Pelita Hati: 23.09.2018 – Melayani dengan Rendah Hati

0
575 views

Bacaan Markus 9:30-37

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk. 9:33-37)

SAHABAT-SAHABAT pelita hati,

Kini kita berjumpa dengan Yesus bersama murid-murid-Nya yang sedang berjalan menuju Yerusalem. Yerusalem adalah tempat Ia akan menuntaskan hidupnya di atas salib. Di tengah perjalanan Yesus memberitahukan penderitaan, salib dan kematian yang akan dialami untuk kedua kalinya. Selagi Tuhan menceritakan tentang derita yang harus Dia lalui, para murid justru mempertontonkan sikap yang kontradiktif. Mereka memperbincangkan dan memperdebatkan tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka justrus berdebat tentang siapa yang paling berkuasa.

Sahabat tekasih,

Beberapa penafsir memaknai sikap para murid ini sebagai murid yang gagal, tak mampu menangkap isi pewartaan Sang Guru. Karenanya dengan amat tegas Yesus menyatakan jika ingin menjadi besar haru rela menjadi pelayanan. Dan inilah konsep kepemimpinan kristiani, pemimpin adalah pelayan atau pengabdi bukan penguasa. Jika Yesus mengambil seorang anak kecil sebagai model yang harus disambut oleh para murid, sebenarnya Yesus ingin menekankan kehadiran-Nya di dalam diri orang-orang sederhana. Seorang anak kecil pun dapat menjadi kehadiran-Nya. Jika kita menerima orang-orang lemah, sejatinya kita menerima Yesus. Seringkali kita lalai bahkan abai dalam hal ini.

Sahabat terkasih,

Setiap orang pasti memiliki  keinginan, cita-cita bahkan ambisi dalam hidup. Yang terpenting adalah cita-cita dan  ambisi itu semata-mata bukan didorong oleh  keinginan menjadi besar demi kesombongan dan kuasa tetapi demi pelayanan yang lebih maksimal. Karenanya wajib diiringi sikap rendah hati sebagaimana Tuhan kita dengan rendah hati menuntaskan pengorbanannya hingga di kayu salib. Sanggupkah Anda? Mari kita mulai dari dalam keluarga dan lingkungan terdekat kita. Selamat hari Minggu.

Jagalah hati jangan kaunodai,
jagalah hati lentera hidup ini.
Hidup itu untuk mengabdi,
dengan rendah hati kita melayani.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here