Puncta 12.03.19 Matius 6:7-15: Bapa Kami Bersama

0
330 views

SAYA pernah menjumpai sebuah iklan di perempatan Jombor di Jl. Magelang, Yogyakarta Barat. Sebuah wajah manusia dengan mulut sangat besar diisi dengan berbagai macam makanan.

Dengan caption kira-kira berbunyi, segala kebutuhan dapat terpenuhi dengan mudah hari ini. Ya, pada jaman sekarang ini apa pun dapat diperoleh dengan mudah, cepat dan terjangkau.

Apa sih yang tidak bisa diperoleh sekarang ini? Semua barang kebutuhan kita membanjir di depan mata kita. Mulut –dalam iklan itu– menggambarkan keserakahan kita.

Saya pernah mengantar ibu-ibu berbelanja di super market. Semua barang kebutuhan dimasukkan dalam keranjang troli sampai penuh menggunung. Ketika sampai di rumah, barang-barang itu hanya ditumpuk tak terpakai.

Hari ini, Yesus mengajarkan doa Bapa Kami.

Pola doa itu adalah vertikal-horisontal.

  • Pertama memuji dan memuliakan Allah Sang Penyelenggara kehidupan.
  • Kedua mengasihi dan mengampuni sesama ciptaan.

Sebutan “Bapa” menggambarkan bahwa Allah itu Bapa yang baik. Seperti dalam Mazmur yang berkata, “Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.”

Kami menunjukkan bahwa Allah itu Bapa semua orang, semua ciptaan. Allah milik siapa pun. Allah tidak membeda-bedakan, Allah mengasihi semuanya.

“Berilah kami rezeki pada hari ini”.

Orang Jawa punya istilah bagus, “Ana dina, ana upa” artinya ada hari ada rezeki. Itu sebuah keyakinan bahwa Tuhan akan memelihara hidup kita setiap hari. Yang dituntut dari manusia adalah berani mengandalkan Tuhan semata.

Dengan berbagai cara Tuhan memelihara umatNya.

Hari ini saya percaya Tuhan berkarya. Asal kita juga mau berusaha, “wani obah, bakal mamah”. Yang mau bekerja bakal makan.

Berilah kami rezeki hari ini menghindarkan kita dari keserakahan. Besuk lagi kita akan berdoa yang sama; “Berilah kami rezeki hari ini”.

Kalau setiap waktu kita berdoa begitu, kita diajak untuk terus menerus mengandalkan Tuhan dan menanam dalam hati semangat ugahari dan selalu bersyukur.

Kalau Bapa itu milik kami bersama, berarti kita juga diajak memikirkan orang lain yang kekurangan. Berilah kami rejeki berarti kita juga harus peduli akan nasib sesama yang membutuhkan.

Dengan demikian kita juga harus solider dengan sesama. Solidaritas bisa diwujudkan dengan berbagi rejeki dan saling mengampuni.

Sudahkan anda menghayati doa Bapa Kami?

Menanam bunga melati
Ditanam di samping rumah
Hayatilah doa Bapa Kami
berkatNya akan melimpah ruah

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
[13:12, 3/11/2019] Romo Joko Purwanto Pr Ketapang: Puncta 12.03.19
Matius 6:7-15

Bapa Kami Bersama

SAYA pernah menjumpai sebuah iklan di perempatan Jombor, jalan Magelang. Sebuah wajah manusia dengan mulut sangat besar diisi dengan berbagai macam makanan. Dengan caption kira-kira berbunyi, segala kebutuhan dapat terpenuhi dengan mudah hari ini. Ya, pada jaman sekarang ini apapun dapat diperoleh dengan mudah, cepat dan terjangkau. Apa sih yang tidak bisa diperoleh sekarang ini? Semua barang kebutuhan kita membanjir di depan mata kita. Mulut – dalam iklan itu – menggambarkan keserakahan kita. Saya pernah mengantar ibu-ibu berbelanja di super market. Semua barang kebutuhan dimasukkan dalam keranjang troli sampai penuh menggunung. Ketika sampai di rumah, barang-barang itu hanya ditumpuk tak terpakai.

Hari ini Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Pola doa itu adalah vertikal-horisontal. Pertama memuji dan memuliakan Allah Sang Penyelenggara kehidupan. Kedua mengasihi dan mengampuni sesama ciptaan. Sebutan Bapa menggambarkan bahwa Allah itu Bapa yang baik. Seperti dalam Masmur yang berkata, Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. Kami menunjukkan bahwa Allah itu Bapa semua orang, semua ciptaan. Allah milik siapapun. Allah tidak membeda-bedakan, Allah mengasihi semuanya.

“Berilah kami rejeki pada hari ini”. Orang Jawa punya istilah bagus, “Ana dina, ana upa” artinya ada hari ada rejeki. Itu sebuah keyakinan bahwa Tuhan akan memelihara hidup kita setiap hari. Yang dituntut dari manusia adalah berani mengandalkan Tuhan semata. Dengan berbagai cara Tuhan memelihara umatNya. Hari ini saya percaya Tuhan berkarya. Asal kita juga mau berusaha, “wani obah, bakal mamah”. Yang mau bekerja bakal makan. Berilah kami rejeki hari ini menghindarkan kita dari keserakahan. Besuk lagi kita akan berdoa yang sama; “Berilah kami rejeki hari ini”. Kalau setiap waktu kita berdoa begitu, kita diajak untuk terus menerus mengandalkan Tuhan dan menanam dalam hati semangat ugahari dan selalu bersyukur.
Kalau Bapa itu milik kami bersama, berarti kita juga diajak memikirkan orang lain yang kekurangan. Berilah kami rejeki berarti kita juga harus peduli akan nasib sesama yang membutuhkan. Dengan demikian kita juga harus solider dengan sesama. Solidaritas bisa diwujudkan dengan berbagi rejeki dan saling mengampuni. Sudahkan anda menghayati doa Bapa Kami?

Menanam bunga melati
Ditanam di samping rumah
Hayatilah doa Bapa Kami
berkatNya akan melimpah ruah

Berkah Dalem,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here