Puncta 12.02.19 Markus 7:1-13 Nilai Kesopanan yang Hilang

0
153 views
Majalah Praba atau kemudian berganti nama menjadi Majalah Peraba adalah majalah berbahasa Jawa yang terbit sejak tahun 1953. (Ist)

“SIMBAH uwis mangan?” kata seorang cucu kepada neneknya. Ada lagi seorang muda bertanya kepada bapaknya, “Bapak uwis adus? Aku arep sare dhisik!”.

Dalam Bahasa Indonesia tidak ada bedanya, tetapi dalam Bahasa Jawa, bahasa itu mengandung tatakrama, sopan santun.

Kepada orangtua atau yang dihormati tidak boleh berkata, “Simbah uwis mangan?” atau “Bapak uwis adus? Aku arep sare”.

Itu sikap tidak sopan. Bahasa Indonesia semuanya sama, “Kakek sudah makan? Bapak sudah mandi? Aku mau tidur”.

Bahasa Jawa ada tingkatan-tingkatan yang menunjukkan gradasi kesopanan. Kepada orang tua, pihak yang muda harus berkata, “Simbah sampun dhahar? Atau “Bapak sampun siram?”

Dalam Bahasa Jawa ada 3 tingkatan; ngoko-krama-krama inggil.

Nilai kesopanan dan tatakrama mulai luntur, kalau tidak mau dikatakan hilang. Padahal inilah ciri budaya ketimuran itu. Orang bisa berlaku sopan dan mampu menempatkan diri dalam pergaulan.

Dengan siapa saya berbicara dan bagaimana cara saya menempatkan diri di depan orang lain. Dengan berbahasa yang baik, kita bisa menghargai orang lain. Jangan heran kalau ada anak berani melawan orangtuanya.

Orang mengumbar kata-kata kasar di sembarang tempat. Budaya dan adat istiadat yang baik itu hilang, dianggap kuno, kolot dan tidak njamani.

Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus dihadapkan pada persoalan adat istiadat nenek moyang seperti membasuh tangan sebelum makan, mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Adat istiadat itu dibuat oleh manusia. Yesus menghendaki agar bukan adat istiadatnya yang diutamakan tetapi perintah Allah yang harus diprioritaskan.

Yesus mengambil contoh dari salah satu Perintah Allah, “Hormatilah ayahmu dan ibumu”.

 

Kalau harta yang digunakan untuk memelihara orangtua yang sudah jompo habis karena dipakai sebagai kurban persembahan, lalu dia tidak lagi bertanggungjawab atas keselamatan orangtuanya.

Yesus berkata, ”Dengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu”. Demi adat istiadat, orang itu membiarkan orangtuanya tak terawat dan mati.

Taat kepada perintah Allah adalah wujud takwa kita kepadaNya. Takwa dan berbakti kepada Allah juga terwujud dalam menghargai sesama manusia. Jangan hanya tampaknya berbakti kepada Allah tetapi membenci, menghina, menindas dan merendahkan sesama kita.

Habis manis sepah dibuang
Dibuang sayang tetap dipegang
Kalau kita mengasihi Allah setinggi bintang
Mengasihi sesama jangan dikesampingkan

Berkah Dalem,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here