Pelita Hati: 17.01.2019 – Belas Kasih-Nya

0
771 views

Bacaan Markus 1:40-45
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.  Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Sahabat pelita hati,
KINI kita berjumpa dengan kisah Tuhan melakukan perbuatan mujizat kepada seorang yang menderita sakit kusta. Bukan kehendak Tuhan semata-mata tetapi karena permohonan si sakit dengan penuh iman. Karenanya tindakan kasih Tuhan adalah sebuah tanggapan dan jawaban terhadap iman seseorang. Seorang yang sakit kusta ini sungguh percaya dan yakin bahwa Tuhan dapat menyembuhkan sakit yang dideritanya. Tuhan pun berbelas kasih dan mengabulkannya. Karenanya iman merupakan prasarat utama bagi terjadinya mujizat Tuhan.

Sahabat terkasih,
Dua pesan keutamaan dapat kita petik dari pelita sabda ini,

Pertama, mujizat Tuhan itu sungguh ada dan nyata. Syaratnya adalah percaya. Kita yakin mujizat-Nya tetap berkarya di antara kita. _

Kedua, Tuhan mengajarkan kita untuk memupuk semangat hidup berbelas kasih kepada sesama dan menjauhkan diri dari sikap sombong dan membanggakan diri sendiri. Inilah ajaran kerendahan hati Tuhan. Bukan pujian yang dicari tetapi hanya melayani dan mengabdi. Semoga kita pun mampu menjadi pelayan yang rendah hati di zaman ini sesuai dengan panggilan dan tanggungjawab kita masing-masing. Tuhan tak menilai jenis pelayanan dan pekerjaan kita, tetapi Ia menghargai kesungguhan kita dalam mengabdi dan melayani.

Buah Markisa buah delima,
sedikit asam segar rasanya.
Berbelas kasih kepada sesama,
mewartakan kasih cinta-Nya.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here