Puncta 17.10.19 PW Ignasius dari Antiokia, Uskup Martir: Bisma Gugur

0
239 views

Luk 11:47-54

BISMA terkena panah Srikandi dan tergeletak tak berdaya di medan laga. Dalam keadaan sekarat, dia mengundang Pandawa dan Kurawa datang mendekat.

Sang Dewabrata mengajukan permintaan terakhir sebelum ajal kepada mereka. Ia minta bantal untuk meletakkan kepala. Duryudana menyodorkan bantal dan guling yang indah dari istana.

Bisma menolak. Arjuna menyodorkan potongan senjata yang diikat sebagai bantal. Bisma minta minum. Duryudana memberinya minuman enak dari istana. Bisma lagi-lagi menolak. Arjuna memberikan komboran kuda perang. Bisma menerimanya dengan sukacita.

Terakhir Bisma minta dipayungi. Duryudana memberi payung motha beledru indah. Bisma menolak. Werkudara menjebol pohon beringin untuk memayungi kakeknya itu. Kurawa lari tunggang langgang mengira Werkudara ngamuk.

Para Pandawa tahu bagaimana menghargai nenek moyangnya. Bisma ingin mati sebagai ksatria sejati di medan laga. Para Pandawa mewujudkannya dengan memberi apa yang dikehendaki kakeknya.

Begitulah cara seorang ksatria mati di medan pertempuran.

Sebelum mati, Bisma memuji para Pandawa yang bisa menjunjung derajat leluhur. Sebaliknya para Kurawa lari meninggalkan kakeknya yang sudah hampir mati dan dianggap tak ada gunanya lagi.

Bisma mendoakan para Pandawa menang dalam Baratayuda.

Dalam Injil hari ini Yesus mengkritik Kaum Farisi yang memperindah makam nenek moyang mereka yang telah membunuh para nabi. 

Itu artinya mereka menyetujui tindakan nenek moyang mereka yang menumpahkan darah para nabi. Menjunjung derajat para leluhur tidak harus membangun makam leluhur yang bagus-bagus. Tapi meneladan tindak tanduk mereka yang baik.

Yesus mengecam para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka itu munafik. “Celakalah kalian, sebab kalian membangun makam bagi para nabi, padahal nenek moyangmulah yang telah membunuh mereka. Dengan demikian kalian mengakui, bahwa kalian membenarkan perbuatan nenek moyangmu.”

Hidup dalam kemunafikan itulah yang  dikecam oleh Yesus. Marilah kita hidup jujur tanpa harus memakai topeng kepura-puraan.

Marilah bersikap sebagai ksatria yang berjuang menegakkan keadilan dan kebenaran.

Bunga mawar bunga melati Menyebar harumnya di halaman Berjuanglah maju sebagai ksatria sejati Menegakkan keadilan dan kebenaran

Scala Sancta di Roma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here