Metamorfose Hendri Kuok: Studi Ibarat “Sakramen ke-8”, Pelajaran dari Edith Stein, Pater Schall SJ, dan Alice von Hildebrand (3)

0
2,097 views
Pastor Stefanus Hendrianto Kuok SJ bersama mentornya. (Ist)

SEBAGAI orang imam, Pastor Hendrianto sangat mengidolakan St. Edith Stein

Menjawab pertanyaan dari para kolega Jesuit di Provinsi West USA, Pastor Hendrianto SJ mengaku sangat bangga setiap kali “bercermin diri” pada sosok Edith Stein atau Santa Teresa Benedicta dari Salib.

“Saya mengagumi Orang Kudus ini,” kata Hendri.

Alasannya adalah, kata dia, “karena Edith Stein sangat mencintai apa itu kebenaran, sembari tanpa henti mencari jalan-jalan baru untuk mencari kebenaran itu melalui refleksi filsafat dan teologi,” paparnya kemudian.

Yang paling istimewa dari Edith Stein, kata dia, “Tentu karena dia adalah sosok Orang  Kudus yang memiliki keberanian luar biasa,” ungkap Hendrianto.

“Melalui pengorbanan hidupnya, Edith Stein telah menunjukkan kesediaannya mengorbankan diri demi kasih dan cintanya kepada Jesus dan sesama manusia,” begitu argumen Pastor Stefanus Hendrianto Kuok SJ.

Edith Stein, suster biarawati dan filosof Jerman di Abad Modern yang tanpa henti mencari kebenaran melalui permenungan filsafat. (Ist)

“Saya selalu merasa didoakan oleh Santa Edith Stein, terutama dalam masa-masa peziarahan rohani saya sebagai (calon) Jesuit,” jelasnya.

Pastor Stefanus Hendrianto SJ masuk Serikat Jesus Provinsi West USA pada tanggal 11 Oktober 2009, persis di tanggal yang sama ketika Edith Stein resmi dikanonisasi dengan mendapat predikat sebagai Orang Kudus di tahun 1998.

Jesuit paling berpengaruh

Menjawab pertanyaan para kolega Jesuit di Provinsi West USA, Pater Stefanus Hendrianto SJ mengungkapkan bahwa ada seorang Jesuit yang benar-benar telah sangat berpengaruh dalam hidupnya.

Dan seorang pastor Jesuit senior itu adalah Pater James V. Schall SJ.

“Beliau sangat berperan dan berarti dalam hidup saya, karena beliaulah yang membimbing saya untuk mendapatkan pondasi bagi intelektualitas istimewa dan mengajari bagaimana saya mesti hidup atas dasar semangat tersebut,” paparnya.

Pastor Schaal SJ itulah yang dianggapnya sebagai “mentor” penting, Itu karena, kata Hendrianto,  kita semua bisa saja mencapai tingkat intelektualitas tertentu dalam hidup

Ambisi menemukan kebenaran

Itu terjadi manakala,  kita punya “tradisi hidup” yang baik, disiplin hidup yang tinggi, dan juga mencerminkan sebagai pribadi yang produktif sekaligus “ambisi” untuk senantiasa menemukan kebenaran-kebenaran.

“Saya,” kata Hendrianto menirukan pendapat mentornya, “diberi tahu bahwa seorang pastor itu pada dasarnya tidak boleh berhenti belajar. Itu berarti, selalu membaca dan membaca yang berarti studi tanpa henti.”

“Semua itu untuk apa?,” kata dia.

Tiada lain untuk demi meningkatkan mutu pelayanan pastoral seorang imam.

“Studi bagi seorang Jesuit itu ibarat “Sakramen Nomor Delapan” dalam hidup imamat seorang pastor,” begitu pandangan hidupnya.

Sebelum mengajar, harus belajar terlebih dahulu; menguasai materi ajar.

Buku favorit

Sejak masuk Serikat Jesus, kata Pastor Stefanus Hendrianto Kuok SJ, ia mengaku menyukai buku bertitel Memoirs of a Happy Failure yang ditulis oleh Alice von Hildebrand.

Buku itu bicara tentang kasih Tuhan, rahmat, dan kegembiraan.

Buku tersebut mengesankan bagi Pastor Hendrianto SJ, karena hal itu merupakan refleksi dari kisah nyata hidupnya sebagai orang yang selamat dari kobaran Perang Dunia II dan kemudian berhasil sukses meniti hidup baru penuh perjuangan di Amerika.

Setelah lulus doktoral bidang filsafat dari Fordham University –universitas yang diampu oleh para Jesuit di New York—ia mengalami banyak “derita batin” sekaligus “frustrasi suci” lantaran sering dicemooh oleh para kolega dosen hanya lantaran dia seorang perempuan.

Ilustrasi: Dr. Alice von Hildebrand. (Ist)

Sebagai pengajar Katolik, Alice sering mendapat perlakuan tidak semestinya. Namun, kata Pastor Stefanus Hendrianto Kuok SJ, Alice tetap mampu bertahan dalam “derita”,  karena sadar betul bahwa Tuhan selalu ada-bersama-dia.

Tiga cirikhas  Jesuit

Ketika ditanyai apa yang menjadi kekhasan sebagaiJesuit, maka Pastor Hendrianto SJ memberi jawaban dengan tiga kata berikut ini. Yakni, brilliant, resilient, dan faithful.

“Saya sangat setuju dengan ketiga kata itu,” tuturnya menjawab pertanyaan kolega SJ. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here