Pengalaman Studi di Taiwan: Memaknai Kemerdekaan di Negeri Orang, Catatan Refleksi (8)

0
121 views
Jalanan nan bersih dan tertib di seluruh kawasan Taiwan. (Gregorius Teguh Santosa)

MEMASUKI bulan Agustus di Tanahair pastilah semarak dalam nuansa perayaan kemerdekaan yang kali ini memasuki usia ke-73. Dirgahayu Indonesia.

Sebagaimana bisa kita pantau melalui televisi online nuansa merah-putih menyelimuti seluruh negeri, ditingkahi beragam kegiatan serta upacara bendera, tentunya. Di seputar kampus NDHU, sudah pasti kami tak merasakan nuansa sesemarak itu.

Upacara bendera tentu akan dilaksanakan di Kantor Perwakilan Indonesia di Taipei dan juga oleh kalangan PPI-Taiwan (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Taiwan).

Namun, ada hal menggelitik bagi penulis: bagaimana memaknai kemerdekaan bangsa dan negara dari kejauhan, berjarak (baik secara fisik maupun batin), di negeri orang, bukan di kampung halaman sendiri. Kesepian dan kesendirian itu pasti, khususnya di daerah Shoufeng-Hualien yang relatif jauh dari Ibukota Taipei (foto 1-tugu Shoufeng).

Di luar hiruk-pikuk dan gemebyar aktivitas kota besar, makna kemerdekaan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara terasa dan terefleksikan dalam aktivitas keseharian di jalanan sekitar kampus NDHU. Ketertiban dan kedisiplinan dalam menggunakan jalanan dan segala fasilitas umum sungguh menggugah nurani.

Pengalaman Studi di Taiwan: Pendidikan Khas Para Suster Ursulin di Hualien (7)

Rasa memiliki

Mungkin benar yang dikatakan sebagian warga Indonesia disini, bahwa rasa memiliki kita (sense of belonging) sebagai bangsa atas berbagai barang publik (public goods and services) masihlah dangkal, khususnya bila dibanding warga Taiwan.

Contoh paling nyata nan sederhana adalah jalan raya, bukan jalan tol, jalan biasa. Betapa tertibnya seluruh pengguna jalan disini, marka pembatas jalan sungguh ditaati, sehingga betapa nyaman dan amannya pengguna sepeda dan/atau sepeda motor dalam melintas kendati lalu-lalang kendaraan besar tetap ramai-lancar di sebelahnya. Demikian pula soal parkir, semua serba tertib dan pada peruntukannya (properly).

Jalanan bersih.

Tertib bayar pajak

Sebagai sesama warga negara, baik rakyat Indonesia maupun Taiwan, sama-sama membayar pajak bagi negara. Kemudian, hasil pengumpulan pajak tersebut dikembalikan lagi guna pengadaan berbagai fasilitas dan layanan publik yang seyogyanya dapat dinikmati bagi seluruh warga.

Bedanya, kita masih sering abai dan tak peduli dalam menjaga serta memelihara fasilitas publik. Bahkan tak jarang muncul pikiran di benak: “Ah, ini kan bukan punyaku, rusak biarlah, nanti akan ada yang menggantinya….emang gue pikirin….”.

Merawat fasilitas publik dari hasil pengumpulan pajak.

Pada titik inilah, rasa ikut memiliki dan tanggungjawab publik di Taiwan jauh lebih kental dan mengemuka. Mereka begitu menyadari bahwa uang keringat mereka yang dikenakan pajak mestilah dijaga dan dimanfaatkan bersama bagi kesejahteraan bersama. Maka ketertiban, kedisiplinan, dan kepedulian menjaga serta merawatnya adalah keniscayaan. Bila tidak maka akan cepat rusak dan mesti dilakukan pengadaan lagi yang memboroskan uang pajak rakyat.

Mungkin, di tengah semarak Perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia, kita bersama perlu merenungi diri: sudah cukupkan semangat dan rasa cinta tanah air kita dalam ikut menjaga dan merawat segala fasilitas publik selama ini? Atau, kita acuh tak peduli …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here