Puncta 20.03.19 Matius 20:17-28: Hasta Brata

0
368 views
Melayani sesama by ist

KRESNA (Titisan Bathara Wisnu) menurunkan Wahyu Mahkota Rama kepada Arjuna yang bersemadi laku suci. Wahyu ini berisi tentang hasta brata. Hasta itu delapan. Brata itu laku atau jalan.

Hasta Brata berarti 8 jalan menjadi pemimpin. 8 jalan itu mengambil sifat-sifat alam semesta; bumi, langit, angin, air-samudera, bulan, matahari, api dan bintang.

Misalnya bumi mempunyai sifat memiliki semuanya, kaya hati, melayani segala yang hidup, rendah hati. Langit bersifat mengayomi, melindungi, bertanggungjawab atas kehidupan yang di bawah. Angin bersifat luwes mudah menyusup kemana saja. Ia mampu meneliti segala sesuatu.

Pemimpin yang baik mampu meneliti dahulu sebelum membuat keputusan. Air/samudera bersifat menampung apa saja, seperti hati yang luas, tidak membeda-bedakan. Bulan bersifat menerangi kegelapan, bisa membuat terang masalah tanpa suasana “panas”. Bulan juga melambangkan keindahan. Matahari adalah sumber pencerahan.

Seorang pemimpin harus mampu memecahkan persoalan. Api bersifat mematangkan, menerangi. Dengan api pemimpin bisa mengolah masalah dengan baik. Bintang bersifat mapan, tangguh, tak tergoyahkan. Bintang juga menunjuk pada prestasi.

Hasta Brata itu harus dimiliki seorang pemimpin.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada para murid jiwa kepemimpinan. Ketika ibu anak-anak Zebedeus meminta “kedudukan” bagi kedua anaknya, Yesus menasehatkan, “Kamu tahu bahwa pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di anta kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”.

Yesus mengajarkan salah satu ciri seorang pemimpin adalah mau melayani. Ia harus berani menjadi hamba, abdi bagi masyarakat. Kualitas kepemimpinan ditunjukkan sejauh mana ia melayani, bukan minta dilayani.

Yesus menunjukkan bratanya sebagai pemimpin, “Sama seperti Anak Manusia; Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Seorang pemimpin siap berdiri di depan untuk membela rakyatnya. Yesus mempertaruhkan nyawaNya untuk menyelamatkan kita. Bagaimana kita tidak bangga memiliki Yesus yang siap mati untuk keselamatan kita? Kita harus bangga akan salib Tuhan kita Yesus Kristus.

Ke Tawangmangu beli sate kelinci
Saking laparnya habis lima porsi
Sekarang banyak orang rebutan kursi
Setelah duduk banyak yang lupa janji

Berkah Dalem,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here