Puncta 03.01.19. Yohanes 1:29-34 Guru Geografiku

0
693 views
Ilustrasi: Globe.

KETIKA belajar di Seminari Mertoyudan ada seorang guru geografi yang rendah hati dan kalem. Namanya Bapak Wahab Cahyono. Ia selalu berpakaian rapi dan sering bajunya dimasukkan terlihat necis. Rambutnya keriting dicukur rapi (beliau selalu bawa sisir di sakunya) dan jalannya tegap sudah nampak di ujung gang depan kelas.

Walaupun beliau Muslim, tetapi siswa-siswa Seminari menerimanya seperti bapaknya sendiri. Beliau pernah bercerita betapa senang dan bangga boleh mengajar di Seminari.

“Siapalah saya ini, tetapi saya bersyukur boleh mendidik calon-calon imam. Banyak murid-murid saya yang telah menjadi pastor; ada yang jadi pimpinan tarekat atau ordo, bahkan banyak juga yang jadi uskup tersebar di seluruh Indonesia. Saya merasa bersyukur boleh menyumbangkan tenaga untuk Seminari Mertoyudan,” demikian sharing beliau.

Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis mengantarkan murid-murid-Nya untuk mengenal Yesus Sang Anak Domba Allah.

Dialah Mesias yang akan datang. Dialah yang telah dijanjikan Allah untuk menebus dosa umatNya. Yohanes menunjukkan sikap kerendahan hatinya bahwa sudah saatnya murid-murid-Nya mengetahui kebenaran Mesias.

Sebagai seorang guru, ia bertugas mengantarkan murid-muridnya kepada kebenaran sejati. Yohanes membuka kebenaran itu: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum Aku.”

Seorang guru akan merasa bangga dan bersukacita jika muridnya mengetahui kebenaran.

Sebagaimana Yohanes, guru sejati membiarkan muridnya berkembang menjadi besar dan dia semakin kecil.

Seperti Pak Wahab yang bersyukur dan bangga karena dalam hidupnya, beliau telah mencetak orang-orang penting dalam Gereja; para uskup, provinsial, pimpinan berbagai ordo atau lembaga gereja.

Beliau makin mundur, pensiun, makin kecil tak diperhitungkan, tetapi anak didiknya makin besar dan berpengaruh dalam gereja.

Itulah pribadi Yohanes Pembaptis. Dia menghantarkan orang mengenal kebenaran sejati dan membiarkan orang lain makin besar.

Yohanes merasa cukup untuk memberi kesaksian: “Dia inilah Anak Allah.”

Beranikah kita menjadi Yohanes Pembaptis? Menghargai orang lain untuk tumbuh berkembang dan membiarkan diri kita untuk makin kecil?

Membeli mawar di Pasar Bedono. Ditaburkan di taman pahlawan. Terimakasih kepada Pak Wahab Cahyono. Jasamu tak kan terlupakan. Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here