Semangat Ignatian menurut Kemasan Sales

1
4,750 views

SEJAK pertobatannya Ignatius tidak hanya prihatin dengan keselamatan dirinya namun selalu mengarahkan pandangannya pada orang lain. Menolong jiwa orang lain merupakan keprihatinan utama dalam hidupnya. Dengan menolong orang, dia juga menyelamatkan jiwanya.

Menolong orang lain, atau dalam bahasa Ignatiannya “menyelamatkan jiwa-jiwa” merupakan salah satu ciri hakiki spiritualitas Ignatian, sebagaimana pernah ditulis dalam www.sesawi.net edisi 6 Oktober 2011 dengan judul “Inilah Tiga  Ciri Hakiki Spiritualitas Ignatian”.

Seorang sales, atau penjual, pada dasarnya adalah penolong bagi orang lain. Dia berusaha menolong orang lain untuk memperoleh barang atau jasa sesuai yang diharapkan. Tentu hasrat menolongnya didasari oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Dengan “menolong”, mereka berharap barang atau jasa yang ditawarkan laku terjual dan mereka memperoleh keuntungan. Motivasi Ignatius dan sales tentu berbeda, namun apa yang terlihat dari luar bisa jadi sama.

Penampilan, sikap dasar  “Penjual”
Untuk “menolong”, sales mempunyai banyak strategi. Yang paling dasar adalah penampilan dan sikapnya. Ini diharapkan akan menimbulkan kesan pertama mendalam bagi calon pembeli, yang mempengaruhi proses penjualan selanjutnya.

Dalam buku Budhi Wibowo dan Adi Kusrianto berjudul “Jangan Menjual, Jika tidak Tahu Ilmunya. Panduan Praktis untuk Para Penjual” (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2009) dituliskan beberapa penampilan dan sikap dasar yang diharapkan muncul dari para sales sebagai berikut:

  • Pakaian: rapi dan menarik.
  • Sepatu: bersih dan cocok dengan situasi.
  • Berjabat tangan: mantap, sambil tersenyum ke lawan bicara.
  • Menyapa dengan sopan.
  • Tersenyum.
  • Tatapan mata: ke lawan bicara dengan lembut.
  • Tampil meyakinkan dengan ekspresi meyakinkan: pede tapi  tak sombong.
  • Hindari gerakan berlebihan.
  • Cara berbicara: lembut, jernih, jelas, tidak monoton, kalimat sederhana, tidak memotong kalimat lawan bicara.
  • Penggunaan kosa kata: sopan, tidak bertele-tele, kalimat positif.
  • Suasana hati: usahakan untuk berjualan saat suasana hati kita sedang baik.
  • Menampatkan diri sebagai pelayan dan tidak terpancing pada sikap negatif calon pembeli.

Bukankah ini juga merupakan sikap dasar yang selalu dikedepankan oleh seorang penjual “bernama” Ignatius?  Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana sikap dan penampilan luar tersebut didasari pada motivasi untuk menolong orang lain tanpa pamrih/keuntungan. Melulu demi kebaikan orang lain. Melulu demi perkembangan orang lain. Melulu untuk semakin mendekatkan orang lain pada Tuhan. Dan itu yang paling susah. Anda siap jadi “sales” Ignatian?

Photo credit: www.mitra-teamwork.com

1 COMMENT

  1. Betul… kalau suasana hati tidak sedang senang bisa membuat hati tidak total… apalagi kalau suasana hati terkait upah yang tidak layak… tapi kok ya masih ada juragan yang tidak layak mengupah parahnya menuntut hasil kerja maksimal ??????

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here