Temu Wicara PNS Katolik – Komisi Kerawam KWI: Memimpin Artinya Melayani (3)

2
1,741 views

KESAN pertama saat saya masuk dan duduk di ruangan pertemuan yang diselenggarakan Komisi Kerasulan Awam KWI dan Gaudium et Spes Community (GSC) Sabtu (31/1) pekan lalu adalah perasaan nyaman. Nyaman karena saya berada di antara teman-teman dan orang-orang yang “senasib” dengan saya: seorang  PNS katolik yang di kantor menjadi kelompok  minoritas di lingkungan kerja. Pada pertemuan itu, saya bisa mendapatkan banyak pembelajaran dari orang-orang yang hadir melalui pengalaman-pengalaman dan ilmu-ilmunya yang luar biasa.

Pertemuan itu memgambil tema “Peran Pegawai Negeri Sipil (PNS) Katolik dalam Mewujudkan Good Governance: Panggilan dan Tantangan”.

Acara itu dipandu dengan syering pengalaman dari dua narasumber  dengan “sejarah kerja” yang bertolak belakang. Yang pertama adalah FX Hadi Rudiatmo yang biasa disapa Bapak Rudi. Beliau adalah Wakil Walikota Solo saat ini. Dan yang kedua adalah  Dominicus Savio Priyarsono alias Pak Sonny yang bekerja sebagai dosen Fakultas Ekonomi Manajemen di IPB dan menjadi Ketua Komite Risiko Usaha dan Good Corporate Governance Dewan Komisaris PT Angkasa Pura I.

Pak Soni bicara dari segi perspektif akademis mengenai good corporate governance, sedangkan Pak Rudi dari segi praktik pengalaman dia sebagai  seorang PNS Katolik.

Memimpin berarti melayani                                                                                                                                                                                      Dalam paparannya yang berjudul “Panggilan dan Tantangan menjadi Pemimpin yang Melayani”, Pak Rudi yang kini menjadi Pejabat Pelaksana Walikota Solo –lantara Jokowi nyaleg jadi Jakarta 1—mengatakan, pemimpin identik dengan pelayan. Dan pedoman yang harus dipahami dalam menjadi seorang pemimpin adalah 4 pilar “ketahanan nasional” yakni Pancasila, UUD’45, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Kita semua, kata dia, termasuk para pegawai negeri sipil katolik  mempunyai kemampuan melakukan sesuatu, tetapi belum tentu semua memiliki kemauan. Untuk itu, kemauan tersebut harus kita dorong. Pemimpin masa depan adalah pemimpin yang tahu cara bertanya, bukan cara berbicara.

Seorang pemimpin juga harus punya rasa malu: jika berbuat maksiat, jika terlibat skandal,  jika korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan malu jika tidak bisa memenuhi janji-janjinya kepada masyarakat.

Sikap pemimpin yang melayani adalah mau mendengar, melihat dan berbuat.

Tahapan kepemimpinan menuju perubahan adalah kepemimpinan personal, memimpin satu orang (satu per satu), memimpin kelompok, memimpin organisasi.

Tujuh “si” kunci kepemimpinan melayani adalah komunikasi, koordinasi, solusi, sosialisasi, realisasi, koneksi, evaluasi,

“Si yang sering dilupakan oleh pemimpin-pemimpin saat ini adalah sosialisasi. Kurangnya sosialisasi mengakibatkan adanya bentrokan. Contohnya pada saat melakukan relokasi pedagang kaki lima (PKL). Setelah melakukan observasi dan ingin memindahkan para PKL ke tempat yang baru, dilakukan sosialisasi mengenai pemindahan tersebut sehingga mereka tahu maksud dan tujuan mereka dipindahkan, lokasi dan kondisi tempat yang baru sehingga mereka bisa dengan ikhlas pindah ke tempat yang baru tanpa adanya kekerasan/bentrokan,” jelas Pak Rudi

Pesan leluhur                                                                                                                                                                                                                        Sebagai orang Jawa, Pak Rudi lalu membeberkan beberapa pesan moral yang sering disampaikan para leluhur. Itu antara lain walaupun pandai jangan menggurui, walaupun cepat jangan mendahului, walaupun sakti jangan membunuh.

Salah satu tantangan yang pernah dialami oleh Bapak Rudi adalah beliau dipaksa harus    menanggalkan akronim nama baptisnya ketika maju menjadi caleg walikota. Namun desakan itu tidak dia pedulikan dan beliau tetap memakai nama singkatan permandian itu di depan namanya. “Tetap harus bisa menjadi seorang katolik, tanpa harus melekatkan diri pasa sebuah jabatan politik,” katanya.

Akhirnya FX Hadi Rudiatmo tetap berhasil terpilih oleh masyarakat Solo  mempimpin Solo mendampingi Walikota Solo Joko Widodo alias Jokowi.

Merubah keadaan                                                                                                                                                                                                                Sementara itu, materi yang disampaikan Pak Sonny antara lain pemahaman umum bahwa Sekecil apa pun yang bisa kita lakukan, lakukanlah agar itu dapat merubah. Sebab, kata dia, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar,” sambungnya menyitir perikop Injil Lukas 16:10.

Juga, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya; jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat,”tegasnya mengutip perikop Injil Matius  5: 37.

 

2 COMMENTS

  1. Membaca apa yang dituliskan oleh Mbak Marcellina Widiyastuti ini, saya memberikan sedikit koreksi bahwa Bapak FX Rudi Hadiatmo bukanlah seorang PNS Katolik. Tapi beliau adalah seorang pejabat yang beragama Katolik. Saya berani mengatakan demikian, karena sejauh saya tahu bahwa sebelum beliau menjabat sebagai Wakil Walikota Surakarta (Solo) adalah seorang Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Solo. Artinya, beliau adalah seorang praktisi partai. Seorang anggota partai tak boleh menjadi seorang PNS. Sebab menurut peraturan Badan Kepegawaian Negara (BKN) kalau seorang PNS yang menjadi anggota partai harus mengundurkan diri sebagai PNS. Karena itu, setahu saya Bapak FX Rudi Hadiatmo bukan seorang PNS, tapi seorang pejabat yang beragama Katolik, yang menerapkan prinsip-prinsip imannya dalam bekerja sebagai pejabat negara. Sekian. Terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here