Puncta 06.12.18. Matius 7: 21. 24-27 Menjual Nama Tuhan

0
447 views
Dalam nama Tuhan by Kitwe

KEPOLISIAN pada hari Senin kemarin memanggil seorang pemuka agama untuk dimintai keterangan, tetapi yang bersangkutan tidak hadir. Kasus ini menjadi viral di medsos karena yang bersangkutan disangkakan telah mengatakan ujaran kebencian kepada Presiden Joko Widodo.

Situasi kita di tengah masyarakat sekarang sungguh memprihatinkan. Apalagi di media sosial, berseliweran ujaran-ujaran kebencian tak bisa dibendung. Walaupun ada UUITE tetapi itu belum mampu membuat orang bertutur kata santun dan bijak serta berprasangka positif.

Dunia maya seolah menjadi tempat masturbasi sosial. Apalagi waktu-waktu ini sedang persiapan Pilpres dan Pileg, suasana terasa makin sumpek dan gerah.

Mengapa orang tidak melampiaskan kesumpekannya dengan ikut goyang bersama Nella Kharisma atau Via Vallen saja?

Bacaan Injil hari ini Yesus mengingatkan kepada kita: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, ‘Tuhan! Tuhan! akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu di surga”.

Sekarang nama Tuhan ini dijual murah di jalan-jalan, lapangan, mal. Nama suci yang seharusnya dihormati di gereja atau tempat ibadah. Tetapi latah disebut dimana-mana. “Oh my God atau Jesus!  Di tempat ibadah orang malah tidur-tiduran tetapi Nama Tuhan dibawa ke lapangan, mal, jalan-jalan.

Yesus menekankan bahwa bukan ucapan atau teriakan keras yang penting tetapi pelaksanaan kehendak Allah. Orang yang melakukan kehendak Allah yang akan masuk Kerajaan Surga. Tidak ada gunanya orang berdoa keras-keras tetapi pada waktu yang sama dia menghina, menindas, menghujat sesamanya.

Yang dituntut Yesus adalah tindakan kongkret melaksanakan kehendak Allah. Apa itu kehendakNya ? Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan jiwamu dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Orang Jawa punya pepatah “Ajining diri gumatung kedaling lathi” artinya harga diri seseorang tergantung dari ucapan lidahnya. Lidah baik akan mendatangkan karib sahabat. Lidah buruk akan mendatangkan musuh dan merendahkan dirinya sendiri.

Yesus mengibaratkan orang yang mendengarkan sabda Allah dan melakukannya seperti orang yang membangun rumah di atas batu wadas. Rumah itu akan kuat. Sebaliknya orang yang hanya “tong kosong berbunyi nyaring” seperti membangun rumah di atas pasir.

Ia akan roboh oleh perkataannya sendiri. Hati-hati dengan ucapanmu. “Mulutmu adalah harimaumu”.

Mari kita kembalikan Nama Suci Tuhan ke tempatnya yang terhormat dan luhur. Janganlah disebar di tempat sembarangan.

Mari kita lebih melaksanakan kehendakNya daripada mengobral namaNya tanpa wujud kongkret.

Saya kadang takut disebut “Gajah diblangkoni, bisa kotbah ora bisa nglakoni” artinya kebanyakan omdo alias omong doang.

Pergi wisata ke Pulau Komodo. Singgah lagi di Pulau Makassar. Jangan jadi orang suka omdo. Nanti mulut kita pasti kena hajar. Berkah Dalem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here