“Resident Evil: Retribution”, Mengembalikan Manusia pada Khitahnya

0
1,355 views

SUSAH bagi saya yang tak pernah menonton sekuel sebelumnya bisa mencerna Resident Evil: Retribution ini. Selain jalan ceritanya sungguh absurd, film ini memang hanya mengumbar kecanggihan menciptakan sebuah alam  rekayasa. Apakah itu wahana di bawah permukaan laut dimana semua percobaan rekayasa genetika dipraktikkan secara massif dan rahasia. Juga sebuah projek rahasia menciptakan manusia-manusia cyborg –setengah robot— demi sebuah projek mengeruk keuntungan dari jual-beli obat penawar atas wabah senjata biologi produksi Umbrella Corporation ini.

Alice –tokoh sentral dalam sekuel kelima ini dan diperankan oleh aktris keturunan Ukrainia Milla Jovovich—menjadi pusat cerita film ini. Ia dikisahkan sebagai manusia yang terinfeksi virus rekayasa genetika, tetapi tidak kehilangan kemanusiannya. Karena itulah, dia disekap di T-Hive dibawah pengawasan sangat ketat oleh komputer cerdas namun kejam berjuluk The Red Queen.

Upaya menjadikan diri sadar sepenuhnya semakin kencang, ketika memorinya sebagai manusia mulai menguasai dirinya kembali. Apalagi, setelah diam-diam ada pasukan penyusup yang ingin membawanya keluar untuk sebuah misi ‘luhur’ yakni menyelamatkan umat manusia dari serbuan cyborg dan wabah penyakit biologis.

Alice muncul ke permukaan bersama Ada Wong (Li Bingbing) dengan bantuan sekawan konco dewe yang berniat menyelamatkannya. Kawanan ini datang atas suruhan  Albert  Wesker (Shawn Roberts) yang membutuhkan Alice menjadi jago kepruk melawan cyborg dan zombie yang mengancam eksistensi manusia.

Di akhir cerita, Jill yang dulunya dikuasai oleh the Red Queen akhirnya sadar setelah  alat kontrol berupa kalung elektrik berbentuk kalajengking menjadi target indah senapan serbu otomatik Alice. Dari musuh, ia sekarang kembali menjadi sahabat dan mereka berdua bersiap melawan cyborg dan zombie yang bagaikan virus ganas mulai merambah dunia manusia.

Alice dan Jill menjadi  senjata jago kepruk melawan manusia-setengah-monster ini. Itu terjadi, ketika keduanya sudah ‘bertobat’ dan kembali ke jalan benar yakni peradaban manusia dan bukan sebuah peradaban buatan hasil rekayasa genetik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here