Potret Kehidupan Lapas Narkotika Kelas II Yogyakarta (1)

0
1,357 views

Manusia ibarat sebuah bejana tanah liat yang rapuh dan mudah retak. Jatuh dan retak, itulah yang sedang dialami para penghuni Lembaga Pemasyarakatan( LP ) Narkotika Kelas II A Yogyakarta. Mereka adalah sekelumit potret kehidupan dari para korban kenikmatan duniawi. Tak cukup hanya sebuah penyesalan, lalu jatuh dan jatuh lagi pada kesalahan yang sama, namun perlu adanya perubahan yang radikal, berani mempertanggungjawab kan perbuatan dan berjuang untuk dapat berbalik pada kehidupan yang benar, pada jalan yang lurus.

Jika kita ke Yogyakarta, maka di daerah Pakem tepatnya di jalan Kaliurang km 17 Kabupaten Sleman Yogyakarta, kita akan menjumpai sebuah bangunan Megah dan sangat ketat dijaga, tembok beton dan jerujinya tinggi- tinggi. Masuk ke sana kita akan melewati beberapa pintu dan pemeriksaan oleh para penjaga, tas, ransel dan kamera tidak bisa dibawa masuk. Semua kita titipkan di loker pengunjung.

Pengunjung diperiksa kartu identitas dan masuk ke lingkungan LP jaket harus dilepas. Semua ini untuk menghindari kebocoran penyelundupan Narkotika di dalam LP.

Kunjungan keluarga juga sangat ketat. Ada saatnya mereka harus cukup berlega hati menengok melalui kaca atau di balik strimin kawat. Waktu boleh dilakukan selain hari selasa dan Jumat. Kebetulan saat kami berkunjung adalah hari Minggu 29 Januari 2012. Sebuah bukti hasil kedisiplinan dalam mencegah kebocoran penjagaan, saat Desember 2011 lalu diadakan Sidak dari kepolisian Yogyakarta dan tidak ditemukan adanya penyusupan narkoba dalam lapas.

Selama ini LP Narkotika Yogyakarta banyak menerima kiriman WBP khusus kasus Narkotika dari lapas Wates, Cebongan dan Wonosari Yogyakarta dan sekitar Jawa tengah.

Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas II A Yogyakarta ini dibangun untuk merangkul para terpidana kasus Narkotika dalam sebuah rumah pembinaan khusus.

Ibaratnya, lebih mudah para pengrajin gerabah membuat bejana tanah liat yang baru daripada membentuk ulang bajana tanah liat yang sudah pecah berkeping- keping. Perlu ketelatenan, dengan hati, dan tingkat kedisiplinan yang tinggi agar bejana tersebut dapat berarti kembali. Selama ini LP Narkotika Yogyakarta banyak menerima kiriman WBP khusus kasus Narkotika dari lapas Wates, Cebongan dan Wonosari Yogyakarta.

Bangunan yang didirikan diatas tanah Sultan seluas 30.170 M2 dan luas bangunan 8.579,46 M2 merupakan tempat pembinaan para terpidana kasus Narkotika dan menjadi LP Narkotika percontohan di Indonesia.

Bangunan yang didirikan sejak 2006 ini diresmikan pada 28 April 2009 oleh Menteri Hukum dan HAM. Mari kita lihat bagaimanakah potret kehidupan para penghuni LP Narkotika kelas II A Yogyakarta ini yang megah ini?

LP Narkotika Yogyakarta dibangun 2 lantai, terdiri dari beberapa gedung dan 5 pavilyun yakni pavilyun Anggrek, Bougenvile dan Cempaka untuk warga binaan pemasyarakatan ( selanjutnya disingkat WBP = menggantikan istilah napi ) dewasa, lalu pavilyun Dahlia untuk WBP anak dan pavilyun Edelwise untuk WBP perempuan. LP yang memiliki kapasitas penghuni 447 orang ini pada saat ini terdapat 261 WBP, 14 diantaranya adalah WBP perempuan. Usia mereka yang berada dalam LP ini termuda adalah 18 tahun ada dua orang.

Uniknya mereka dibuat berkelompok dengan jumlah ganjil, misalnya 3, 5, 7, 9 dan seterusnya. Tujuannya agar tidak terjadi �kong kalikong � atau kerjasama jika ganjil tentu ada pengontrolnya tidak selalu bisa kompak.

O…ya WBP yang ada di sini tidak hanya warga Yogyakarta tetapi mereka yang tertangkap kasus Narkotika dan berada di wilayah Yogyakarta. Bahkan juga ada warga negara asing. Bapak Moch. Muhidin Bc. IP. SH selaku KASI BINADIK Lapas menjelaskan bahwa para WBP yang berada di sini adalah mereka yang telah melewati proses pemeriksaan dari polisi- pengadilan- kejaksaan dan berakhir di LP Narkotika ini. Ada dua macam pembinaan yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan Ketrampilan. bersambung

Romana Tari, bidan di  RKZ Surabaya, RSK St Vincentius a Paulo Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here