Puncta 09.01.19 Markus 6:45-52 Mengarungi Samudera Kehidupan

0
398 views
Melaju dengan sampan menyusuri jalanan air di "Ibukota" Kabupaten Agats saat terjadi air pasang. Pemandangan ini difoto di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

PADA tahun 1999, kami mengikuti Developmental Programe Outbound di Waduk Jati Luhur. Salah satu sesi acara outbound yang dilakukan adalah menyeberang danau.

Peserta berjumlah 19 imam. Untuk jumlah sekian orang itu kami hanya diberi 6 drum, 7 bambu, 4 dayung dan tali-tali. Di tepi danau itu kami diminta membuat “gethek” atau rakit untuk menyebarang yang kuat dan aman agar semua bisa ikut naik.

Diskusi panjang lebar bahkan hampir berantem karena masing-masing mempertahankan argumentasinya. Hasil diskusi dicoba dipraktekkan. Hasilnya jatuh berantakan. Saling menyalahkan pun terjadi. Dicoba lagi dan hancur lebur. Memang benar singkatan PASTUR itu menjadi PAling Susah diaTUR.

Ketika kami “dheleg-dheleg” diam hening sunyi tak mampu berbuat apa-apa karena semua usaha gagal. Kacamata saya hilang, baju dan celana semua basah kuyub. Kami tak berkutik. Waktu itu instruktur menjelaskan rumusnya bagaimana membuat rakit. Ketika kami diam mendengarkan barulah solusi itu dicapai. Sekali dicoba dan akhirnya berhasil menyeberang dengan sukacita dan selamat sampai di pinggir danau yang lain. Ketika kami egois mementingkan ide dan pendapat sendiri yang paling benar, percekcokan yang terjadi.

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana para murid mengarungi danau Galilea untuk menyeberang ke Betsaida. Mereka tidak disertai Yesus.

Di tengah danau terjadi angin sakal yang besar sehingga mereka ketakutan. Yesus berjalan di atas air. Mereka mengira melihat hantu. Mereka histeris. Namun Yesus menenangkan mereka, “Tenanglah! Aku ini, Jangan takut!” Lalu Yesus naik dan angin menjadi reda. Mereka berhasil sampai di seberang bersama dengan Yesus.

Kita ini juga seperti orang yang berlayar mengarungi samudera kehidupan. Di tengah perjalanan ada banyak hambatan, rintangan, persoalan, kesulitan, badai dan angin sakal. Kalau kita hanya mengandalkan diri, kita tidak akan berhasil. Kita harus mempersilahkan Yesus masuk ke biduk atau rakit kita.

Jika Yesus bersama kita, amanlah perjalanan kita. Ekaristi adalah cara agar Yesus setiap hari bersama kita. Marilah kita mempersilahkan Yesus menjadi nakhoda hidup kita.

Tenang-tenang mendayung
di dalam ombak selepas pantai
Jangan takut dan jangan bingung
Yesus bersama kita pasti akan sampai.

Berkah Dalem, Rm. A. Joko Purwanto Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here