Pelita Hati: 13.06.2018 – Menggenapi Iman

0
607 views

Bacaan Matius 5:17-19

Janganlah  kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

YESUS datang membawa ajaran baru atau lebih tepatnya membawa pemaknaan baru dalam menghayati hukum Taurat.  Karenanya beragam reaksi muncul bukan dari khalayak atau orang-orang banyak yang mendengar pewartaan Tuhan tetapi dari kalangan para ahli Taurat atau Farisi yang merasa menjadi pewaris hukum Musa. Mereka mengabarkan bahwa Yesus ingin mengganti hukum Taurat. Sebuah tuduhan keji yang mau tidak mau harus diklarifikasi oleh Yesus.  “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (ay. 17) Jadi Tuhan tidak ingin meniadakan ajaran dan janji-janji Tuhan dalam Taurat, tetapi menggenapinya. Apa yang kurang? Yesus tidak ingin murid-murid-Nya dan kita semua menjalani hidup keagamaan hanya demi formalitas belaka atau demi aturan dan tuntutan. Menghayati iman dan liturgi harus bersumber pada hati dan dapat diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Ketika orang begitu rajin membaca Sabda Suci bahkan rajin mengikuti ibadah setiap hari  tetapi tutup mata terhadap orang-orang yang sedang menderita sejatinya ibadah mereka kosong belaka atau hampa tak bermakna.

Sahabat terkasih,

Marilah kita belajar beriman secara benar alias menghayati iman dan tata ibadah secara setia sekaligus mewujudnyatakannya dalam perhatian kepada sesama terutama yang menderita. Jika demikian kita pun telah menggenapi ajaran iman itu dengan ragam macam tindakan kebaikan. Janganlah menghayati iman karena aturan dan tuntutan tetapi karena kerinduan. Selalu rindu mendengarkan Firman dan rindu pula untuk mewujudnyatakan Firman dalam hidup keseharian.

Biru langit memantul di lautan,
sungguh indah dan megagumkan.
Jika iman tanpa perbuatan,
takkan berkenan di hati Tuhan.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here