Pelita Hati: 17.09.2018 – Hati yang Menghamba

0
657 views

Bacaan Lukas 7:1-10

Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali. (Luk. 7:6-10)

SAHABAT pelita hati,

Kisah seorang perwira kapernaum yang memintakan penyembuhan kepada Yesus untuk salah seorang hambanya adalah kisah indah dan menyentuh hati. Bayangkan, hamba (konteks zaman itu) bukanlah pembantu rumah tangga atau asisten rumah tangga seperti di zaman ini yang berhak menerima upah dan bergaji. Hamba adalah seorang budak atau seorang yang tak merdeka. Ia tidak dapat menikmati hak-hanya sebagai seorang pekerja atau manusia pada umumnya. Hamba bisa diperjualbelikan oleh sang pemilik atau tuannya. Namun Sang Perwira ini memiliki hati mulia, ia sungguh memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan hambanya. Lebih mengharukan lagi, ketika Yesus datang menuju ke rumahnya, ia berseru “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Sebuah ungkapan hati yang menggetarkan hati Tuhan. Hati seorang perwira yang sungguh menghamba. Ia bukan saja rendah hati tetapai imannya teramat dalam. Kata-kata perwira Kapernaum inilah yang kemudian diabadikan oleh liturgi Gereja dan kita doakan setiap kali  menyambut tubuh Kristus dalam ekaristi.

Ini minuman dari buah Leci,
minuman segar silakan dinikmati.
Tangga menuju hidup suci,
adalah hidup rendah hati.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here