Pelita Hati: 06.03.2019 – Mengoyakkan Hati

0
768 views

Bacaan Yoel 2:12-18; Matius 6:1-6.16-18

“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. (Yoel 2:12-13)

Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat. 6:2-4)

Sahabat pelita hati,

HARI ini kita membuka masa prapaskah dengan ibadah Rabu Abu. Saat bagi kita untuk memulai masa masa pantang dan puasa, masa tobat dan olah rohani. Puasa dan pantang seperti apa yang harus kita usahakan? Nabi Yoel memberikan nasihat bijak, “koyakkanlah hatimu, bukan pakaianmu” (Yoel 2:13a). Bagaimana sabda ini harus dimaknai? Memang puasa dalam tradisi katolik sangatlah ringan, bukan puasa tak makan dan minum sepanjang hari. Bahkan puasa wajib hanyalah di hari rabu abu dan jumat agung. Yang dipentingkan adalah mengoyakkan hati bukan sekedar mengekang keinginan jasmani, makan dan minum. Koyakkanlah hati: dari hati yang membenci menjadi hati yang mengasihi; dari hati yang mendendam menjadi hati yang memaafkan; dari hati yang penuh kemunafikan kepada sikap hati yang penuh ketulusan; dari congkak hati menjadi rendah hati. Inilah makna dari mengoyakkan hati. Apalah artinya kita mengekang kebutuhan makanan sedemikian rupa tetapi kita masih penuh dengan rasa iri dengki bahkan dendam yang tak terpadamkan.

Sahabat terkasih,

Sabda Yesus sebagaimana dicatat oleh penginjil Matius mengingatkan agar  usaha dan kebaikan kita agar dilakukan dengan tulus hati, bukan untuk mencari pujian sebagaimana ditampilkan oleh orang-orang Farisi dan orang-orang munafik. Kebaikan yang kita lakukan bukan untuk dipertontonkan atau dipamerkan kepada orang lain. Hendaknya kita melakukannya dengan tangan tersembunyi. “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.”(Mat.6:3) Inilah sikap nyata dari kerendahan hati. Selamat memasuki masa tobat dan masa olah rohani. Semoga kita bisa menghayatinya dengan sepenuh hati agar nantinya pantas menyambut pesta paskah kebangkitan Tuhan.

Selamat memasuki masa prapaskah,
masa tobat yang penuh berkah.
Hindarkan diri dari serakah,
karena berkah-Nya  melimpah ruah.

Dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here