Pelita Hati: 12.02.2019 – Dengan Hati bukan Bibir

0
738 views

Bacaan Markus 7:1-13

Pada  suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk. 7:1-2.5-8)

Sahabat pelita hati,

ORANG-ORANG  Farisi dan ahli Taurat selalu ada akal untuk mencari kesalahan atau menjatuhkan Tuhan. Kini mereka menuding murid-murid Yesus makan dengan tangan najis karena tidak mencuci tangan lebih dahulu. Mereka menuding para murid tidak menghargai adat istiadat dan aturan hukum Taurat. Sebuah tuduhan yang tentu menjadi perhatian bagi masyarakat pada waktu itu. Namun Tuhan juga tidak kekurangan cara untuk menangkal tudingan orang-orang yang mengaku suci tapi munafik itu. Mengaku menjalankan perintah Allah tetapi sejatinya hanya aturan manusia mereka ciptakan sendiri. Jawaban Tuhan sungguh menohok, mereka dikategorikan orang yang memuji Allah dengan bibirnya bukan dengan hatinya. Artinya ibadah mereka hanya luaran dan sebatas formalitas manusiawi dan tidak mendasarkan pada hati dan iman mendalam. Inilah yang disebut kemunafikan.

Sahabat terkasih,

Bukan tidak mungkin kita juga sering bersikap seperti para Farisi dan ahli Taurat, memuji Tuhan hanya dengan bibir kita bukan dengan hati. Ini terjadi ketika kita pergi ke Gereja hanya sebagai rutinitas dan formalitas. Inilah cara-cara Farisi. Semoga kita menjauhkan diri dari  sikap picik seperti ini. Mari kita menghayati iman bukan karena tuntutan  atau sekedar memenuhi kewajiban tetapi merupakan ungkapan hati  mendalam yang bersandar pada  penyertaan Tuhan. Zaman ini bukan lagi zaman kemunafikan.

Kalau memang cinta sejati,
janganlah hendak  memisahkan.
Murid Kristus yang sejati,
harus jauh dari kemunafikan.

dari Papua dengan  cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here