Suster OSA Menyemai Panggilan di Ketapang: WC Rasa Internasional di Biara St. Augustinessen (4)

0
134 views
Biara OSA yang baru selesai dibangun di tahun 1957 dan diberkati oleh Vikaris Apostolik Ketapang Mgr. Gabriel Wilhemus Sillekens CP. (Dok CP-OSA/Repro MH)


PROJEK membangun biara baru OSA di Jl Pal –kini jalan besar ini sudah berganti nama menjadi Jl. Jenderal Sudirman— di pusat kota Ketapang berlangsung dengan cepat dan lancar.

Dimulai pada bulan Januari tahun 1957, maka 10 bulan kemudian bangunan biara OSA yang super gres itu mulai siap dihuni oleh para suster misionaris St. Augustinessen (OSA) asal Negeri Belanda.

Hari bahagia itu tercatat dalam sejarah Kongregasi Suster St. Augustinus dari Kerahiman Allah (OSA) yakni pada tanggal 11 Oktober 1957.

Pada hari yang sama pula, Kongregasi OSA juga punya “gawe” besar yakni menerima tiga orang calon suster dari kalangan pribumi sebagai Postulan.

Dua hari kemudian, pada tanggal 13 Oktober 1957, Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) juga resmi beroperasi.

Tempat makan untuk anak-anak penghuni asrama Susteran OSA. (Dok OSA/Repro MH)
Sr. Clementina OSA membuka karya asrama di Ketapang tahun 1952. Beberapa tahun kemudian, Sr. Clementina didapuk menjadi Pemimpin Novis (Magistra).
Para suster bermain badminton di depan Biara dan Asrama OSA Ketapang di tahun 1957. (Dok OSA/Repro MH)
Murid-murid Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) di Ketapang asuhan para suster OSA. (Dok OSA/Repro MH)
Para gadis Ketapang “bersekolah” di Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) Ketapang asuhan para Suster St. Augustinessen (OSA) tahun 1954. (Dok OSA/Repro MH)

WC Internasional

Pada hari besar di mana Vikaris Apostolik Ketapang Mgr. Gabriel Wilhemus Sillekens CP datang memberkati biara baru OSA di Jl Pal, kerumunan orang banyak hadir menyaksikan prosesi pemberkatan tersebut.

Tentang hal ini, Sr. Mathea Bakker OSA lalu mulai berkisah tentang kisah masa silam di Ketapang tahun 1957.

Ada begitu banyak hal yang telah membuat khalayak ramai sampai bisa terpukau. Salah satunya adalah pesona “keindahan” bangunan biara OSA yang semuanya berbahan baku kayu belian.

Lalu ada juga komentar-komentar menarik nan lucu yang selalu baik untuk dikenang sebagai bahan hiburan.

“Salah satunya adalah komentar publik tentang kamar-kamar suster dan WC serta klosetnya,” papar Sr. Mathea Bakker OSA dalam sebuah wawancara di Nederland.

Bangunan Biara OSA yang baru itu terdiri dari dua lantai.

Projek pembangunan biara OSA yang baru di Jl Pal, Ketapang, dimulai awal tahun 1957. (Dok CP/OSA-Repro MH)
Masih dalam proses pembangunan.

“Masing-masing lantai ada kamar-kamar untuk para suster. Di lantai bawah dan atas, tersedia juga kamar-kamar mandi dan WC berikut kloset-nya,” tambahnya.

Yang membuat publik para hadirin itu sampai terpukau adalah tampilan WC di mana klosetnya bukan lagi jongkok, melainkan orang bisa duduk manis sembari misalnya membaca.

“Waah, ini sesuatu hal yang sangat baru dan mencengangkan bagi khalayak ramai pada saat itu. WC-nya bercitarasa internasional,” demikian bunyi coletehan orang yang mengundang tawa.

Tak terkecuali juga bagi Sr. Mathea Bakker. Saat ia mengisahkan kembali peristiwa besar yang terjadi di sisi-sisi “dalam” kompleks Biara OSA yang baru itu, maka kisah itu pun juga memantik tawa.

Biara OSA di tahun 1957 tampak dari kejauhan. (Dok OSA/Repro MH)

Tiga fungsi bangunan

Di kompleks Biara OSA yang baru itu ada tiga “wilayah” yang berbeda dan masing-masing berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Bangunan satu dipakai sebagai “rumah” atau Biara OSA. Lalu ada bangunan kedua untuk Asrama. Dan lainnya lagi untuk ruang Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) di mana tinggal anak-anak asrama yang datang dari segala penjuru Ketapang untuk “bersekolah”.

Jalan setapak menuju Biara OSA tahun 1957. (Dok OSA/Repro MH)
Tampak dari depan bangunan Biara OSA tahun 1957. (Dok OSA/Repro MH)
Biara OSA di tahunn 1957 tampak dari sisi samping muka. (Dok OSA/Repro MH)
Biara OSA tampak dari samping.

Mereka tinggal di asrama dan belajar menimba sejumlah keterampilan khas perempuan seperti memasak, menjahit, menyulam, dan lainnya.

“Ketika Mgr. Sillekens CP datang untuk meresmikan kompleks Biara OSA yang baru itu, maka banyak orang datang melihat. Mereka merasa tertarik dan ingin bisa melihat-lihat semua ruangan di tiga unit bangunan berbeda itu. Termasuk unit Biara di mana di situ juga ada ruangan-ruangan untuk Novisiat,” paparnya.

Yang pasti, di hari tanggal 11 Oktober 1957, Biara OSA Ketapang layaknya menggelar acara “Open House”.

Dan dari sekian hal yang menarik untuk dilihat dan kemudian menuai komentar unik dan lucu justru “tampilan” kloset bercitarasa internasional di WC Biara OSA.(Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here