Orang Farisi Jujur di Zaman Edan (3)

0
189 views
Ilustrasi: Beranikah jujur? (Ist)

NIKODEMUS adalah salah satu atau malah satu-satunya menurut KS orang Farisi yang jujur. Ia berani mengakui apa yang dilakukan Yesus adalah tanda bahwa Allah menyertaiNya.

Pengakuan Nikodemus itu disampaikan ke Yesus secara sembunyi-sembunyi di waktu malam.

Ia jujur terhadap diri sendiri, tetapi tak  berani jujur di depan banyak orang. Itu adalah realita kemanusiaan kita.

Orang beragama bilang itu “dosa”, entah namanya ‘dosa sosial’, atau ‘dosa asal’. Terserah. Faktanya sama: itu semua perkara manusiawi.

Sebagai manusia, kita sulit untuk bisa jujur di depan banyak orang. Bahkan jujur pada diri sendiri saja sering terasa berat.

Tetapi bukankah kejujuran ini merupakan tonggak pijakan kita dalam beriman? Yakni,  jujur terhadap diri sendiri berarti jujur di hadapan Allah. 

Berani jujur

Nikodemus sebagai orang Farisi sangat terpuji, ketika ia jujur terhadap dirinya sendiri. Jelas lebih baik daripada orang Yahudi saleh yang tak berani jujur terhadap diri sendiri.

Kita yang hidup 2.000 tahun dan sesudahnya pun tetap belum tentu punya keberanian untuk mau jujur. Bahkan juga tidak berani bisa jujur terhadap diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh Nikodemus tersebut.

Mungkin malah kita tak lagi menganggap kejujuran pada umumnya itu sebagai suatu nilai atau keutamaan kristiani.

Mari kita lihat sejenak pengalaman kita.

Di keluarga

Kejujuran sudah jadi barang langka. Berapa suami yang jujur bilang: “Mama memang seniman ulung deh. Rumah kita jadi home karena sentuhan mama. Papa bangga punya isteri mama.”

Atau isteri berkata jujur pada suami: “Papa hebat sekali deh. Mampu berelasi dengan segala orang. Dengan orang kecil bisa, dengan orang gedean juga mampu. Pasti anak-anak kita amat bangga punya papa, mas-ku.

Jangankan antara suami isteri, kadang antara orangtua dan anak pun tak terjadi kejujuran. Berapa di antara orangtua yang dengan jujur mengakui kemampuan, kelebihan, bahkan kehebatan anaknya. Dan mengatakan itu kepada anaknya, bukan kepada orang lain, pasti meaningful sekali buat si anak.

Misalnya bilang “Say, kamu amat kreatif, dan inspiratif, saya malah tak sampai punya ide seperti yang kamu lakukan itu. Teruskan.”

Di sekolah

Banyak lagi contoh bahwa pendidik kurang berani jujur terhadap murid. Sedikit saja guru yang bilang: “Kamu benar dan saya keliru.”

Kebanyakan guru merasa dirinya harus benar, harus menang. Kalau salah pun jangan diakui di depan anaknya. Rupanya ada ketakutan kalau guru jujur, siswa tak akan menghargainya. 

Maka jangan heran kalau banyak murid tak berani jujur dan bangga dengan hasil ulangan dan ujian tanpa menyontek.

Di kantor

Ada banyak bos dan pimpinan yang tak jujur mengakui kemampuan bawahan atau rekan, stafnya.

Lihat di kantor kita aja, ada gak? Tak sedikit yang saya dengar karyawan dan karyawati yang frustrasi karena pimpinan tak pernah jujur mengakui, apalagi menghargai prestasinya.

Malah ada yang berusaha untuk menendangnya, hanya karena takut ketahuan dirinya kalah mampu. Kenapa ia tidak jujur bahwa dia kurang mampu.

Tetapi jangan heran, kalau di dunia keseharian kita nyatanya juga begitu.

Di lingkup agama

Kejujuran terhadap diri itu tak mudah ditemukan. Juga di kalangan pemuka agama jarang kita dengar.

Pernahkah kita dengar seorang berkata, misalnya: “Gereja, Paroki, Lingkungan A lebih hebat dalam persaudaraan. Paroki kita lebih kaya dalam hal uang. Kaya cinta, Anda tahulah.”

Kebanyakan justru  orang sering merasa gereja, parokinya, lingkungannya paling hebat, dan paroki atau lingkungan lain kalah mutu. 

Siapa di antara kita yang berani jujur mengakui: “Agama kita baiknya ini XYZ…, tetapi jeleknya ABC…” 

Hampir semua bilang agama kita paling bagus.

Maka bisa dibayangkan, ketika kita tak berani jujur terhadap diri sendiri, mengakui kelebihan dan kelemahan kita, apa iman kita genuine?

Kalau nggak genuine, maka jangan heran kalau iman kita pun tak tumbuh sehat.

Nikodemus lebih terhormat daripada kita. Meski ia orang Farisi, tapi ia jujur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here