Seri Pastoral OMK: Petani yang Tekun Menggarap Lahan dan Tanaman (5)

0
277 views
Pembinaan menggarap lahan jiwa orang muda Katolik. (Ist)

MENDAMPINGI orang muda memerlukan suatu pendekatan.  Pendekatan menjadi suatu jalan bagaimana para pembina mendampingi OMK. Pendekatan yang dimaksud tentu bukan sekedar alat bantu kerja saja namun pendekatan dalam pembinaan iman erat kaitannya dengan dasar teologis dan nilai injili yang ditekankan.

Dalam pendekatan termuat konsep teologis, nilai kristiani dan praktik sehingga pembinaan yang dibuat tetap dalam suatu kerangka pastoral.  Pendekatan inilah yang membedakan pendampingan orang muda Katolik dengan pembinaan kaum muda lainnya. Oleh karenanya para pembina perlu memiliki pendekatan agar pendampingannya lebih terarah.

Dunia pertanian

Salah satu pendekatan dalam mendampingi orang muda itu adalah menerapkan dunia pertanian.  Dalam Injil kita pun sering mendengar bagaimana Tuhan Yesus memakai dunia pertanian untuk mengajarkan kerajaan Allah.

Mengolah jiwa anak-anak muda.

Dalam pendekatan ini komunitas orang muda dapat dianalogikan sebagai lahan yang harus diolah.  Para pembina menempatkan dirinya seolah-olah petani. Lahan tersebut agar berdaya guna harus dikelola.  Maka si petani berpikir dan berusaha bagaimana hal itu terwujud.  Ia pun perlu memikirkan jenis tumbuhan apa yang hendak ditanam. Kemudian ia menyiapkan lahan, memilih bibit, menanam dan mengurusnya secara sabar, tekun dan membutuhkan waktu rutin, pengaturan air dsb.

Mengolah jiwa

Pendekatan ini secara konkret mengajak para pembina untuk mengenali orang muda yang ia dampingi. Pembina perlu mengkaji terlebih dahulu konteks domisili, kebudayaan dan tantangan mereka. Seandainya pembina berhadapan dengan orang muda dari daerah urban maka konteks hidupnya ialah zaman now.

Multikultural dan etnis merupakan bagian hidup orang muda. Orang mudanya pun mulai melepaskan diri dari ikatan agama.  Bahasa dan tren musik dan pakaiannya lebih mencerminkan kebebasan.  Lahan semacam itulah yang harus dipahami oleh si pembina.

Pembina pun dapat mulai berefleksi kira-kira nilai injil apa yang tepat dengan masyarakat semacam itu. Nilai injil yang hendak ditanam layaknya benih yang hendak ditabur di lahan.  Setelahnya pembina akan lebih jelas dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya nilai komuniter (kebersamaan) yang hendak ditanamkan dalam komunitas orang muda. Pembina mulai memupuk dan menyiraminya.  Ia menciptakan lingkungan agar nilai komuniter dimana semangat berbagi, solidaritas, dan bekerja sama tumbuh.

Agar semangat itu bertumbuh maka kegiatan-kegiatan yang diprogramkan pun mendukung pertumbuhannya misalnya dengan olah raga, bakti sosial, kunjungan teman yang sakit, perayaan iman pun bertemakan nilai tersebut dan sebagainya. Lalu fasilitas macam apa yang cocok untuk memupuk pertumbuhan iman mereka.

Pembina sadar untuk menjaga tanaman itu ia memerlukan orang lain yang dapat dilibatkan bisa saja ia mengajak para psikolog dan konselor, ahli komunikasi, dan sebagainya. Mereka dapat memberikan input yang positif untuk pertumbuhan mereka. Sangat mungkin untuk memperbaiki lahan maka para konselor memberikan bimbingan personal kepada OMK yang dirasa perlu dibebaskan dari hama pengrusak semangat komuniter.

Dialog dan kerjasama dengan anak-anak muda.

Pembina juga bisa bekerja sama dengan pioner-pioner OMK yang dapat dijadikan penggerak dalam membangun hidup komuniter.  Atau, si pembina sendiri berkonsultasi agar penanganan tanamannya lebih subur.

Sabar dan percaya

Pendekatan ini tentu membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Prinsip si petani dalam bekerja memegang sabda ini, “Bagaimana terjadinya orang itu tidak tahu, bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah mula-mula tangkai lalu bulir kemudian butir-butir yang penuh isi pada bulir itu.” (Mrk 4:27-28).

Proses pembentukan kaum muda untuk menghidupi sabda Tuhan dan bertumbuh imannya murni karya Allah dan Roh Kudus.  Pembina tidak harus setiap saat (24 jam) menunggui lahan dan tanamannya.  Ada ruang kebebasan bagi orang muda untuk bergerak dan berdinamika.

Namun demikian si petani tetap bekerja sama dengan alam dan lingkungannya.  Sikap pemalas yang hanya menunggu panen bukanlah sikap yang tepat tetapi justru ia terus secara rutin mengecek apakah ada hama yang menyerang tanaman tersebut dan menyianginya.  Kadang kala bila kebanyakan air maka ia harus berani menutup aliran itu agar tanamannya tidak busuk. Pembina berani mengatakan cukup terhadap aktivitas-aktivitas atau tren tertentu yang membahayakan pertumbuhan. Pada masa pertumbuhan pembina tetap memberi perhatian kepada tanaman, lahan dan lingkungan sampai akhirnya tiba saat memanen.

Catatan bagi pembina

  1. Mengenal lahan (konteks orang muda setempat).
  2. Bijaksana dalam memilih benih untuk ditanamkan (discerment tentang nilai injil yang ditumbuhkan).
  3. Mencari pupuk dan obat anti hama (rela bekerja sama dengan aneka pihak dan kreatif menentukan kegiatan).
  4. Sabar dan percaya (pertumbuhan butuh proses dan karya Roh Kudus).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here