Metamorfose Hendri Kuok: “Saya Revolusioer yang Gagal” (5)

0
621 views
Prosesi menelungkup mohon rahmat melalui perantaraan Para Kudus dalam Doa Litani Para Kudus. Ritual pendarasan doa ini dilakukan sebelum prosesi penumpangan tangan oleh Uskup Penahbis di atas kepala Diakon calon imam tertahbi: Romo Stefanus Hendrianto Kuok SJ.. (Ist)

PEKAN yang lalu, seorang kawan ditahbiskan menjadi seorang imam Jesuit. Untuk kawan saya ini, tahbisan ini menjadi kulminasi dari perjalanan hidupnya yang warna-warni itu.

Saya mengenalnya sebagai seorang aktivis pada masa Orde Baru. Jalan yang dia pilih sangat ekstrem pada zamannya. Seekstrem pilihannya kemudian untuk menjadi seorang Jesuit.

Persentuhan kami terjadi di Jogjakarta lewat berbagai macam diskusi. Seingat saya, dia selalu mengambil posisi yang berbeda dengan orang lain.

Pembawaannya misterius. Namun tidak diragukan bahwa secara intelektual dia sangat berisi. Ketika itu, saya merasa bahwa kepercayaan dirinya sangat tinggi.

Kelewat tinggi malah.

Perjumpaan yang paling intens terjadi setelah 27 Juli 1996. Partai Rakyat Demokratik (PRD), di mana kawan ini juga menjadi salah satu anggotanya, dituduh mendalangi kerusuhan yang terjadi setelah penyerangan markas PDI di Jl. Diponegoro, Jakarta. 

Anak-anak muda ini diburu. Mereka bahkan diancam akan ditembak di tempat. Tidak terkecuali kawan ini. Upaya penyelamatan pun dilakukan. Untuk sementara waktu, mereka harus bersembunyi.

Tentu sulit bagi anak-anak yang jiwa revolusinya menggelegak harus berdiam di desa atau di rumah-rumah singgah di perkotaan tanpa melakukan apa-apa.

Mereka terbiasa kelayapan kemana-mana, berdiskusi, berdemo, dan kini tiba-tiba harus menyepi.

Tidak heran bila usaha penyelamatan ini bobol di mana-mana. Satu per satu anak-anak muda ini ditangkap. Sebagian dihilangkan. Bahkan, hingga saat ini tidak diketahui nasibnya.

Kawan ini pun melakukan yang sama. Ia tiba-tiba muncul di kampusnya. Untungnya dia tidak ditangkap.

Saya masih berjumpa dengan dia beberapa kali untuk bermacam urusan. Dan setelahnya, saya tidak pernah berjumpa lagi. Kami memang tidak akrab.

Suatu hari, saya menerima email dari dia. Rupanya dia sedang menyelesaikan studi doktoralnya di University of Washington di Seattle.

Saya menanyakan aktivitasnya.

Seingat saya jawabannya adalah: “Bung, aku sudah tidak revolusioner lagi. Aku revolusioner yang gagal.”

Ada nada yang sangat getir di sana.

Saya memang mendengar kabar dari sahabat yang dulu berada dalam partai yang sama dengan kawan saya ini. Mereka berusaha membawa partai ini menjadi partai ‘mainstream’ dan ikut berpartisipasi dalam politik elektoral.

Mereka gagal total. Tidak itu saja. Partai pun hancur lebur. Konflik di dalam sedemikian hebat.

Pada akhirnya, para pengurus dan aktivisnya mencari jalannya sendiri-sendiri. Ada yang kemudian berhasil menjadi politisi di partai-partai lain. Namun tidak sedikit yang tidak mengambil jalur politik.

Kawan saya ini rupanya menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu yang tergolong sangat cepat. Memang dia memiliki kepintaran untuk itu.

Saya tidak tahu kapan dia mengalami ‘revolusi’ yang lain. Yaitu beralih menjadi imam Jesuit.

Ia tidak bergabung dengan Ordo Serikat Jesus (Jesuit) Provinsi Indonesia– begitulah para Jesuit sering menyebut nama cabang-cabangnya.

Saya mengetahui dia masuk Jesuit lewat seorang kolega yang menemukan dia menjadi seorang Novis, calon Jesuit, di Amerika.

Saya ingat, ketika mendengar itu, saya tertegun. Aneh tapi bisa memaklumi.

Ia sudah menemukan jalannya. Saya kira juga jalan yang tidak mudah untuk ditapaki.

Proses menjadi Jesuit memakan waktu kurang lebih 14 tahun.

Ia melakukan banyak retret, menyapa dirinya sendiri, mempertanyakan keputusannya.

Ia juga harus kembali menjadi mahasiswa S1 untuk belajar filsafat; dan kemudian dilanjutkan dengan belajar teologi.

Hanya pada saat-saat akhir, saya mendengar bahwa dia mendapat tugas pastoral untuk menjadi seorang profesor dan mengajar di sebuah universitas Jesuit.

Ia memiliki kualifikasi untuk itu. Ia juga sudah menulis buku, membuat publikasi di jurnal, dan ikut berbagai konferensi ilmiah.

Saya tidak tahu bagaimana tanggapan kawan-kawannya di Indonesia. Mungkin banyak yang gembira. Mungkin ada yang bertanya ini dan itu.

Untuk saya, apa pun itu, saya ikut bergembira dan menghormati keputusannya. Sama seperti kawan-kawan lain yang memutuskan berbagai macam karier dan berbahagia di dalamnya.

Selamat memulai hidup baru sebagai imam, Romo Stefanus Hendrianto SJ.

Semoga semua jemaat yang Anda layani merasakan komitmen dan cinta Anda kepada mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here