Pengembara Bertasbih

0
99 views
Pengembara by travelled path.

AKU bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seorang pencari kata yang membuat aku hidup dalam dunia para pengembara. Dunia yang penuh diwarnai tapak kaki dan tangan para dewa-dewi yang berkelana dalam alam.

Aku memang salah satu dari ribuan dan bahkan jutaan dewa yang ada dalam dunia. Tapi aku bukan dewa pembasmi atau sehebat dewa seperti yang didongeng oleh ibu dan ayah tercinta ketika dunia kecil masih menghiasi malamku.

Aku sadar bahwa aku bukan hanya aku yang sekarang ini berada di dalam duniaku, tapi aku yang hadir dalam keserupaan waktu laluku dan furturalku.

Waktu telah mengukir diriku hingga detik ini, detik yang penuh rahasia meramal sejuta kenangan yang akan ditemui dalam perigi kehidupan. Ingin kuteriak dan mengisahkan pada dunia tentang pengalaman masa silamku, tapi apa daya suaraku tak seperti para dewa yang diceritakan ibunda yang mampu bergaung melebihi hempasan samudera.

Hatiku membeku dalam diriku karena ketakberdayaan dan kekecilanku.

Kucoba mencakar pena tuk kukisahkan kepada duniatentang dunia rindu yang menggerogoti malamku. Kisah yang ingin kujerit pada dunia tentang silam dan kini.

Kisah-kisah yang menyayat kalbu tentang rindu yang tak kunjung henti dalam pesona waktu.

Semuanya ingin kusurat kepada semua penghuni bukit bumi, bagi semua dewa-dewi pengembara yang mengukir tapak di pasir kehidupan, tapi toh itu masih tersirat dalam benak yang terbatas diam.

Dalam kamar ini, kumpulan wajah pencari kata mengatur asa tentang jalan mengembara bersama malam dalam lautan mimpi yang didandan bintang yang tak terhitung, sedangkan aku masih menyalakan sebuah lilin dan membuka sehelai kertas berwana putih kusam tanpa ada tinta yang menodainya.

Kudiam sejenak sambil menerawang kertas itu didepan lilin, kalau-kalau saya dapat menemukan bekas pada perekamen kusam itu.

Ah ternyata tidak …. syurkurlah. Kemudian kuambil sebuah pensil… Adakah matamu lebih terang dari kucing di malam hari?

Tanya seseorang wajah yang terkubur gelap. Aku pun diam. Tidurlah…. pagi sedang menunggumu untuk mengetuk jendela hari yang baru. Dia pun diam sembari mengatakan have nice dream.

Jangkrik sudah tertidur pulas, ayam dan burung hantu pun seakan masih mendengar syair hening yang dikisahkan sunyi dan gelapnya malam, sehingga mereka tak mampu untuk menyainginya.

Semuanya diam, seakan tidak ada makhluk satu pun yang ada di atas bumi, kecuali aku sendiri. Aku pun mematikan lilin yang kini tinggal setengah dimakan si jago merah.

Kucoba mengikuti untuk mereka yang kini sudah berada dalam awan mimpi, namun hanyalah sia-sia.

Apakah mungkin karena kopi disore hari tadi? Ya mungkin …pikirku.

Pikiranku mulai melayang dan mulai mengenang spenggal kisah yang larut dalam waktu bersama ibu.

Cerita ibunda masih terngiang kini di kupingku, waktu itu, ketika dunia masa kecilku masih mewarnai diriku. Ibunda ya ibunda … yang selalu menjadi lamunanku, ketika sepi menggoda bayang malamku dan duniaku.

Bunda yang selalu menggendongku, merangkul serta membopongku dalam pelukan tangannya yang mesra. Dia yang tahu ketika aku lapar dan dahaga, ketika aku menjerit digigit semut merah di samping rumah.

Kukenang ketika itu, waktuku merengek meminta sesuap nasi dan seteguk air, ibu mengambilnya di meja tua yang terbuat dari kayu sukun … hasil jerih payah ayah…. sambil mengacungkan tangannya memintaku untuk berjalan mendapatkan air dan sepiring nasi di tangannya ditemani ikan asin yang dibakar di atasnya.

Sungguh lucu dan mengagumkan ketika itu.

Duniaku dan kisahku. Kisah masa silam yang menjadi penawar sepi bagiku di sini, di malam ini. Kutelan air liur yang ini sudah penuh sampai di langit-langitku.

Kini aku di sini … diriku ibarat seorang pengembara yang kehilangan jejak di rimba raya yang ingin mecari dan mendapatkan buruan bergemuk untuk mengisi ruang rinduku dan setetes embun untuk memuaskan tenggorokanku yang kini telah kering.

Ya… aku memang seorang pengembara.

Demikianlah julukanku.

Aku datang dengan segala ketidaktahuanku mencari dia yang ada sebelum adanya waktu. Anehnya bahwa aku tak pernah bosan untuk mengembara dan menikmati apa yang sebenarnya aku sendiri tak tahu itu.

Kata orang… dia itu seperti mencari kucing hitam di tengah malam yang gelap, dan diyakini bahwa kucing itu ada. Tapi aku sadar bahwa aku sedang mencari kucing hitam itu dan aku yakin pula bahwa kucing itu ada terkubur dalam gelapnya sang kelam.

Pengembara bertasbih, mencari kucing hitam dalam pekat, tak bercahaya. Mungkinkah aku sedang berhalusinasi?

Bukan…. kataku kepadamu wahai manusia pengembara.

Aku sedang bukan berhalusinasi tapi aku sedang terhanyut dalam gelora rindu, ingin mencari jejak kucing hitam yang pernah digambarkan sajak para pujangga.

Para pujangga menuturkan syair menggambarkan tentang keadaanya, tapi mereka tak mengatakan di mana sang kucing hitam itu berada.

Pujangga mengupas tentang dia, tapi kenihilan yang kutemui….kosong… tak kupahami. Hanya waktukah yang tahu tentang dia? Mungkin ia.

Tapi… apa memang waktu merasakan kehadirannya? Aku sang pengembara bertasbih mencari kucing hitam dalam pekatnya sang malam.

Kini, malam seakan menggodaku, aku terlempar dalam bayang sang kucing hitam, mencari sosok yang aku tak tahu tentangnya,.

Kumencarinya di sini… di ruang tahanan beratap merah.

Ruang yang tak pernah ada dalam benakku sebelumnya dan bahkan benak ibu dan ayah. Ruang tahanan yang menyimpan wajah-wajah pengembara.

Wajah yang penuh dengan seribu pertanyaan tentang adanya sang kucing yang ku cari. Wajah-wajah berias pertanyaan tentang sesuatu di balik syair para pujangga.

Apakah tasbih ini dapat mengisi ruang kerinduan yang kini sedang memompa batinku?

Tanyaku kepada wajah yang tak asing lagi bagiku. Paul yang dari tadi telah terjaga karena nyamuk yang seakan terus bernyayi di kupingnya. Wajah pengembara yang selalu memberi insipirasi tentang dunia malam gelap tak bercahaya itu.

Tasbih … ia tasbih…. tasbih terbuat dari serpihan benda alam di rimba raya, dengan manik-manik berlian memahkotai tanda T di puncak piramida bumi.

Dalam wajah yang terkubur gelap, ia melanjutkan pembicaraanya; ia adalah air yang menghantar makanan bagi ikan-ikan di laut … di rahim bumi terdapat miliaran butiran embun dan semuanya tersembunyi bagi yang buta.

Pernahkah kau melihat ikan bosan berenang atau elang yang bosan terbang?

Diam. Mula-mula aku tersenyum mendengar jawabannya. Tapi, ketika kuamati wajahnya yang meskipun tak tampak sama sekali, kudapati jawaban dalam bahasa diamnya.

Pikiranku terombang ambing seperti pemabuk yang telah hanyut dalam larutan alkohol.

Kuedarkan pandangankupada setiap pelosok kamar… kesunyian menggumpal, ketakutan menghantuiku karena gelap yang amat sangat. Terlalu rumit memahaminya.

Ya, jawabannya tersembuyi di balik diam, pikirku. Kucoba mengatur tempat pembaringanku untuk melepas lelah sembari memikirkan jawaban sang pengembara itu.

Di rahim bumi? Ikan? Elang? Apa maksudnya?

Adakah bumi ini adalah sama dengan bunda yang telah mempunyai rahim? Gumamku dalam gelap sambil menyimpanya di benak dalam ruang yang penuh misteri. Ya, mungkin betul bahwa bumi ibarat seorang ibu, sama seperti Ibu telah menarik aku untuk keluar dari himpunan para malaikat dan sekarang aku disuruh olehnya untuk kembali kepada kumpulan para malaikat melalui jalan ini, jalan sang pengembara, demikian pun bumi yang telah melahirkan embun untuk menumbuhkan rumput yang tersembur dahaga di lereng safari ini.

Malam bertambah pekat dan aku masih dihantui oleh ribuan pertanyaan tentang kucing hitam itu. Kulilit dan kugenggam tasbih.

Kataku dalam hati, hanya dengan tasbih kucoba mengukir langkah bersama waktu, mengikuti arus senandung mazmur di senja penuh harmoni.

Ku terus mencari, tak kenal waktu dan tak juga putus asa mencarinya hingga aku berbalik berkumpul bersama ribuan malaikat di langit lapis ke tujuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here