Senin, 4 Juni 2018 Mrk 12: 1-12: Derita Menuai Berkat

0
1,018 views
Ilustrasi: Berkat Uskup Keuskupan Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM kepada pasangan pasutri di Paroki Kosambi usai Misa Gotaus November 2014. (Mathias Hariyadi)

HIDUP ini kadang keras, maka banyak orang mengawali dan mengakhiri hidupnya dengan mengeluh. Karena keberhasilan suatu kehidupan, biasanya terjadi jika dirancang sejak awal dengan usaha yang keras, cermat, dijaga dan dirawat agar hasil usaha kita aman dan diantisipasi dengan segala kemungkinan buruk terjadi.

Namun meski demikian tetap saja ada kemungkinan gagal dan segala  sesuatu harus dimulai dari nol lagi. Namun tidak demikian bagi pengikut Kristus. Tak ada kata gagal dalam hidup, karena setiap realitas seburuk apa pun terkandung berkat  yang tersebunyi.

Seperti dalam bacaan Injil hari ini: “Batu yang di buang oleh tukang- tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.”

Di lihat dari sisi manusiawi, para pemimpin Yahudi (sebagai petani penggarap) telah gagal menunjukkan buah kepercayaan dari Allah, untuk merawat kebun anggur (bangsa Israel) sampai panen tiba, karena keserakahan membuat semua buah kebaikan tertumpas habis.

Sikap yang ditunjukkan oleh para pemimpin Yahudi bisa jadi sama dengan sikap yang sering kita lakukan dalam kehidupan ini. Di mana toleransi kita terhadap kelemahan diri sendiri itu malah sering membuat kita tidak tahan melihat orang lain berhasil atau mengalami hal baik dalam hidup.

Jika demikian kita perlu terus belajar dari Yesus, batu yang dibuang tidak selalu berupa penolakan orang lain atas kita, tetapi bisa jadi justru diri kita sendiri menolak sesuatu yang kita pandang remeh, rapuh, jelek, gagal, rusak, sakit, dan luka dalam diri kita.

Padahal realitas itulah justru menjadi saat kita menjadi pribadi yang matang dan memperoleh berkat melimpah, jika kita bertahan dan sabar dengan proses kehidupan kita.

Seperti pada Perayaan Tubuh dan Darah Yesus yang baru saja kita rayakan, sesungguhnya kita telah diajari bahwa nilai pengorbanan Yesus di kayu salib kini telah menjadi kenangan indah sepanjang abad bahkan sampai hari ini, sebagai pemberian diri berupa Tubuh dan darah. Dan Gereja hidup berpuluh puluh abad kuat dan bertahan karena memiliki dua  kekuatan besar yaitu sakramen khususnya,  Sakramen Ekaristi  dan Roh Kudus.

Maka manakala hidup ini terasa keras dan penuh derita, saatnyalah kita kembali mengingat dan mensyukuri, kenangan-kenangan indah, dimana Tuhan telah punya acara yang khas bagi kita agar hidup kita tidak musnah oleh derita di masa lalu.

Karena di setiap titik gelap kehidupan kita, disitulah cahaya Tuhan tersedia. Maka bagi hati yang percaya dan mencintai tak akan agresif dengan kerasnya kehidupan ini, sebaliknya dengan sikapnya yang lembut akan menjadikannya batu penjuru untuk bisa membangun kehidupan yang penuh berkat.

Contemplating

Marilah kita heningkan jiwa, raga, rasa dan hati kita, untuk memandang dan menghadirkan kembali kenangan indah Tuhan yang telah menyapa hidup kita.

Atuating

Pola hidup apa yang perlu kubiasakan atau kuubah agar hidup makin peka untuk melihat berkat yang tersembunyi dalam setiap kesulitan dan titik gelap kehidupan.

Reflecting

Apakah pengalamanku dari hrai ke hari  telah membentukku menjadi pribadi agresif dengan kehidupan ini? Ataukah membuatku makin lembut dan manis hingga setiap realitas seburuk apapun menjadi berkat dalam hidup?

Praying

Tuhan Yesus, batu penjuru kehidupanku, bimbinglah kami dengan kuasa Roh-Mu. Agar kami makin manis dan lembut dalam menyikapi setiap peristiwa dalam kehidupanku. Ajarilah kami membuka diri untuk menimba berkat-Mu dalam segala sesuatu. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas. Berkah Dalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here