Pelita Hati: 17.06.2019 – Tak Melawan apalagi Membalas

0
641 views

Bacaan Matius 5:38-42

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Sahabat pelita hati,

KITA masih melanjutkan nasehat Yesus dalam rangkaian kotbah di bukit. Nasehat injil hari ini berkisar tentang ajakan untuk tidak melawan apalagi membalas terhadap kejahatan atau perilaku tidak baik sesama. Dengan kata lain Tuhan mengajarkan agar kita tak mendendam, rela mengalah dan berkorban bagi sesama. Kejahatan tak boleh dibalas dengan kejahatan, “gigi tak boleh diganti dengan gigi”. Bahkan jika ditampar pipi yang satu harus rela memberikan yang lainnya.

Sahabat terkasih,

Hal yang sama juga terjadi dengan soal pakaian. Konon pada zaman Yesus, ada kebiasaan orang menggadaikan bajunya sebagai jaminan atas hutang, tentu saja bagi yang kurang mampu. Tetapi jarang yang mau menggadaikan jubah, karena jubah memiliki nilai yang amat berharga di mata orang Yahudi. “Memberi jubah” berarti rela memberikan miliknya yang berharga bagi orang lain. Dengan demikian sabda ini mengajak kita untuk membangun sikap rela hati, rela berkorban dan rela memberikan yang terbaik bagi sesama. Tuhan mengajarkan agar kita tak hanya memikirkan diri sendiri tetapi mengarahkan perhatiannya kepada orang lain. 

Sahabat terkasih,

Apa yang diajarkan Tuhan bukan sekedar tuntutan yang ada dalam Injil di masa dulu. Kini kita pun harus menghayatinya dalam konteks zaman sekarang. Intinya adalah Tuhan mengajak kita untuk menjadi pribadi yang rela dan siap berkorban sebagaimana Yesus juga menjadi “sulung” dalam hal

berkorban bahkan Ia mempertaruhkan harga dii dan nyawa-Nya hingga rela menderita dan wafat dengan hina. Ajaran dan ajakan Tuhan ini tidak mudah tetapi harus menjadi perjuangan dan pergulatan hidup kita setiap saat. Semoga kita mampu menjadi pribadi yang siap dan rela berkorban.

Jika tiba musim semi,
hawa dingin merasuk di hati.
Ya Tuhan mampukan kami,
menjadi pribadi yang rendah hati.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here