Pelita Hati: 20.02.2019 – Mata Hati, Mata Iman

0
558 views

Bacaan Markus 8:22-26

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: “Jangan masuk ke kampung!”

Sahabat pelita hati,

JIKA melihat peta, Betsaida ada di pantai timur Danau Galilea alias secara administratif bukan termasuk wilayah Galilea dan Israel tentu saja. Di tempat inilah Tuhan mengerjakan mujizat-nya, menyembukan orang buta sehingga dapat melihat kembali. Dengan demikian Tuhan mengerjakan tanda-tanda kasih-Nya kepada siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Ia tak membatasi pelayanan-Nya, Ia tidak pilih-pilih orang yang dilayani-Nya.

Sahabat terkasih,

Proses penyembuhan orang buta ini memang lain daripada yang lain. Tidak sekali sentuh langsung sembuh. Sentuhan pertama dengan olesan ludah, si buta bersaksi bisa melihat orang tapi seperti pepohonan yang samar-samar, baru setelah Yesus meletakkan tangan di mata orang itu untuk kedua kalinya  kemudian sembuh dan dapat melihat dengan jelas.

Sahabat terkasih,

Tuhan menuntun orang yang buta keluar dari kampung dan menyembuhkan sakitnya. Ini berarti perjumpaan pribadi dan pengakuan iman pribadi menjadi kunci dari karya mujizat-Nya. Rupanya si sakit ini tidak buta sejak lahir, mengingat dia bisa menggambarkan “pohon” pada saat  tahap pertama penyembuhannya. Maka penyembuhan orang buta ini dapat dimaknai sebagai “pemulihan” sehingga bisa melihat kembali seperti sedia kala. Kisah ini membawa kita pada kesadaran bajwa mata batin dan mata iman kita pun perlu dipulihkan kembali dari kebutaan hati dan rohani. Syaratnya adalah mengakui bahwa kita ‘buta’ dan bersedia dituntun Yesus hingga terjadi perjumpaan pribadi. Di situlah kita memperbaharui janji iman. Semoga pelita sabda ini menjadikan kita siap dituntun oleh Tuhan melalui sabda-sadda kudus dan keutamaan-Nya yang kita renungkan setiap hari, sehingga mata hati kita dapat menyaksikan karya baik-Nya dalam hidup sehari-hari.

Gugur bunga di musim semi,
dinginnya menusuk hati.
Tuhan Yesus sembuhkanlah kami,
orang buta, orang congkak hati.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here