Pelita Hati: 31.05.2018 – Perjumpaan yang Meneguhkan

0
683 views

Bacaan Lukas 1:39-45

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Sahabat pelita hati,

SETIAP tanggal 31 Mei liturgi gereja merayakan pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabeth saudaranya sebagaimana dikisahkan oleh penginjil Lukas (Lukas:39-45). Maria dan Elisabeth adalah dua pribadi (perempuan) sarat keutamaan dan teladan dalam beriman. Keduanya dilibatkan Tuhan ikut berpartisipasi dalam karya penebusan. Elisabeth dipilih oleh Allah untuk menghantarkan Yohanes Pembaptis, sang penyiap kedatangan Mesias sedangkan Maria dipilih Allah untuk menjadi Bunda Penebus.

Sahabat terkasih,

Kunjungan dan sapaan Maria kepada Elisabeth adalah kunjungan dan sapaan manusiawi yang membuahkan kegembiraan rohani. Kehadiran Maria tidak hanya membawa kegembiraan luaran tetapi menyentuh hingga lubuk sanubari. Perjumpaan itu sungguh meneguhkan, bukan saja bagi Elisabeth tetapi juga bagi Maria. Elisabeth melonjak kegirangan karena merasa diri tidak pantas mendapat kunjungan Sang Ibu Tuhan.  Inilah ungkapan kerendahan hati Elisabeth.  Pujian yang terlontar dari Elisabeth pun tidak membuat Maria membusungkan dada tetapi ia merunduk hati. Bukan manusia yang layak dipuji tetapi Allahlah yang harus diagungkan sebagaimana tersurat dalam Kidung Maria atau magnificat dalam Lukas 1:46-56. Itulah gambaran pribadi Maria dan Elisabeth yang sama-sama rendah hati dan tak menyombongkan diri. Perjumpaan mereka sungguh meneguhkan dan membawa kebahagiaan karena hidupnya sarat keutamaan.  Hidup mereka sungguh menghayati keutamaan rendah hati.  Semoga kita mampu meneladan keutamaan yang telah diteladankan oleh dua pribadi beriman ini.

Nostalgia di masa sekolah,
terkenang indah di masa kini.
Santa Maria bunda Allah,
doakanlah kami yang berdosa ini.

dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here