dasar yang kuat untuk melindungi diri kita dari serangan-serangan dari dunia luar diri kita.

Kalau kita memilih hidup yang lebih bermakna, kita akan mampu menghalau berbagai hal yang menghadang perjalanan hidup kita. Kita memiliki pertahanan diri yang baik, karena yang kita bangun bukan hal-hal yang dari luar diri kita.

Kita membangun hidup kita dari dalam batin kita, sehingga terjadi suatu kekuatan yang mampu menghalau kekuatan-kekuatan dari luar diri kita.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa bangunan yang kuat dari diri kita bukan terletak pada diri para selebriti yang kita kagumi. Kita boleh saja mengagumi para selebriti itu, tetapi kita tidak bisa mengikuti cara hidup mereka.

Nina terjebak dalam hidup para selebriti. Ia tidak mampu menguasai dirinya. Ia ingin hidup seperti para selebitri itu, namun dia tidak memiliki kekuatan dasariah yang cukup kokoh.

Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah waspada terhadap penggunaan media sosial yang kini marak terjadi. Media sosial hanyalah alat yang mesti digunakan untuk kesejahteraan bersama. Media sosial mesti digunakan untuk memperkaya hidup, bukan memiskinkan hidup.

Mari kita tetap bijaksana menggunakan sarana-sarana media komunikasi yang kita miliki. Dengan demikian, kita memiliki hidup yang baik dan benar.

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here