PESPARANI 2018, Saatnya Mewartakan Kohesi Sosial di Maluku kepada Publik (2)

0
262 views
Bapak Uskup Keuskupan Amboina: Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC. (Ist)

PESPARANI (Pesta Paduan Suara Gerejani) 2018 yang akan berlangsung di Ambon, 27 Oktober-2 November 2018, adalah contoh nyata tentang sinergi produktif yang dihasikan oleh tiga elemen penting di Indonesia.

Ketiga elemen itu menyatu padu dalam organ lembaga super grès bernama Pembinaan dan Pengembangan PESPARANI Katolik Nasional  atau biasa disebut LP3KN.

PESPARANI 2018 sebagai perhelatan festiva paduan suara gerejani khas rohani dan liturgi Katolik ini merupakan hal yang pertama kali  berhasil digelar Umat Katolik  Indonesia. Hajatan ini meretas lahir atas kerja apik antara LP3KN bersama Pemda Maluku dan Jaringan Kerjasama Lintas Iman di provinsi ini.

Logo PESPARANI 2018.

Menjadi menarik, ketika menyebut Ambon sebagai lokasi di mana PESPARANI 2018 pekan depan akan digelar. Itu karena Ambon pernah dibuat ‘berdarah-darah’ sepanjang kurun waktu tahun 1999-2001 lantaran  terjadi konflik sosial antarumat beragama.

Kini, Ambon sudah berubah total. Suasana tenang, aman, dan damai menjadi hari-hari yang menyejukkan di sini. Karena itu, tak heran bila Ketua MUI Provinsi Maluku DR. H. Abdullah Latuapo menyampaikan harapannya akan PESPARANI 2018 sebagai berikut.

“Kita ingin PESPARANI ini tidak kalah keberhasilannya dengan MTQ dan PESPARAWI. Itu yang kita harapkan. Kami mengimbau masyarakat di Ambon, yuk mari kita dukung dan sukseskan acara PESPARANI Katolik Nasional yang pertama kali terjadi ini,” ungkapnya dalam pernyataan tertulis di acara  jumpa pers di Jakarta, Selasa (16/10/18) kemarin.

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin dalam sebuah acara seminar jelang PESPARANI. (Mathias Hariyadi)

Antusiasme masyarakat Ambon

14 km jalan membentang dari Bandara Pattimura menuju Kota Ambon, Ibukota Provinsi Maluku. Sepanjang jalan itu pula, beragam spanduk, umbul-umbul, dan baliho tentang Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik 2018 sudah mulai ‘mengudara’ dan terpasang sejak pekan lalu.

“Ini belum seberapa. Nanti pada hari H, semua toko dan tempat publik akan menjadi lebih meriah lagi dalam menunjukkan antuasiasmenya menyambut PESPARANI 2018,” ungkap Bobby Pattiradja, staf humas LP3KN dalam jumpa media kemarin.

“Perkantoran dan pertokoan juga akan memasang berbagai atribut untuk menyongsong kedatangan kontingen dari 34 provinsi,” tambahnya lagi.

Format beda

Ketua LP3KN Prof. Adrianus Meliala dalam jumpa pers kemarin juga menyebutkan, pelaksanaan PESPARANI ini mengadopsi format berbeda dibanding MTQ dan PESPARAWI yang  keduanya itu sepenuhnya digerakkan oleh Ditjen Bimas Islam dan Ditjen Bimas Kristen.

PESPARANI 2018 ini bukan besutan oleh Kemenag RI dalam hal ini Ditjen Bimas Katolik, melainkan hasil produksi besutan LP3KN bekerjasama dengan panitia lokal di Maluku. Dalam organ LK3KN ini ada sejumlah representan mewakili tiga elemen penting di dalamnya yakni wakil dari KWI, Pemerintah, dan masyarakat sipil.

Logo LP3KN.

“LK3PN tidak hanya ada di Jakarta, melainkan juga ada di tingkat regional dengan mengadopsi nama lain sebagai LK3KPD yang masing-masing berdiri secara independen,” terang Ketua LK3PN Prof. Adrianus Meliala.

Keberagaman dan kohesi sosial khas Indonesia

Bagi Ketua MUI Provinsi Maluku DR. H. Abdullah Latuapo, PESPARANI 2018 di Ambon pekan depan ini di bukan sekedar perayaan Umat Katolik saja. Namun, gelaran paduan suara khas Katolik itu juga telah dan akan  melibatkan seluruh kelompok umat beragama ada di Maluku.

Menurut dia, kebersamaan ini sudah terjalin sejak MTQ dan PESPARAWI di Ambon yang juga melibatkan semua kelompok lintas pemeluk agama. Sewaktu MTQ digelar,  kontingen dari Provinsi Banten malah tinggal di kediaman Uskup Keuskupan Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC.

PESPARANI, Pertama Kalinya Umat Katolik Gelar Festival Paduan Suara Rohani Liturgis (1)

Hal itu langsung mendapat konfirmasinya  dari Bapak Uskup Keuskupan Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC.

Menurut mantan Provinsial Kongregasi Imam Misionaris Hati Kudus (MSC) ini, Umat Katolik Keuskupan Amboina telah terlibat aktif dalam menyukseskan penyelenggaran MTQ dan PESPARAWI di Ambon beberapa tahun lalu. Karena itu, kerjasama yang apik ini diharapkan juga bisa terjalin dalam PESPARANI 2018.

Terlibat sebagai panitia lokal

Kelompok umat beragama lain, kata Bapak Uskup Keuskupan Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC, dengan sukacita telah melibatkan diri ikut menyukseskan penyelenggaraan PESPARANI. Keterlibatan ini itu terjadi di antaranya melalui kesediaan sejumlah gedung pertemuan  yang telah ‘membuka pintu’ selebar-lebarnya bagi PESPARANI.

Umat Kristen di Ambon menyediakan Gedung Baileo Oikumene dan Gedung Cristian Center. Sementara, Umat Muslim di Ambon juga membuka pintu Islamic Center.

Uskup Keuskupan Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC.menjadi lokasi seminar dan musyawarah nasional.

Gereja Katolik juga menyediakan Aula St. Fransiskus Xaverius, Catholic Center.

Sementara, aset pemerintah daerah yang digunakan antara lain Lapangan Merdeka, Kantor Gubernur Maluku, Lapangan Polda Tantui Gedung Balieo Siwalima, dan Gedung Taman Budaya.

Hanya 10 %

Menurut Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC, jumlah Umat Katolik di Ambon yang melibatkan diri dalam struktur kepanitiaan lokal ini tidak banyak.

Jumlahnya hanya 10 persen dari total jumlah seluruh anggota panitia. “Sisanya diisi oleh umat beragama lain,” kata Mgr. PC Mandagi MSC, Uskup Keuskupan Amboina.

“PESPARANI 2018 ini benar-benar mau mewartakan kepada dunia bahwa betapa di Ambon ini, bangsa Indonesia tetap terus bisa  memelihara kerukunan antarumat beragama,” ujar Mgr. PC Mandagi MSC. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here