Paroki Macan Prayak Yogyakarta Peringati Hari Anak Misioner Sedunia 2019

0
93 views
Anak-anak SEKAMI.

DALAM Kalender Liturgi, Minggu, 6 Januari 2019, tercatat sebagai Hari Epifani atau Hari Raya Penampakan Tuhan. Hari itu juga ditetapkan sebagai Hari Anak Misioner Sedunia.

Tahun 2019 ini, Paroki Macan Prayak membuat jejak langkah pertama dalam menyambut Hari Anak Misioner sebagai Paroki Administratif.

Diadakan berbagai lomba yang melibatkan semua anak di Wilayah bagian Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan.

  • Wilayah Prambanan di sisi Timur Utara.
  • Wilayah Macanan I, Macanan II, Macanan III dan Wilayah Payak di sisi Selatan Barat.

Perayaan Hari Anak Misioner dimulai dengan Perayaan Ekaristi Kudus di Gereja Macanan yang dipimpin oleh Rama Lambertus Issri Purnomo Murtyanto Pr alias Rama Issri.

Anak-anak SEKAMI.

Anak-anak Misioner Bergembira

Dalam homilinya, Rama Issri menerangkan arti Hari Raya Penampakan Tuhan. Bahwa kehadiran Tuhan Yesus ke dunia itu untuk keselamatan segala bangsa, bukan hanya satu bangsa.

Tiga Orang Majus yang datang dari Timur itu menjadi buktinya. Agar hal itu diketahui banyak bangsa, maka perlu adanya pewartaan Injil, Kabar Sukacita. Pewartaan Kabar Sukacita ini menjadi misi Gereja. Ini juga menjadi tanggungjawab semua anggota termasuk anak dan remaja.

Mengajak anak-anak bergembira.

Gereja menjadikan Hari Raya Penampakan Tuhan sebagai hari anak misioner untuk mengajak anak dan remaja ikut dalam gerakan misi Gereja yang telah dicontohkan  oleh Kanak-kanak Yesus. Tentunya, anak dan remaja ini harus dipersiapkan.

Orangtualah yang menjadi pembimbing utama bagi mereka.

Mewartakan Injil berarti memperkenalkan Tuhan Yesus kepada siapa pun juga. Anak-anak harus lebih dahulu mengenal Tuhan Yesus di awal usia mereke. Perayaan Ekaristi menjadi sumber utama untuk menumbuhkan semangat dan mengalami Tuhan Yesus.

Oran tua wajib melatih, mendampingi anak untuk terbiasa mengikuti Perayaan Ekaristi dengan baik. Saat Ekaristi, hal yang paling ideal adalah anak duduk bersama dengan orangtuanya. Tidak justru dipisahkan. Maka perlu dilihat dan dipikirkan lagi model pendampingan anak selama ini yang memisahkan mereka dari orangtuanya.

Usai misa, sebelum berkat penutup, Anastasia Heriaswari Tri Astuti (Angki) dari Lingkungan Brayat Nazareth, Madubaru, Macanan diberi kesempatan menampilkan kreasi.

Mengapa anak-anak diminta tampil di akhir misa?

Rama Issri menggarisbawahi bahwa itu adalah sapaan kepada anak-anak agar mereka bergembira menjadi anak Tuhan. Menjadi anggota Gereja.”

Acara lomba

Acara dimulai pada pukul 10.00. Lomba yang diadakan kali ini adalah: lomba mewarnai tingkat TK/PAUD, lomba mewarnai tingkat SD, lomba membuat kartu Natal, lomba menghias pohon natal, lomba membuat Gua Natal, lomba menyanyi untuk PAUD/TK, lomba menyanyi untuk klas 1-3 SD, dan lomba menyanyi untuk klas 4-6 SD.

Memakai bahan-bahan daur ulang. (Ist)

Acara dibuka oleh Luidwina Rindang (Wina) dari Lingkungan Santa Maria Macanan dan Daniel Johannes Lintang (Daniel) dari Lingkungan Yustinus Prambanan.

Peserta lomba mewarnai langsung siap dengan semua peralatannya, duduk di atas tikar yang sudah disediakan di sepanjang ruang rapat. Sementara itu peserta lomba membuat kartu natal sudah bersiap di ruang PAUD.

 

Kedua lomba ini dimulai sekitar pukul 10.22 dengan lama waktu tuk menyelesaikannya adalah 90 menit. Ternyata ketika lomba sudah mulai pun masih mengalir pesertanya. Mereka langsung bergabung dengan peserta lainnya dan mulai mewarnai sesuai aturan dalam lomba.

Lomba menghias Pohon Natal diadakan di ruang PAUD. Sementara lomba membuat goa natal di bawah pohon beringin di halaman parkir.

Ada 9 kelompok peserta lomba menghias pohon natal dan ada 4 kelompok peserta lomba membuat Gua Natal. Bahan lomba disediakan oleh panitia dari hasil bongkaran Gua Natal di gereja. Memanfaatkan bahan yang sudah ada.

Mengajak anak-anak merasakan bahagia sebagai anak-anak Tuhan.

 

Hari semakin siang sementara cuaca menjadi redup meskipun hawa terasa sangat panas. Masih ada satu lomba yang belum dilaksanakan yaitu lomba menyanyi. Peserta cukup lumayan, ada 15. Dipandu dengan cukup apik oleh Daniel yang tetap bertahan meskipun rumahnya jauh di Prambanan.

Waktu jeda menunggu hasil lomba yang cukup lama diisi dengan tampilan tarian tunggal oleh Veronica Bunga Kalvari, dari Lingkungan Brayat Nazareth Macanan. Melihat Vero yang asyik dance sendirian, Daniel tergelitik untuk menirukan. Alhasil, jadilah paduan yang cukup menarik untuk menghibur para peserta lomba yang masih bertahan menunggu hasil lomba diumumkan.

Ternyata masih diperlukan lebih banyak waktu untuk menentukan juara. Akhirnya semua anak peserta lomba menyanyi diajak terjun ke panggung. Bersama menyanyi dan menari dangdut bersama. Wajah-wajah ceria anak-anak, meski lelah menunggu.

Usai pembagian hadiah untuk para juara, semua pemenang dan panitia berfoto bersama dalam suasana penuh ceria. Semua bergembira meski hujan mulai turun deras. Hujan menahan mereka yang ingin segera pulang.

Anak-anak masa depan Gereja

Lomba itu sarana bagi anak-anak untuk srawung dengan teman-teman seiman yang sebaya dengan mereka. Lomba itu juga sarana untuk bergembira sebagai anak-anak Tuhan.

Lomba yang diikuti anak-anak ini juga bisa mengembangkan bakat dan untuk melatih keberanian. Romo Issri menggarisbawahi acara hari itu. Semua anak yang ikut lomba merasakan apa yang disampaikan Rama Issri.

Semoga kegembiraan sebagai anak-anak Tuhan, pengembangan bakat dan keberanian membawa anak-anak Macanan siap menjadi anak misioner di masa depan.

Immaculata Is

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here