Misi Awal Kongregasi Suster OSA Belanda ke Ketapang, Kalbar: Hanya Butuh Lima, Yang Daftar 200 Suster (3)

0
128 views
Lima suster muda Kongregasi St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) yang menjadi misionaris pertama OSA ke Ketapang, Kalbar, mulai tahun 1949. (Dok. OSA Ketapang)

TERNYATA sudah di tahun 1949 itu, semangat para suster misionaris OSA untuk bersiap sedia mau diutus ke “Tanah Misi” itu luar biasa besar.

Antusiasme tinggi disertai keinginan tulus ingin menjadi misionaris di “Tanah Misi” ini dikisahkan oleh para saksi hidup dan pelaku peristiwa tersebut, yakni para suster perintis misi awal Kongregasi Suster OSA ke Ketapang, Kalbar.

“Pada akhir tahun 1948 itu, jumlah suster OSA keseluruhan di Negeri Belanda kurang lebih ada 600-an orang,” demikian ungkap Sr. Euphrasia Laan OSA ketika diwawancarai di Negeri Belanda tahun 2005 silam.

Sekali waktu di bulan Maret 1949, ujarnya kemudian, suster pemimpin rumah di mana dia tinggal mengatakan sebagai berikut. “Biara Pusat Mariënheuvel di Heemstede sudah berketetapan dan akhirnya memutuskan, Kongregasi akan mengirim lima orang suster muda OSA untuk berkarya di Tanah Misi,” jelasnya  kemudian.

Informasi tentang rencana Kongregasi akan mengirim tenaga para suster OSA ke Tanah Misi itu, lanjut Sr. Euphrasia Laan OSA, juga telah disampaikan kepada semua biara OSA di Negeri Belanda melalui surat edaran. Juga tidak disangka-sangka, respon positif atas “tawaran bermisi” itu ternyata mendapat atensi luar biasa dari para suster muda OSA di seluruh Negeri Belanda.

Butuh lima orang,  200 suster  berminat

Kepada Moeder Sr. Agneta OSA selalu Pemimpin Umum Kongregasi OSA Negeri Belanda dan Direktur Pastor Stolwijk, Vikaris Apostolik Borneo Belanda Mgr. Tarcisius HJ van Valenberg OFMCap dengan sangat jelas dan gambang mengatakan, “Saya hanya butuh lima orang suster OSA untuk bisa dikirim ke Ketapang.”

Moeder Sr. Agneta OSA, Pemimpin Umum Kongregasi OSA Negeri Belanda tahun 1949. (Dok. OSA)

Rupanya, setelah gayung bersambut dan Moeder Sr. Agneta OSA berkenan menyetujui permohonan itu, tawaran untuk bermisi ke Ketapang di Kalimantan Barat itu mendapat respon positif dari para suster muda OSA.

Padahal sebelumnya, Direktur Kongregasi OSA Pastor Stolwijk tidak mau memberi “lampu hijau” atas gagasan tentang misi Kongregasi OSA ke Ketapang, Kalbar.

Direktur Kongregasi OSA Pastor Stolwijk

Pastor Stolwijk beranggapan, jumlah suster OSA yang di tahun 1948-1949 ada sebanyak 600-an orang itu dianggap masih belum mencukupi untuk bisa mengampu seluruh karya Kongregasi di Nederland.

“Namun, kalau Kongregasi akhirnya memutuskan akan mengirim lima orang ke Tanah Misi dan andaikan mereka itu nantinya di sana jatuh sakit (dan meninggal… Red.),  maka ya sudahlah…  en toch…kami juga akan kehilangan lima orang suster,” demikian jelas Sr. Mathea Bakker OSA menirukan omongan Sr. Agneta OSA di tahun 1949

“Karena itu, kami memenuhi permintaan dengan mengutus lima orang suster muda OSA sehingga awal misi di Ketapang, Indonesia, bisa segera dimulai,” kata Sr. Agneta OSA di akhir tahun 1948 yang ditirukan oleh Sr. Mathea Bakker di tahun 2005.

Silakan melamar jadi misionaris

Selebaran resmi tentang kesempatan bermisi ke Ketapang itu dikirim oleh Biara Mariënheuvel ke semua biara OSA di seluruh penjuru Negeri Belanda. Edaran itu berisi pesan sebagai berikut: “Kepada semua suster muda OSA yang memenuhi kualifikasi perawat dan guru dipersilahkan mengajukan lamaran menjadi misionaris.”

Sr. Mathea Bakker OSA, misionaris Kongregasi OSA ke Ketapang tahun 1949. (Dok OSA/Repro MH)

“Tak disangka-sangka, dari jumlah suster OSA waktu tahun 1949  sebanyak 600-an suster tersebut, ternyata yang melamar ingin menjadi misionaris kurang lebih berjumlah 200-an suster,” kata Sr. Mathea Bakker OSA dengan mata berkaca-kaca.

Ketika mengisahkan gejolak emosi berisi antusiasme besar 200-an suster “noni-noni” Belanda di tahun 1949 yang merespon positif atas ajakan bermisi ke Ketapang itu, tanpa dia sadari kelopak matanya menjadi berkaca-kaca.

Sr. Mathea Bakkker OSA juga mengalami “gejolak emosi” yang sama di tahun 1949 tersebut. Karena dari 200-an suster “pelamar antusias” itu, di akhir seleksi di meja pimpinan OSA ternyata namanya berhasil ikut “tersaring” dan akhirnya dia terpilih.

Menurut mereka, Moeder Agneta OSA dan Direktur Pastor Stolkwijk sampai heran menerima “luapan antusiasme” dari para suster muda OSA –jumlahnya 200-an orang—yang berani melamar menjadi misionaris untuk Indonesia.

Sr. Euphrasia Laan OSA – perintis misi awal Kongregasi OSA di Ketapang, Kalbar, di tahun 1949. (Dok. OSA/Repro MH)

“Tetapi hanya dibutuhkan lima orang saja. Jadi, harus memilih siapa di antara ratusan pelamar itu yang akan dikirim ke Tanah Misi di Ketapang, Kalbar,” tambah Sr. Mathea Bakker OSA.

Tentang kisah emosional di tahun 1949 yang sengaja dikenangkan kembali di tahun 2005 itu, Sr. Euphrasia Laan OSA hanya bisa memejamkan mata. Ia ingat betul bagaimana dirinya juga tengah digelayuti gejolak hati yang sama di tahun 1949 tersebut. “Waktu itu, kata suara hati saya hanya satu: Saya siap diutus kemana saja,” ungkapnya mendalam.

Sr. Prudentia OSA, misionaris pertama Kongregasi OSA ke Ketapang, Kalbar, tahun 1949. (Dok OSA/Repro MH)

“Saya merasa yakin tentang hal itu. Dan karenanya, saya juga berani mengajukan diri, meskipun waktu itu saya belum sempat berprofesi sebagai perawat. Namun, saya merasa diri siap untuk bekerja apa saja di Ketapang,” ungkapnya sembari tetap menundukkan kepala, kali ini dengan mata terpejam.

“Yang terbersit dalam benak saya waktu itu hanya sebuah gagasan sederhana: Saya ingin ke sana agar bisa membantu (para imam Passionis yang sudah terlebih dahulu berada di Ketapang—Red.) dan menolong orang-orang di sana. Selebihnya, saya sungguh tidak tahu apa-apa tentang apa itu West Borneo dan Ketapang,” ungkap Sr. Prudentia OSA, saksi mata dan pelaku peristiwa misi awal OSA ke Ketapang di tahun 1949. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here