Mengolah Tanah Hati

0
193 views
Ilustrasi - Mencintai Allah dengan sepenuh hati by Ist

PAGI ini, saat akan ke komunitas asrama untuk merayakan ekaristi, saya didatangi seorang bapak, suami dari seorang pasien yang sedang dirawat di RSUD untuk pelayanan minyak suci.

Setelah Perayaan Ekaristi, saya melayani pasien ini. Satu hal menarik adalah pasien ini dan keluarganya, sungguh sangat siap menerima pelayanan sakramen ini. Hati yang terbuka dan siap menerima anugerah kasih Allah.

Bacaan Injil hari ini, Matius 13:1-9 menceritakan perumpamaan Yesus tentang penabur yang menaburkan benih Sabda.

Beda dengan menabur benuh jagung atau padi. Kalau berkebun, tanah musti disiapkan, dibersihkan dan diolah, agar benih bisa tumbuh dan berbuah melimpah.

Tetapi rahasia kebijaksanaan Allah berbeda dengan pemikiran manusia. Benih Firman Allah ditaburkan pada “tanah hati” yang tidak diolah dahulu.

Mengapa? Karena tanah hati milik manusia, makluk yang diciptakan secitra dengan Allah, maka manusia sendirilah yang harus menyiapkan lahan hatinya.

Menurut Yesus ada empat tipe tanah hati: tanah di tepi jalan, tanah berbatu-batu, tanah bersemak duri dan tanah yang subur. Jenis tanah ini akan memberi hasil yang berbeda-beda.

Orang yang tidak duduk diam dan refleksi, hati yang tidak damai (di tepi jalan), sibuk dengan dunia, tak akan sanggup menerima benih Firman Tuhan. Demikian tanah berbatu dan semak duri.

Tumbuh sementara saja, tapi tidak berbuah, karena terhimpit oleh hal-hal dunia ini.

Benih Sabda tidak bertumbuh baik dan berakar dalam hati seperti ini. Sedangkan tanah hati yang baik, berhumus adalah tanah hati yang terbuka, diolah dengan baik.

Hasilnya sungguh luar biasa. Bagaimana tanah hati kita?

Selamat beraktivitas. Salam dan doa berkat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here