Serba Aneka Ad Limina di IRRIKA: Uskup Indonesia Berharap Paus Bisa Kunjungi Indonesia dan Singgahi Kalimantan

0
1,287 views
Para Uskup Indonesia seusai mengadakan Perayaan Ekaristi di Basilika Maria Maggiore di Roma. (Ist)

SELAMA sepekan lamanya, para Uskup Indonesia berjumlah 36 orang yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengadakan kunjungan ad Limina di Vatikan, Italia, 8-15 Juni 2019. Pada hari terakhir, para Bapak Uskup merayakan Ekaristi di Basilika Maria Maggiore, Roma, Sabtu 15 Juni 2019.

Mgr. Nicolaus Adiseputra MSC, Uskup Agung Keuskupan Merauke, didaulat sebagai selebran utama. Hadir pula beberapa imam dan umat Katolik Indonesia yang ikut merayakan Ekaristi.

Seusai perayaan Ekaristi, para Uskup dan imam yang hadir mendapatkan kenang-kenangan sebuah buku berjudul The Basilica of St. Mary Major: Faith and Sacred Space.

Buku setebal 222 halaman yang full colour ini berkisah tentang sejarah, spiritualitas, dan aneka uraian tentang arsitekstur bangunan Basilika Maria Maggiore.

Basilika yang dibangun mulai tahun 432 ini mempunyai ukuran 92 x 80 meter. Di dalamnya ada makam Paus Pius V, relikwi palungan Bayi Yesus, dan aneka ornamen yang sangat megah.

Temu akbar IRRIKA

Dari Basilika Maria Maggiore, para Uskup langsung pergi menuju Rumah Generalat Suster Ursulin (OSU) yang berlokasi di Jl. Nomentana 236, Roma.

Dalam agenda kunjungan ad Limina ini,memangsudah dijadwalkan bahwa di Rumah Generalat OSU para Uskup Indonesia itu akan mengadakan pertemuan dengan IRRIKA-Italia.

Lukisan Yesus dan Maria di Basilika Maria-Maggiore di Roma by Mathias Hariyadi.

IRRIKA adalah Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi.

Pada awal pertemuan, Sr. Moekti K. Gondosasmito OSU asal Indonesia dan mewakili Dewan Jenderal OSU selaku tuan rumah, mengucapkan selamat datang dan kebanggaan bahwa dipercaya ‘ketempatan’ Temu Akbar IRRIKA dengan para Uskup Indonesia.

“Kami para suster OSU sungguh merasa gembira dan bangga karena pada hari ini rumah kami disucikan dengan kehadiran para Bapak Uskup, para pastor, frater, bruder serta suster,” tutur Sr. Moekti OSU yang pernah mengampu tugas sebagai Kepala Sekolah SMA St. Ursula di Jl. Pos 2, Jakarta Pusat.

Ketua IRRIKA Pastor Aleksander Dancar SVD juga menyambut baik inisiatif tersebut. Ide itu diungkapkan beberapa waktu  lalu, ketika Sekretariat Jenderal KWI yang diwakili Pastor Siprianus Hormat selaku Sekretaris Eksekutif KWI, mengagendakan kegiatan temu dialog dengan para rohaniwan-rohaniwati Indonesia yang berada di Italia.

“Tanpa berpikir panjang, saya dan pengurus IRRIKA langsung menyetujuinya. Dan disepakati hari ini,” ungkap Pastor Aleks.

Meski sedang masa ujian akhir semester, lebih dari 200-an orang anggota IRRIKA  tetap hadir dalam Temu Akbar tersebut.

Mgr. Antonius Bunjamin Subianto OSC selaku Sekretaris Jendral KWI dan juga Uskup Keuskupan Bandung memperkenalkan nama para Bapa Uskup satu per satu.

Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo memberi paparan tentang hasil Kunjungan Ad Limina kepada Komunitas IRRIKA.

Tiga isu aktual

Selain ‘temu kangen’ dengan Uskup dari Keuskupannya masing-masing, para anggota IRRIKA juga berdialog dengan para Bapak Uskup tentang aneka topik dan isu aktual di tanah air.

Selain itu, Mgr. Ignatius Suharyo selaku Ketua KWI membagikan hasil pertemuan dengan Paus Fransiskus dan hasil pembicaraan dengan aneka Kongregrasi dan Dikasteri di Vatikan selama berlangsugn kunjungan ad Limina.

Ada tiga poin penting yang disampaikan Mgr. Suharyo, yaitu Pesan Dokumen Abu Dhabi, terjemahan teks liturgi dalam bahasa lokal, dan isu ekologi terkait produksi minyak kelapa sawit.

Terkait dengan Dokumen Abu Dhabi, Mgr. Suharyo mengungkapkan bahwa Paus Fransiskus berpesan kepada para Uskup Indonesia untuk mempelajari Dokumen Abu Dhabi yang telah ditandatangani oleh Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyib dalam Pertemuan Persaudaraan Manusia di Uni Emirat Arab.

Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Sheik-Ahmad-el-Tayeb di Abu Dhabi UEA, 4-Februari 2019-by Paul Haring.

“Naskah dokumen itu diberikan kepada kami. Selain dipelajari bersama sampai akar rumput, Paus Fransiskus juga berpesan agar dokumen itu dijadikan watak Gereja Katolik di mana pun berada, karena yang dikatakan di sana masalah-masalah kemanusiaan umum,” tutur Mgr. Suharyo.

Lebih lanjut, “Yang menarik di Indonesia, dokumen itu sudah dibicarakan. Yang mengambil inisiatif adalah organisasi Islam, di antaranya Wahid Foundation, Maarif Insitute dan Paramadina. Justru kita, Gereja Katolik diundang. Bahkan pesantren-pesantren sudah menjadikan dokumen itu menjadi bacaan wajib bagi para santri setiap hari selama bulan Ramadhan dalam bahasa Arab.”

Mgr. Suharyo menegaskan bahwa dokumen itu akan dipelajari bersama oleh para Bapa Uskup dalam Hari Studi bulan November yang akan datang.

Terkait penerjemahan teks-teks liturgi, dalam pertemuan dengan Paus Fransiskus serta Kongregasi Liturgi dan Sakramen, Konferensi Waligereja Indonesia diberi hak untuk melakukan dan mengesahkan terjemahan teks-teks liturgi dalam bahasa setempat.

Kongregasi Liturgi dan Sakramen hanya mengetahui saja.

“Silakan. Kalian yang menerjemahkan, kalian yang tahu dalam bahasa Indonesia,” kata Mgr. Suharyo menirukan pernyataan Paus Fransiskus.

Selama ini yang terjadi bahwa penerjemahan teks liturgi di Indonesia masih beragam. Ada terjemahan yang literal (harafiah) dan terjemahan menurut maknanya.

“Dalam dua kesempatan, pertemuan dengan Paus dan dengan Kongregasi Liturgi, sangat jelas bahwa penerjemahan teks liturgi adalah ad sensum, menurut maknanya, tidak menurut hurufnya,” tegas Mgr. Suharyo.

Kemudian terkait dengan isu aktual ekologi, Kongregasi Pengembangan Manusia Seutuhnya mengajak para Uskup Indonesia berdiskusi tentang pro kontra produksi minyak kelapa sawit bagi dunia.

“Itulah salah satu hal yang perlu dipikirkan oleh KWI”, tutur Mgr. Suharyo.

Ketua IRRIKA yang baru

Dalam sesi tanya jawab, ada banyak hal yang diutarakan.

Terkait dengan praktik dan tantangan dialog agama di Indonesia, upaya untuk terus menumbuhkan panggilan di setiap Keuskupan, suka duka hidup dan berkarya di Italia, reksa pastoral yang khas di setiap keuskupan, perlunya Komisi Hukum di KWI, kerjasama Konferensi Waligereja Indonesia dengan Konferensi Waligereja Italia (Conferenza Episcopale Italiana) terkait dengan rekrutmen calon suster dari Indonesia, dsb.

Terkait dengan hidup panggilan atau religius, misalnya, Indonesia pantas bangga.

Menurut data dari Kongregasi Hidup Bakti, meski Indonesia mayoritas Islam, banyak misionaris dan religus dari Indonesia yang berkarya di berbagai negara di dunia. Bahkan,

Indonesia merupakan negara nomor lima  yang subur panggilan hidup religius di dunia.

Pada akhir acara diadakan pemilihan pengurus IRRIKA periode 2019-2020. Pastor Stefanus Tommy Octora P terpilih menjadi Ketua IRRIKA yang baru.

Imam Diosesan Keuskupan Agung Jakarta ini sedang studi doktoral Hukum Gereja di Universitas Kepausan Urbaniana dan bertempat tinggal di Collegio San Pietro.

Kemudian Pastor Aleksander Dancar membacakan berita acara pemilihan ketua IRRIKA itu dengan Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua KWI) selaku saksi dalam berita acara tersebut.

Serba-serbi ad Limina

Selama acara kunjunngan ad Limina para Bapak Uskup menginap di dua tempat.

Ada tiga Uskup yang tinggal menginaap di Casa Bambina Gesu Via Paolo VI, 21 Roma yang berlokasi di samping Lapangan Basilika Vatikan.

Sedangkan 33 Uskup lainnya tinggal dan menginap di Domus Romana Sacerdotalis (Casa del Clero)Via Traspontina 18 Roma  yang berlokasi di depan Lapangan Basilika Vatikan.

Para Uskup bersama Dewan Jenderal Kongregasi Ordo Suster Ursulin.. Duduk di sebelah kiri Mgr. Ignatius Suharyo adalah Pemimpin Umum Ordo Santa Ursula yakni Sr. M. Cecilia Wang OSU asal Taiwan.

Pada saat pertemuan dengan Bapa Suci, Para Bapak Uskup diminta harus mengenakan jubah Uskup warna hitam dengan kancing berwarna merah, memakai salib, cincin, dan solideo. Keharusan ini juga “mengena” terhadap Mgr. Suharyo.

Beliau juga wajib harus memakai solideo, padahal selama ini beliau jarang memakainya.

Solideo adalah topi kecil berbentuk bulat berwarna ungu sedikit kemerah-merahan.

Nama lain dari Solideo adalah zucchetto atau pileola.

Dalam audiensi dengan Paus Fransiskus,  Mgr. Nico dari Keuskupan Agung Merauke di Papua minta 20 buah rosario, tetapi oleh Bapa Suci malah diberi 300 tasbih Rosario.

Sementara itu, Mgr. Rubiyatmoko dari KAS memberi sebuah cinderamata kepada Bapa Suci sebuah kain batik yang bergambar Yesus Tersalib, sebuah persembahan dari Komunitas Balai Budaya Rejosari di perbatasan Pati-Kudus, Jawa Tengah.

Paus Fransiskus menerima cenderamata berupa kain batik dari Mgr. Rubiyatmoko (Instagram Mgr. Rubiyatmoko)

Saat menerima cinderamata itu, Bapa Suci bertanya, “Questo per me?” (Ini untuk saya?).

Lalu Mgr. Rubi menjawab, “Si, per Lei” (Ya, untuk Anda).

Dengan gembira dan senyum khasnya, Bapa Suci menerima cinderamata tersebut.

Paparan tentang Indonesia

Mgr. Ignatius Suharyo menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang istimewa karena terdiri dari banyak kelompok etnis, bahasa, dan pulau; tetapi Tuhan mempersatukan semuanya menjadi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.

“Bangsa Indonesia terdiri lebih dari 1.340 suku bangsa; lebih dari 87% penduduknya beragama Islam.  Artinya, Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia; ada lebih dari 700-an bahasa, tidak termasuk di dalamnya berbagai dialek. Kendati demikian, Tuhan mempersatukan kami sebagai satu nusa, satu bangsa dengan satu bahasa. Karya agung Tuhan inilah yang kami syukuri dalam Prefasi Untuk Tanah Air,” ungkapnya dalam sambutan.

Lebih lanjut, diuraikan bahwa sejak awal umat Katolik sangat terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan.

“Kami bangga bahwa di dalam Gereja Katolik Indonesia ada sejumlah Pahlawan Nasional: Uskup Indonesia pertama Mgr. Albertus Soegijapranata SJ dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional. Dari kalangan awam katolik dan militer Katolik juga ada tokoh yang dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional. Umat Katolik di Indonesia mendapat warisan yang amat berharga, yaitu rasa cinta akan Tanahair”.

“Kami lihat sendiri di meja kerja beliau (baca: Paus Fransiskus) ada map besar tentang Indonesia, berarti beliau sungguh-sungguh ingin tahu Indonesia seperti apa,” tutur Mgr. Suharyo.

Para Uskup ndonesia bersama para anggota IRRIKA.

Berharap kunjungi Indonesia dan singgahi Kalimantan

Mgr. Suharyo dan para Uskup Indonesia mengharapkan agar Bapa Suci suatu saat bisa berkunjung ke Indonesia, yang mayoritas berpenduduk Muslim.

“Sambil memohon berkat dari Bapa Suci bagi kami semua dan bagi umat Katolik di Indonesia dan bagi seluruh masyarakat Indonesia, kami sampaikan salam hormat dan bakti kami. Semoga pada waktunya nanti –kalau Tuhan mengizinkan– kami dapat menyambut Bapa Suci berkunjung ke Indonesia,” harap Mgr.  Suharyo dalam sambutannya.

Ada salah seorang Bapak Uskup Indonesia yang hampir pensiun mengatakan kepada Paus Fransiskus seperti ini:

“Bapa Suci, sebelum saya pensiun, saya sangat berharap  Bapa Suci bisa berkunjung ke negara kami, terlebih di Keuskupan saya di Kalimantan.”

Kemudian dengan bergurau, Paus Fransiskus menjawab, “Kalau begitu, kamu jangan pensiun dulu, tunggu saya datang ke Kalimantan.”

Romo Paulus Halek Bere ketiga dari kiri dan penulis Romo Yohanes GunawanPr di posisi paling kanan.

Di akhir audiensi, Paus Fransiskus menyalami para Uskup dari Indonesia satu per satu dan memberikan bingkisan kecil.

Ketika menyalami salah seorang uskup yang menyapanya dengan suara serak, Paus Fransiskus dengan senyum hangat mengatakan, “Semoga Tuhan menyembuhkan suaramu”.

PS:

  • Tulisan ini disiapkan bersama oleh Romo Y. Gunawan Pr dan Romo Paulus Halek Bere SS.CC.
  • Kredit foto: Y.  Gunawan Pr, Romo Paulus Halek Bere SS.CC, dan Sr. Moekti OSU.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here