Puncta 21.02.20: Apa Gunanya Memiliki Semua?

0
244 views
Ilustrasi: Merayakan Natal 2016 dengan berbagi kasih oleh umat katolik Lingkungan St. Bernardus Kalitengah Paroki Wedi. (Laurentius Sukamta)

Markus 8:34-9:1

PENGALAMAN hidup Steve Jobs sangat inspiratif. Pendiri Perusahaan Apple ini memiliki segalanya. Kekayaannya ada 5,1 milyar dollar pada 2009 dengan 4.000 karyawan perusahaan.

Ketika dia berada di puncak kejayaan, dokter memvonis Steve kena kanker pankreas. Hidupnya mendekati kematian.

Ia selalu berpikir jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup, apa yang harus dilakukan? Hidup dalam segala kelimpahan itu ternyata tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Kematian sangat dekat di depan mata.

Dia menulis, ”Waktu anda sangat terbatas, jangan sia-siakan untuk menjalani hidup bersama dengan yang lain, mereka yang anda sayangi. Jagan biarkan omongan orang menguasai anda sehingga anda tidak mendengar suara hati anda. Milikilah keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi.”

Tidak ada kata yang lebih indah selain bahwa hidup ini perlu berbagi.

Berbagi cinta, berbagi perhatian, berbagi kebahagiaan, berbagi apa pun yang anda miliki.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?”

Steve Jobs, Bill Gate, Rockkefeller adalah orang-orang kaya yang memiliki segalanya. Michael Jackson, Whitney Houston adalah artis-artis terkenal sebagai raja pop dunia. Hitler, Mussolini adalah diktator paling berkuasa.

Apakah mereka menikmati semuanya itu? Mereka memperoleh seluruh dunia. Tetapi mereka kehilangan semuanya.

Jalan memperoleh kehidupan ditawarkan Yesus kepada murid-muridNya yakni dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus. menyangkal diri menurut Injil berarti menjadi senasib dengan Yesus.

Hidup menurut Yesus. Kalau kita mau menyangkal diri berarti kita mencintai Yesus sepenuh-penuhnya. Menyangkal diri berarti juga tidak mementingkan diri sendiri. Tetapi lebih mementingkan orang lain. Hidup untuk kebahagiaan orang lain.

Memanggul salib berarti mau berkurban demi keselamatan sesama. Kesulitan bukan sebagai beban tetapi jalan kesabaran, kesetiaan dan kerendahan hati. Kalau kita melakukan sesuatu demi cinta, semua akan terasa ringan.

Tetapi jika demi kewajiban, maka akan berat.

Kita bahagia bukan karena memiliki segalanya. Kita bahagia karena bisa berbagi dengan sesama.

Merawat anggrek dengan penuh cinta.
Tumbuh bunganya beraneka warna.
Kalau kita bisa berbagi dengan sesama.
Kebahagiaan datang sungguh luar biasa.

Cawas, wawanhati mendewasakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here