Romo Pertapa Martin Suhartono: Raib Jadi Rahib, Lie Cha Lie Chu Lie Chung Yen (1)

5
3,096 views

Pengantar Redaksi
INI adalah nukilan sangat panjang kisah ‘semi-otobiografi’ yang ditulis oleh Romo Pertapa Martin Suhartono Sanjoyo tahun 2007, ketika tiba-tiba ia ‘pergi’ meninggalkan rumah residensi Serikat Jesus untuk mengembara jauh. Sebuah perjalanan spiritual dan pergumulan batin nan panjang hingga akhirnya ia menemukan panggilan hidupnya sebagai pertapa atau rahib.

Kepastian ini terjadi setelah 40 tahun menjadi Jesuit dan peristiwa pengikraran kaul publik sebagai eremit diosesan Keuskupan Agung Semarang di Sendangsono hari Selasa tanggal 8 September 2015. Peristiwa ini menandai juga berakhirnya keanggota Romo Martin Sanjoyo sebagai anggota Ordo Serikat Jesus (Jesuit) dan mengawali hidupnya yang baru sebagai pastor pertama (eremit) diosesan di KAS.

Selamat membaca dan memetik buah-buah roh dari kisah menarik tentang pergumulan batin menemukan Tuhan dalam segala hal sebagaimana telah dilakoni Romo Pertapa Martin Suhartono Sanjoyo. 

MH
———————

Yang terkasih keluarga: Adisaputra, Alex Hoetomo, Argasetya, Bahar, Bambang BS, Basuki Wardoyo, Benny Achadiyat, Boyoh, Cipto Aji, Denny Saputra, Dharmawan, Erwin Suroso, Freddy S, Gunawan, Hadimargono, Hadinoto, Hardono, Harsono, Hendrani, Karmaji, Karnadi, Leo Herman, Mardani, Oen S.K., Oen Threes, Sidik M, Subagyo, Susanto, Susila, The Piauw Tjong, Tjoa Sian Nio, Utama, Wardhana, Warokka, Widagdo, Widodo, Widya G, Wijanarko, Wim Haryoto, Wiratman, Yudianto, Yulianto.

Saudara: Adiyanto & Dewi, Alvin, Amel, Andi & Linda, Andre S, Andry & Jenny, Anton, Ardhita, Budi N, Cipto, Cucu & Hendra, Cynthia, Dan Malik, Edi S, Edward, Eko, Erwin, Etta, Georgius Han, Glenn, Gugun, Hani, Hari H, Hendro W, Hendrik, Indra, Irianto, Iwan S, Jonas, Klemens & Puspa, Lia, Michael Liem, Mora, Naya & Tony, Nuning, Pipit, Puri, Reza, Ricky, Roy, Siska & Ivan, Siu, Suciati, Susan, Swani, Tono & Veny, Toton & Bettia, Vina, Vinda, Widaal, Yoseph W, Yvonne Oestreich, Fr. Nugy, Rm. Andre, Rm. Azis, Rm. Beda, Rm. Bintoro, Rm. Bowo, Rm. Budi, Rm. Deshi, Rm. Gianto, Rm. Harda, Rm. Hartono, Rm. Henk, Rm. Johny, Rm. Mahar, Rm. Mardi, Rm. Moko, Rm. Priyono, Rm Puspa, Rm. Riyo, Rm. Sardi, Rm. Sindhu, Rm. Teddy, Rm. Wisgickl, Rm. Yumar.

Copy ke: Kel. Hariprakoso, Sr. Caecilia, Rian Budiyanto.

MARTIN  Suhartono sudah tak ada lagi! Mohon dimaafkan, saya pergi begitu saja, raib tanpa pamit. Dulu di Yogyakarta, saya dijuluki “Biksu Thong” karena gundul plontos. Sesudah tiga tahun di Thailand, saya sekarang menjadi biksu beneran, hanya saja, biksu Katolik alias rahib, bernama “Ambrose-Mary”. (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1)

Sebagai ganti kehadiran saya, sekaligus sebagai salam perpisahan, terimalah kisah lika-liku kera(h)iban saya. Sungguh Tuhan adalah God of Surprises!

Selamat Natal 2007 dan Tahun Baru 2008!

(Pada Pesta St. Bruno, 6 Oktober 2007)

Raib Jadi Rahib: Lie Cha Lie Chu Lie Chung Yen

SURPRISE awal tentu saja ketika saya dilahirkan di dunia, tak lama setelah pemilu pertama RI seratus parpol di tahun 1955; bukan cuma surprised, saya begitu shocked sehingga menangis keras-keras sampai mata menjadi sipit seumur hidup, lebih-lebih ketika berusia dua pekan dahi saya dituangi air baptis dan diberi nama Martinus.

Belum lagi berumur tiga tahun, saya musti ikut ayah Gito Sanjoyo (d/h. Lie Kong Bing) dan Ibu Corry Chandra Ariani (d/h. Tjan Kwi Nio dan selanjutnya akan saya sebut saja Papi dan Mami) pindah dari Lanud Kalijati di Subang Jabar ke Lanuma Halim PK Jakarta bersama kakak Truus (kini Ny. Hariprakoso) dan adik Rita (kini rubiah Klaris, Sr. Caecilia OSC); tak lama kemudian lahir adik Paulus (nama seniman: Rian Budiyanto, a.k.a. Opung).

Entah ada angin apa, belum lagi berusia lima tahun, saya memutuskan untuk ikut kakak Mami, Tante Lies, tinggal di Salatikha (menirukan ucapan Tante). Sempat juga saya di-internir di asrama bruderan Karangpanas/Semarang selama kelas tiga SD bersama puluhan anak Indo-Belanda meski saya cuma Indo-Cina, bukan karena nakal melainkan karena kurang-ajar (begitu kata Oom Tjoen Hing, suami Tante). Menjelang Peristiwa G30S saya mendekati Lubang Buaya dengan kembali tinggal bersama orangtua di Halim PK.

Sejak nama saya diganti dari Lie Chung Yen menjadi Suhartono hidup saya relatif tanpa kejutan; paling tidak … untuk sementara waktu. Di kemudian hari ketika Pak Harto turun tahta (1998), dengan penuh semangat reformasi saya kerap sesumbar bahwa sudah sejak dulu nama saya berarti “Suharto NO“. Bukan begitu kok! Yang benar, gabungan nama Sukarno dan Suharto membuat saya memilih Suhartono ketika Papi menyuruh saya mencari nama baru.

Saat itu (1967) saya baru saja membaca artikel di koran Merdeka tentang makna nama; penulis menganalisa bahwa nama dua Pemimpin RI sama-sama tidak sempurna karena masing-masing kekurangan satu unsur alam yang ada pada yang lain.

Menurut penulis itu, su mewakili unsur manusia yang baik, har atau kar mewakili unsur binatang, to unsur tetumbuhan, dan no unsur tanah/bumi; nama Suharto kurang lengkap karena tidak berpijak pada no (bumi) sedangkan nama Sukarno pun tidak lengkap karena tidak menguasai wilayah to (tetumbuhan).

Itulah latar belakang saya memilih nama Suhartono. Harapan saya: nama sempurna otomatis akan membuat saya sempurna. Ternyata tidak! Pilihan lain tentu saja Sukarnoto tapi saya kuatir ini akan membuat saya sukar menata hidup. Bagaimana pun juga, ternyata hidup saya ini memang sukar ditata karena kejutan tak kunjung berhenti meskipun saya sudah ganti nama.

Kejutan di akhir SMA
Menjelang akhir SMA (1974) saya ikut retret siswa Kanisius (Menteng, Jakarta Pusat), bukan karena minat pribadi melainkan desakan Pater Moderator (alm. Rm. Sewaka SJ) dengan iming-iming gratis sementara siswa lain musti bayar Rp. 25.000. Retret tiga hari itu ternyata menentukan masa depan saya. Masuk dengan rencana untuk jadi dokter, saya keluar retret dengan keputusan untuk jadi imam!

Sharing alm. Rm. Kurris SJ tentang panggilan imamat amat menyentuh saya. Begitu session itu selesai, saya langsung kembali ke kamar dan menangis karena menyadari bahwa Allah begitu mengasihi saya, seperti nyata dalam kebaikan banyak orang terhadap saya, sedangkan saya tak mau membalas cinta-Nya; selalu saja saya menunda jawaban terhadap panggilan-Nya.

Selagi berdoa mendadak muncul dalam “layar batin”: gambaran diri saya berpakaian jubah putih; saya pun segera menangkap petunjuk bahwa Allah menghendaki saya mengabdikan diri secara total kepada-Nya. Gambaran itu saya tafsirkan sebagai panggilan untuk menjadi imam.

Ketika saya kabarkan hal itu kepada orangtua, Mami berkata, “Kalau itu memang panggilan Tuhan, Mami turut mendoakan.” Papi bertanya, “Jadi sekarang kamu sudah mantap?” Saya jawab, “Ya!”

Papi bertanya demikian karena sejak kecil saya ingin jadi imam, hanya saja ketika lulus SD (1968) saya membatalkan niat saya masuk Seminari karena Papi tak mengizinkan. Selama SMP malah muncul berbagai cita-cita lain. Di akhir SMP (1971) muncul lagi niat itu, tapi karena Papi ingin saya jadi dokter, maka saya pun tak jadi ke Seminari. Di kelas 1 SMA, mengalami sendiri sebagai pasien sebulan dirawat di RS karena sakit kuning, saya pun terdorong untuk jadi dokter dan melupakan panggilan imamat. (Baca:  Romo Pertapa Martin Suhartono: Raib Jadi Rahib, Kejutan di Akhir Novisiat SJ (2)

Kini di akhir SMA, melihat kemantapan hati saya, Papi tak lagi menentang niat saya. Di hari terakhir 1974 saya masuk Novisiat Serikat Yesus di Girisonta, Karangjati, Ungaran, Kab. Semarang, Jateng. (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara Nglurug tanpa Bala (11)

 

Kredit foto: Ilustrasi Presiden Sukarno dan Presiden Suharto (Ist)

5 COMMENTS

  1. […] SEBAGAI Yesuit muda saya bergulat terus dengan panggilan ke pertapaan. Para pembimbing rohani saya di masa belajar filsafat di Jakarta (1978-1982) menafsirkan pergulatan ini sebagai hal normal dalam kehidupan Yesuit, yaitu ketegangan antara kegiatan kerasulan dan doa, antara aksi dan kontemplasi. (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Raib Jadi Rahib, Lie Cha Lie Chu Lie Chung Yen (1) […]

Leave a Reply to Romo Pertapa Martin Suhartono: Raib Jadi Rahib, Kejutan di Akhir Novisiat SJ (2) | SESAWI.NET Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here