Puncta 09.02.19 Markus 6:30-34: Tergeraklah HatiNya

0
424 views
Ilustrasi by ekspesul

“AMBIL saja mbok uang kembaliannya,” kata wanita muda itu kepada simbok gendong di pasar yang membawakan barang belanjaannya ke mobil. Ketika mobil mau bergerak meninggalkan tempat parkir, ia mengeluarkan uang parkir dan memberikan kepada petugas sambil berkata, “sisanya untuk bapak aja”.

Anaknya heran dan bertanya, “Kenapa uang sisanya gak diminta kan bisa ditabung atau dipakai untuk keperluan lainnya?”.

Dia menjawab dengan tersenyum, “Nak, uang seribu dua ribu tak seberapa buat kita, tetapi bagi simbok gendong atau tukang parkir itu sangat berharga. Kita harus berbagi walaupun sedikit tetapi akan berguna bagi mereka.”

Belas kasihan, kemurahan hati, ketulusaan harus diajarkan kepada anak-anak sejak dini agar mereka punya jiwa sosial yang tinggi.

Ibu itu mengajarkan kepada anaknya untuk berbelarasa dengan mereka yang kecil, lemah dan terpinggirkan.

Keteladanan seperti itu perlu ditunjukkan secara nyata kepada anak-anak kita. Bahkan mereka perlu dilibatkan secara langsung untuk berbelas kasih kepada orang lain.

Yesus tergerak oleh belaskasihan kepada mereka yang mengikutiNya. Mereka itu seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Tercerai berai, kelaparan, kehausan, terancam bahaya, tak punya pengharapan dimana ada masa depan, bingung akan hidupnya. Maka seluruh waktunya diberikan kepada kawanan itu.

Saat berkunjung ke Brasil, Paus mengajukan pertanyaan kepada para uskup Amerika Latin, manakah yang lebih menyita waktu, kesibukan dalam perkara-perkara administratif gerejani atau pelayanan pastoral keluar.

Kalau para pimpinan Gereja lebih sibuk dengan urusan administrasi, maka bisa jadi wajah Gereja yang dihadirkan lebih berupa Gereja yang sibuk melayani dirinya sendiri.

Ia juga memberikan pesan kepada para kardinal: “Kardinal bukanlah ‘pangeran’ Gereja, tapi pelayan Gereja dan umat Allah.”

Seorang pewarta janganlah terlihat seperti orang yang pulang dari pemakaman; muram dan sedih. Gembala seharusnya berbau domba.

Gereja harus seperti rumah sakit di medan perang. Gereja bukan untuk yang sempurna, tapi bagi siapa saja yang ingin mencari Tuhan.

Gereja hendaknya didedikasikan bagi orang miskin, terluka, lemah, dan tersingkir.

Demikian seruan Apostolik Paus Fransiskus tentang Evangelii Gaudium (Sukacita Injili).

Kalau jubahnya para imam itu harum wangi-wangi, putih bersih-bersih, kita bisa menilai siapa yang dilayani.

Bunga melati bunga selasih
Mari kita melayani tanpa pilih kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here