Puncta 18.10.18. Pesta St. Lukas Pengarang Injil

0
308 views
Ilustrasi: Seorang imam Passionis (CP) di Sekadau ikut panen padi. (Sr. Ludovica OSA)

TUAIAN memang banyak tetapi pekerjanya sedikit. Di Kalimantan, penduduknya masyarakat Dayak senang hidup bergotong rotong. Hal itu nampak dalam tradisi atau adat Nugal yakni menanam padi bersama-sama.

Kalau hari ini giliran di ladang saya, maka tetangga-tetangga sekampung akan membantu saya buka ladang. Besoknya saya akan membantu di tempat tetangga. Begitu bergiliran saling menolong.

Begitu juga musim panen. Ada istilah Odi Ngotum yakni saat memotong padi atau mengetam. Orang kampung budaya tolong menolongnya tinggi sekali. Tanpa diminta mereka rela membantu.

Hari ini Yesus berkata pada orang-orang yang diutus mempersiapkan kedatanganNya, “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”.

Tuhan membutuhkan pekerja-pekerja untuk “ngotum padi”. Menjadi pekerja berarti harus mengetahui mana padi yang bernas dan padi yang “gabug” atau kosong.

Menjadi pekerja tidak asal-asalan saja. Maka dibutuhkan semangat belajar terus menerus, memperbaharui diri selalu, terbuka pada hal-hal baru. Itulah semangat pekerja yang baik.

Bacaan Pertama menggambarkan bagaimana Paulus tetap setia mewartakan Injil walau ditinggalkan teman-temannya. Hanya Lukas yang setia tinggal. Paulus menjadi pekerja yang komit, setia, melaksanakan tugas sampai tuntas. Kita bisa belajar dari sikap Paulus yang taat melaksanakan panggilan Tuhan menjadi pekerja mewartaan Injil.

Siapa pun kita; imam, bruder-suster, katekis, guru agama, prodiakon, pemimpin umat, guru di sekolah, orangtua, pegawai atau apapun status kita di masyarakat, kita bisa menjadi pekerja di ladang Tuhan sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Jadilah pekerja yang baik.

Ada seorang tukang kayu tua yang mau pensiun. Ia mengutarakan niatnya mundur dari tugas itu. Sang majikan sedih melepaskannya. Ia minta dibuatkan satu rumah pribadi. Dengan enggan tukang itu menyetujui.

Dia bekerja sembarangan dan menggunakan bahan yang jelek. Cara yang menyedihkan untuk mengakhiri karier yang penuh dedikasi.

Ketika rumah sudah jadi, majikan memeriksa semuanya dan sambil menyerahkan kunci pintu depan dia berkata, “Ini rumahmu. ”Rumah ini hadiah pensiun untukmu”.

Seumur hidupnya pekerja itu menyesali nasibnya yang tidak membangun rumah yang baik. Kita jangan sampai meniru pekerja itu.

Botol kaca diisi minyak wangi. Dijual murah di pinggir kali. Jadilah pekerja penuh dedikasi. Hidup mujur selalu menanti. Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here