RIP Romo M. Dwijowandowo Pr, Si Semar Linu Telah Pergi

0
356 views
RIP Romo M. Dwijowandowo Pr, Si Semar Linu Telah Pergi.

TUHAN Yang Maha Kasih telah memanggil Romo Marcelinus Dwijowandowo Pr (78), imam diosesan pribumi pertama Keuskupan Tanjungkarang di Pastoran Katolik St Yusup, Pringsewu, Selasa, 30 Maret 2020.

Romo kelahiran Pringsewu, 26 April 1942, ini dikenal dengan nama Romo Semar Linu sebagai nama penanya di majalah Keuskupan, Nuntius, dalam rubrik Goro-goro.  

Kesan pribadi

Pendiam, tegas, disiplin. Kalau berbicara kata-katanya irit, cenderung nyelekit, tetapi pas dan mengungkapkan kebenaran yang apa adanya. Terkesan sangat tegaan, tetapi seungguhnya baik hati.

Bisa diam tetapi menyimak, dan bisa tertawa lepas terbahak-bahak. Tertawanya bisa terdengar sampai 100 bahkan 200 meter jauhnya.

Itulah kesan tentang pribadi almarhum Romo Marcelinus Dwijowandowo yang diungkapkan oleh Uskup Keuskupan Tanjungkarang Mgr. Yohanes Harun Yuwono.  

Tentang tertawanya yang khas, Uskup Harun mengingatnya yang terjadi setiap hari Selasa pagi. Hari itu merupakan Hari Komunitas Para Romo STSP, saat sarapan pagi bersama, tertawanya terdengar sampai Kantor Purek I STFT.

Waktu itu, Uskup Harun masih di TOR yang karena Purek I harus datang pagi-pagi ke kantor.

Uskup mengaku iri mendengar tertawanya itu yang sama dengan ayahnya kalau berkumpul dengan teman-teman akrabnya.

“Kalau dengan kami, ayah saya cenderung angker, tetapi dengan teman-temannya bisa ngakak terbahak-bahak. Yang mau katakan di sini adalah hormat saya pada Romo Dwijo ini seperti hormatnya saya pada ayah saya: sang teladan,” ujar Uskup

Kalau datang ke stasi, sudah pada waktunya misa, tetapi umat belum ada yang datang dan gereja belum dibuka, maka Romo Dwijo akan pulang dan bisa tidak datang lagi sampai umat tersebut bertobat.

Sr. Paulien FSGM mendadani jenazah Romo Dwijo. (Sr. Fransiska FSGM)

Beberapa stasi di beberapa paroki pernah mengalami gaya pastoralnya yang mendidik. Ia murah hati, tetapi tidak murahan. Mendidik umat dengan prinsip yang teguh untuk menjadikan seseorang disiplin dan militan.

Seperti Semar

Nama pena Romo Dwijo adalah Semar Linu- nama samaran yang diambil dari dari nama Marcelinus.

 Marcelinus menjadi Semar Llnu – Kristaini – Barat menjadi Jawa – Indonesia.

Semar itu dalam budaya Jawa adalah tokoh utama punakawan: wujudnya lucu, pekerjaannya adalah pelayan, pembantu, gaya hidupnya lepas bebas, berpihak bukan pada kemegahan materi duniawi (seperti Togog dan Mbilung pada pihak Kurawa), melainkan pada melainkan pada kejujuran dan kebenaran (Pandawa).

Fungsi utama Semar bagi Pandawa adalah pembimbing, penunjuk jalan, pribadi yang menjadi rujukan, tempat menimba ilmu dan cara hidup para raja dan pangeran.

Semar itu seungguhnya manusia agung, karena dia adalah titisan dewa. Semar kendati pembantu, tetapi bukan budak. Semar itu manusia bermartabat: piyantun satrio yang rela bekerja melayani orang lain secara total.

Romo Dwijo itu seperti Semar: piyantun ageng yang andap asor. Martabat dan wawasannya seperti Semar, sebab bacaannya adalah Majalah Time.

Para Romo dulu menjulukinya sebagai “Kamus Berjalan.”

Bahkan mendiang Mgr. Henrisoesanto SCJ  pun harus banyak bertanya kepadanya atau tidak berani bertanya supaya tidak terkesan kalah kepandaiannya.

Namun Romo Dwijo ini tidak sombong. Ia bukan hanya Semar, tapi Semar yang ”linu”.

Kata ”linu” yang berarti pegel dan ngilu, nggregesi, di samping mengungkapkan semangat kerja keras sampai kelelahan, tetapi juga adalah kesadaran mendalam akan keterbatasannya karena kemanusiaannya.

Romo Dwijo itu orang yang smart (istilah kekinian), tetapi mempunyai sikap rendah hati. Hatinya memang lembut, terasah, karena melengkapi Injil yang diwartakan setiap hari dalam homili-homilinya yang selalu bernas dengan bacaan karya sastra manusia (mempunyai hobi membaca novel) yang memang berisi pengajaran pengolahan rasa, hati dan budi.

RIP Romo Marcelinus Dwijowandowo Pr, imam diosesan pertama Keuskupan Tanjungkarang. (Sr. Fransiska FSGM)

Rendah hati

Ketika bertugas di Seminari Tinggi: piyantun ageng ini selalu mencuci sendiri jubahnya dan albanya dan celana alasnya, padahal romo yang muda-muda mengirim semuanya ke tukang cuci.

Bagi saya ini adalah ungkapan diri yang tidak ia katakan melainkan ia praktikkan, yakni: cara ia menghargai manusia lain, terutama orang kecil, tidak mau membebani dengan pekerjaan yang berat dan tidak menyusahkan dengan pakaian yang paling kotor dari pakaian kita.

Pada rapat akhir tahun ketika membicarakan kepribadian para frater, ia menyiapkan laporan tertulis tidak menggunakan laptop atau komputer tapi menggunakan mesin tik.

Ini juga ungkapan kerendahan hati yang mengakui keterbatasannya yang tidak lagi cukup waktu untuk mempelajari berbagai kemudahan komputer yang jika salah pencet malah bisa hilang semuanya.

Tetapi yang unik adalah bahwa laporan tertulis beliau barangkali yang paling jelas. Itu karena Rom Dwijo untuk setiap orang itu membuatnya dengan keterangan dalam kolom-kolom horisontal mau pun vertikal.

Saya membayangkan bagaimana ia harus berkali-kali mencabut kertas itu dari mesin tik dan memasangnya kembali, serta mengetiknya dengan hati-hati dan penuh kesabaran sehingga menjadi pas.

Dalam keterbatasannya itu ia tidak kehilangan kreatifitas. “Ini luar biasa untuk saya,” ungkap Mgr. Harun.

Usai Misa Requiem di Gereja St. Yusup Pringsewu, jenazah dikebumikan di Makam DSM Negeri Sakti.

Misa secara live

Romo Dwijo menghadap Sang Kekasih, di saat dunia dilanda kekuatiran karena pandemi virus corona. Tak ayal di bumi pertiwi, Indonesia.

Situasi ini membuat Uskup Yohanes Harun Yuwono mengeluarkan kebijakan dalam whatshap.

Para romo, frater, bruder, suster ytk.  

Tanpa mengurangi rasa duka yang kehilangan sesepuh kita, setelah berkoordinasi dengan aparat setempat, Anda sekalian diminta untuk tidak melayat ke Pringsewu. Mohon doanya saja dari komunitas masing-masing. Kehadiran Anda akan diwakili oleh Kuria Keuskupan.

Misa Requiem akan disiarkan live streaming, 1 April 2020 pukul 10.00 WIB oleh Komsos Keuskupan. Mohon pengertiannya dan mohon maklum. Berkah Dalem Mgr. Harun Yuwono 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here