Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Hidup Pantang Menyerah: Tekun, Ulet dan Sabar

0
1,684 views
Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Keuskupan Palembang dan Administrator Apostolik Tanjungkarang

Surat Gembala Prapaska 2016 Uskup Agung Palembang

SAUDARA-saudari yang terkasih: anak-anak, putra putri remaja, kaum muda, para ibu-bapak, para religius dan para imam yang dikasihi Tuhan.

Pada tanggal 10 Februari 2016 adalah Hari Rabu Abu yang merupakan awal masa Prapaska. Setiap Rabu Abu kita menerima abu yang mengingatkan kita untuk bertobat dan menyadari keterbatasan kita sebagai manusia lemah yang membutuhkan Tuhan. Gereja secara resmi menetapkan masa Prapaska sebagai puasa resmi Umat Katolik, dimulai dari Rabu Abu dan berakhir pada Jumat Agung. Bila mungkin, puasa ini hendaknya diperpanjang sampai Sabtu Suci (lih. KL 110).

Bagi Umat Katolik, puasa adalah ungkapan tobat, sekaligus merupakan ulah doa yang hangat. Dalam tradisi Gereja, puasa merupakan ibadat yang penting, yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar, khususnya Paskah yang dikenal dengan nama Masa Prapaska.

Dalam menjalankan puasa, marilah kita belajar dari Yesus yang tidak hanya mengajarkan berpuasa secara benar, tetapi Ia sendiri juga menjalankan puasa. Setelah Yesus dibaptis, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus untuk berpuasa empat puluh hari di padang gurun (bdk. Luk 4:1-2).

Ada perbedaan yang dapat dilihat sebelum Yesus berpuasa di padang gurun dengan sesudah Yesus keluar dari padang gurun. Dalam Injil Lukas dikatakan, “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (4:1).

Lalu, setelah Yesus selesai dari masa berpuasanya di padang gurun dikatakan, “Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu” (4:14). Hal ini menunjukkan bahwa seluruh potensi kekuasaan Roh Kudus, yang diterima oleh Yesus pada waktu dibaptis di Sungai Yordan, baru dinyatakan sepenuhnya setelah Ia berpuasa. Puasa yang dilakukan oleh Yesus merupakan tahap akhir dari masa persiapan yang harus dilaluiNya sebelum memulai pelayananNya di dunia ini.

Hendaknya doa dan puasa juga menjadi kesempatan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus yang memampukan kita memperoleh kemenangan spiritual.

Sedangkan dalam Kisah Para Rasul (Bab 13-14), kita dapat menyimpulkan bahwa doa dan puasa secara bersama-sama memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan setiap Gereja. Dengan berdoa dan berpuasa, orang-orang kristiani perdana menerima bimbingan dan kuasa Roh Kudus, sehingga dapat mengambil keputusan-keputusan penting atau melakukan tugas-tugas yang istimewa.

Dalam masa Prapaska, puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti semata-mata ‘menyiksa badan’, diit supaya kurus, menghemat.

Jangan lupa, tujuan utama puasa dan pantang adalah supaya kita dapat lebih menghayati kasih Tuhan yang kita terima dan kasih kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan sengsara Kristus demi menyelamatkan kita. Selanjutnya, kita diajak untuk menyatakan kasih kita kepada Kristus, dengan mendekatkan diri kepadaNya dan sesama.

Hidup pantang menyerah
Tema pastoral Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2016 ini adalah Hidup Pantang Menyerah: Tekun, Ulet dan Sabar. Melalui tema ini, kita diajak untuk membangun dan mewujudkan perubahan dan pembaruan dalam dua hal.

  • • Pertama, menghargai dan menghormati hidup sebagai anugerah yang berasal dan bersumber dari kasih Allah melalui ketekunan, keuletan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup.
    • Kedua, menggali dan menemukan daya kehidupan yang bersumber dari kekuatan Allah untuk menjadi landasan hidup dalam mencapai kesejahteraan hidup lahir dan batin.

Hidup pantang menyerah berarti tidak menyerah pada kesulitan dan penderitaan. Hidup yang tidak menyerah pada yang bersifat sementara. Hal itu dilandasi oleh keyakinan bahwa hidup itu mempunyai nilai abadi karena berasal dari Tuhan. Hidup pantang menyerah berarti seperti para martir dan pahlawan yang memperjuangkan kebenaran dan kesejahteraan bagi banyak orang. Misalnya, menjaga, merawat dan melestarikan bumi sebagai rumah kita bersama, menghargai hak sesama, menghemat dan berugahari.

Hidup adalah anugerah dari Tuhan. Tanpa anugerah itu kita tidak dapat menikmati apa pun keindahan ciptaan Tuhan ini. Karena itu, hidup harus diperjuangkan, supaya berbuah dengan mengembangkannya melalui solidaritas dengan sesama, berani berkorban demi keselamatan orang lain bahkan berani mengorbankan kepentingan diri agar kesejahteraan umum tercapai.

Saya berharap agar kita sebagai Umat Katolik tidak mudah menyerah terhadap aneka persoalan kehidupan yang begitu banyak. Hidup tidak lepas dari kesengsaraan dan penderitaan. Penderitaan adalah bagian dari hidup, ia hadir dalam berbagai bentuk seperti sakit, kesendirian, direndahkan, kemiskinan, perang dan bencana. Kadang hal itu membuat orang frustrasi, putus asa karena sering tidak bisa dikontrol. Di zaman ini dimana kenikmatan diunggulkan, maka rasa sakit dan tidak enak dipandang tak masuk akal. Beberapa orang berusaha untuk tidak mau tahu. Sementara yang lain menjadi putus asa.

Penderitaan juga semacam ujian bagi iman dan harapan kita. Apakah kita hanya mengabdi Tuhan untuk mohon kekayaan atau nikmat? Apakah kita memperalat Tuhan untuk membuat kita sejahtera? Apa yang lebih kita hargai: Tuhan atau pemberianNya? Karena itulah penderitaan dapat memurnikan pekerjaan kita ‘apakah kita hanya mencari untuk diri sendiri atau kita dingatkan untuk mencari sesuatu yang bernilai luhur?’.

Penderitaan juga dapat menyadarkan kita akan kelemahan, dan dapat membantu kita untuk bertobat dan pembaruan hidup. Sebagai orang beriman, kita memandang penderitaan dari terang kebangkitan atau kemenangan Kristus yang bangkit, yang memampukan orang Kristiani berhadapan dengan kenyataan sakit, mengenal nilai dari penderitaan dan berjuang mengatasinya dengan keberanian, menerimanya dengan penuh harapan dan mengatasi rasa takut dengan kasih.

Kita juga harus berjuang melawan dosa untuk memperjuangkan hidup yang tidak menjauhi sumber hidup, yaitu Tuhan, sesama dan alam ciptaan. Berjuang melawan dosa membutuhkan iman. Tidak mudah kita mengubah kebiasaan-kebiasaan yang jahat dan merugikan hidup. Kalau kenikmatan, kuasa dan keinginan akan harta tidak kita kontrol, mereka dapat mengontrol kita. Tetapi kalau kita bisa mengarahkannya, maka hidup akan tumbuh dan berkembang.

Pada Masa Prapaska ini secara istimewa kita menimba kembali dari sumber hidup kita, yaitu sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dengan laku tapa dan kegiatan amal kasih. Sebagai umat kristiani, kita diberi kesempatan untuk menimba hidup baru lewat anugerah besar kehidupan yaitu pengampunan dosa, Ekaristi yang memungkinkan kita berelasi dengan Kristus yang bangkit dan yang menjadi bekal perjalanan di dunia yang keras ini dan tumbuh dalam doa.

Hidup pantang menyerah dengan tidak mudah patah semangat dan bekerja keras untuk mencapai tujuan hidup merupakan sikap hidup yang harus kita miliki. Dengan begitu, kita juga mampu melihat bahwa rintangan atau hambatan dalam setiap langkah untuk mencapai tujuan hidup merupakan pembelajaran hidup dari Allah.

Partisipasi dalam APP
Saya berharap agar keterlibatan dan partisipasi umat untuk Aksi Puasa Pembangunan tahun ini akan semakin besar, supaya gereja dalam kebersamaan bisa menampilkan kepedulian nyata bagi semakin banyak orang. Melalui sumbangan APP yang dikumpulkan secara nasional, Gereja Katolik telah mampu membantu korban bencana dan masalah kemanusiaan bukan saja yang terjadi di Tanah Air, tetapi juga yang menimpa negara-negara lain.

Kepedulian nyata diharapkan mengalir dari pertobatan, doa dan puasa khususnya selama Masa Prapaska ini.

Jangan pikirkan diri sendiri
Walaupun situasi hidup kita saat ini sungguh mengkhawatirkan masa depan dan kesejahteraan umum, namun Yesus mengingatkan kita semua agar kekhawatiran kita pertama menimbulkan kepedulian dan sikap belarasa terhadap sesama, dan agar kekhawatiran kita tidak membuat kita hanya memikirkan diri sendiri saja dan acuh tak acuh terhadap sesama kita.

Semoga Masa Prapaska ini menjadi kesempatan seluruh Gereja untuk bertobat, berpuasa – berdoa dan beramal kasih. Dengan demikian, kita dapat menyambut Hari Raya Kebangkitan Yesus Kristus dengan sukacita.

Saya ucapkan terimakasih atas keterlibatan Anda untuk membangun hidup Gereja yang terus belajar untuk semakin mengasihi dan pantang menyerah dengan tantangan dan hambatan yang ada.

Santo Petrus Chrysologus menulis, “Kalau kamu berdoa, berpuasalah; dan kalau kamu berpuasa, berbuatlah belaskasih.”

Selamat memasuki Masa Prapaska dan menjalankan Pantang dan Puasa.

Berkat Tuhan,

Mgr Aloysius Sudarso SCJ
Uskup Agung Palembang

Kredit foto: kawali.org

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here