Saudara Sepanjang Zaman

0
267 views
Para peserta workshop "Mengenal yang Lain". usai kegiatan di Gedung Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, Sabtu(4/8/2018).(Sesawi.Net/Loop/ Bernadeta Niken)

KETIKA kita bepergian, melangkahkan kaki keluar rumah untuk mulai beraktivitas kita menjumpai tetangga kita. Beberapa dari mereka mungkin adalah teman-teman masa kecil kita. Namun, pernahkah kita menanyakan kepada diri sendiri, sejauh apa kita telah mengenal mereka? Seperti apa mereka memandang, menilai, dan menghadapi masalah?

Pertanyaan ini adalah upaya refleksi guna menumbuhkan empati sebelum kita melangkah untuk mengenal lebih jauh. Tentu mengenal lebih jauh tidak hanya seperti istilah anak zaman now yaitu “kepo”. Mengenal yang hendak saya tawarkan adalah pengenalan dengan cita rasa empati. Sebuah rasa empati memang pertama-tama perlu dilandasi dengan kesadaran untuk rendah hati mau terbuka dan memberi perhatian lebih tanpa tendensi tertentu. Sisi lain jika kita mendefinisikan mengenal yang lain tanpa empati atau hanya sekedar ‘kepo’ maka mungkin kita yang akan terjebak pada asumsi-asumsi nihil dengan tendensi yang tidak baik.

Inilah refleksi sederhana dalam kehidupan antar umat beragama. Kita kerap kali menemukan permasalahan dan persinggungan antara umat beradama justru karena kurangnya pengenalan dan pemahaman satu sama lain. Tak tanggung-tanggung, perkara sepele karena tidak saling mengenal saja bisa berbuntut tindakan anarki berupa penolakan atas eksistensi yang lain. Kita menjadi yang selain kita selain ‘liyan’ yang berbeda dan diabaikan. Sejarah dunia telah mencatat banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama; Perang Salib, Pertempuran Lepanto dan lainnya. Sejarah dunia hari ini juga membuktikan perang atas nama agama itu tidaks elesai, justru berkembang biak menjadi aksi teroris bertamengkan agama. Di seluruh belahan dunia, aksi-aksi intoleran dan radikalisme bahkan terorisme ini telah merusak citra agama itu sendiri.

Mungkin kita terus mempertanyakan, bagaimana kita memulai mengenal umat yang lain jika tidak ada sarana yang memungkinkan terjadinya dialog. Langkah pertama yang bisa saya sarankan adalah membuang gengsi, tendensi, dan rasa malas kita. Namun untuk menjawab kebutuhan pada sarana dialoh itu, sekelompok penulis orang muda Katolik, Agenda 18 berinisiatif membuat dialog bernama Kelas Mengenal Yang Lain. Tentunya, anggota Agenda 18 selaku penyelenggara berharap melalui Kelas Mengenal Yang Lain ini dapat menjadi wadah umat Katolik khususnya Orang Muda Katolik (OMK) untuk dapat mengenal umat dari agama lain. Sarana dialog ini dikemas dalam bentuk kelas dan di setiap kelas berakhir peserta diminta untuk menuliskan hasil refleksi dari materi yang telah didapat dari narasumber. Tujuan proses ini adalah mengasah kepekaan kita sebagai manusia lewat refleksi yang dituangkan dalam tulisan.

Kelas Mengenal Yang Lain kali ini adalah bentuk kolaborasi Katolik dan Islam. Layaknya saudara sepanjang jaman, kedua agama Abrahamik telah hidup berdampingan dan memiliki sejarah berabad-abad yang sangat menarik untuk dipelajari. Peristiwa ledakan bom di 3 gereja di Surabaya 13 Mei 2018 yang lalu, sangat membekas dalam benak masyarakat Indonesia. Pelaku pengeboman mengatasnamakan Islam dan melibatkan anak-anak saat melakukan aksi pengebomban hingga menelan korban jiwa cukup banyak.

Pasca kejadian itu, sangat disayangkan apabila tidak ada usaha untuk membangun relasi yang lebih baik dan akrab antara Katolik dan Islam guna kembali menenun rajut kebangsaan yang dirusak melalui peristiwa tersebut.

Sebagai salah satu orang yang berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini, saya bisa menyatakan bahwa mengikuti Kelas Mengenal Yang Lain ini banyak sekali keuntungannya, mungkin hampir tidak ada ruginya. Kelas ini tidak membosankan karena penyampaian materi dengan dialog interaktif, jadi tidak hanya satu arah, dan dapat memungkinkan terjadi banyak tanya jawab dan diskusi yang sangat membuka wawasan, informasi baru, dan relasi yang baru. Narasumber juga berpengalaman di bidangnya dan tentunya karena ini mengenal antara Katolik dan Islam, narasumber tidak hanya dari Katolik yang mumpuni saja tapi juga dari Islam yang mumpuni. Dengan mengikuti kelas ini paradigma dan pengetahuan anda dapat berubah menjadi lebih baik mengenai masing-masing agama juga relasi antar kedua agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here