Minggu Prapaskah III Lukas 13:1-9: “Masih Ada Waktu” dari Ebiet G. Ade)

0
489 views
Ilustrasi: Bertobat. (Ist)

KETIKA terjadi bencana di Lombok dan tidak lama kemudian ada gempa di Poso, dunia medsos dibanjiri dengan berbagai komentar. Ada yang ikut berduka, berbela rasa, prihatin, sedih dan langsung terjun menolong.

Tetapi ada juga yang menilai bahwa bencana ini adalah azab. Mereka itu kena kutukan, hukuman dari yang mahakuasa. Mereka adalah orang berdosa yang sedang dilaknat.

Bahkan ada juga pihak yang mengklaim, bencana ini terjadi karena pemerintah yang tidak amanah. Bukannya membantu atau menunjukkan empati, tetapi mereka justru memperkeruh suasana. Mereka seolah berhak menghakimi atas situasi pilu yang sedang terjadi.

Komentar-komentar seperti itu justru menimbulkan kegaduhan di dunia maya. Mereka tidak segera menolong malah berantem sendiri di jagat maya. Mereka hanya bisa menyalahkan pihak lain, tetapi tidak mau melihat diri sendiri.

Injil hari ini bercerita tentang beberapa orang yang datang kepada Yesus dan membawa berita tentang orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus dan darahnya dicampurkan dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus meluruskan penilaian keliru dari mereka itu.

“Sangkamu orang-orang Galilea itu lebih besar dosanya daripada semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib demikian? Tidak, kataku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua pun akan binasa dengan cara demikian”.

Dengan kata lain, Yesus mau berkata, “Janganlah mudah menghakimi orang lain yang sedang menderita, tetapi kamu sendiri bertobatlah! Melihat orang menderita, kita sering “nyokurke” atau mengumpat “rasain loe”.

Kita jarang melihat diri kita sendiri atau bercermin seandainya aku yang mengalami seperti dia. Rasa empati kita tipis sekali, setipis kartu ATM.

Itulah yang dikritik Yesus. “Selumbar di mata saudaramu tampak, tetapi balok di matamu sendiri tiada tampak”

Allah masih menunggu pertobatan kita. Jangan sampai kita nanti mengalami nasib yang sama seperti mereka. “Tuan, biarkanlah dia tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah!”

Pohon pertobatan harus dirawat, dipupuk dengan baik. Misalnya menyadari bahwa kita ini orang lemah, tidak sempurna, butuh kerahiman Tuhan. Menggunakan masa prapaskah ini untuk mohon pengampunan Tuhan lewat Sakramen Tobat.

Lagunya Ebiet G Ade yang berjudul Masih Ada Waktu bisa menjadi bahan renungan kita. Bila masih mungkin kita menorehkan bakti. Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas.

Mumpung masih ada kesempatan buat kita mengumpulkan bekal perjalanan abadi.
Kita masih ingat tragedi yang memilukan kenapa harus mereka yang lebih dulu menghadap

Tentu ada hikmah yang harus kita petik atas nama jiwa mari heningkan cipta.

Berkah Dalem,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here