Suster Pendekar OSA Ketapang: Jubahan, Kaul Pertama dan Kekal, Hidup Membiara dan Mengukur Jalan

1
592 views
Ilustrasi: Para suster OSA menelungkup diri di hadapan altar Kapel Susteran Biara OSA Ketapang sebelum mengucapkan kaul-kaulnya di hadapan Mgr. Pius Riana Prapdi,18 Juli 2018. (Dok. Kongregasi OSA)

GURU-guru sejati. Begitulah Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi suka menyebut para suster biarawati Kongregasi Santo Augustinus dari Kerahiman Ilahi –biasa disebut OSA— dengan nama tersebut.

Di mata Mgr. Pius Riana Prapdi, para suster OSA itu sungguh layak disebut guru-guru sejati di tiga bidang yang sungguh mereka kuasai. Dan itu juga sudah teruji oleh zaman, karena para suster OSA itu selalu punya daya juang tinggi, ‘tahan banting’ menghadapi segala jenis tantangan riil dan terbukti mampu bertahan selama perjalanan sejarah.

Mgr. Pius Riana Prapdi: Suster OSA, Guru Sejati di Wilayah Pastoral Keuskupan Ketapang (4)

Tiga keunggulan para suster OSA yang tak pernah lekang oleh waktu itu adalah karya-karya di bidang:

  • Pendidikan formal di sekolah-sekolah.
  • Pembinaan karakter siswa dengan model berasrama.
  • Layanan kesehatan di pusat Kota Ketapang dan titik-titik lokasi di kawasan pedalaman, jauh dari kebisingan kota.
Mengucapkan triprasetya di hadapan Gereja Katolik yang diwakili oleh Ordinaris Wilayah Gereja Keuskupan Ketapang yakni Mgr. Pius Riana Prapdi.

Perjumpaan tak sengaja tim liputan AsiaNews.It, Sesawi.Net, dan Gerakan Words2Share dengan Sr. Elisa Petra OSA di halaman Gereja St. Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Paroki Air Upas tanggal 29 Juni 2018 semakin mengukuhkan kesan di atas.

Seragam lapangan khas OSA

Lain di biara, maka lain pula di lapangan.

Ketika dalam perjalanan menembus pedalaman dengan naik sepeda motor, maka para suster OSA diwajibkan harus lukar baju  ‘ganti busana’ dengan ‘seragam lapangan’ berupa celana panjang dan pernak-pernik lainnya.

“Kami para suster OSA harus menyiapkan perangkat kerja selama melakukan turne antara lain dengan membawa serta baju  ‘seragam lapangan’. Kami bersiap diri untuk berbasah-basah ria dengan guyuran air hujan dan lumpur pekat selama meniti jalan-jalan kategori off-road di jalanan pedalaman,” begitu kata Sr. Sesilia OSA, pembina dan pendamping suster-suster yunior OSA.

Seragam lapangan para suster OSA ketika berpastoral di “jalan raya” dan kawasan pedalaman. Inilah yang dipakai Sr. Elisa Petra OSA – paling kanan– ketika kami bertemu makan siang di acara pesta kebun usai misa tahbisan imamat di Gereja MRPD Air Upas 29 Juni 2018. (Mathias Hariyadi)

Dan itu memang tampak dari tampilan fisik Sr. Elisa Petra di Gereja St. Maria Ratu Pencinta Damai (MRDP) Paroki Air Upas, Keuskupan Ketapang, tanggal 29 Juni 2018 lalu.

Berbalut celana panjang dan masih lengkap dengan busana biarawati, Sr. Elisa Petra adalah salah satu contoh sosok ‘pendekar perempuan’ made in Kongregasi OSA.

Ia berasal dari Muntilan, tidak jauh dari Kompleks Kerkop Romo Sandjojo Pr di tlatah Betlehem van Java.

Bidan keliling

Sr. Elisa Petra OSA berprofesi sebagai bidan. Ia berasal dari Tanah Jawa dengan segala fasilitas transportasi publik dan privat yang sudah bisa menjangkau segala penjuru. Meski lahir dan besar serta kuliah di Jawa dengan semua fasilitas publik tersebut, Sr. Elisa Petra OSA mengaku tak pernah gentar setiap kali harus mengarungi medan pastoral Keuskupan Ketapang yang maha luas plus jaringan transportasi yang tidak memadai di mana-mana.

Inilah sepeda motor andalan Sr. Elisa Petra OSA selama menjadi bidan keliling di wilayah pastoral Paroki Tanjung, Keuskupan Ketapang, Kalbar.

Berbekal alat-alat medik dan obat-obatan yang dia masukkan dalam sebuah krombongan layaknya tukang sayur dengan barang-barang dagangannya, Sr. Elisa Petra OSA sangatlah gesit mengendarai sepeda motor bebeknya.

Dari Komunitas Susteran OSA St. Sesilia di Paroki Tanjung (sekitar 6 jam perjalanan dari Pusat Kota Ketapang), ia sering meninggalkan basis komunitasnya untuk pergi berkeliling ke segala penjuru wilayah pastoral Paroki Tanjung guna membantu para perempuan hamil tua melakukan persalinan.

Sr. Elisa Petra OSA asal Muntilan di Jateng punya daya juang dan tahan banting melakoni karyanya sebagai bidan keliling untuk melibas kawasan pedalaman Paroki Tanjung, Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Ist0

Klien-nya Sr. Elisa datang bari berbagai kalangan masyarakat lintas budaya dan etnik. Tak jarang, ia harus naik motor sendirian guna menjangkau kawasan-kawasan terpencil sekalipun.

Baca juga:  Augustinian nuns on bikes and boats to help youth and infants in W Kalimantan (video-photos)  

 

Kepada Sesawi.Net, ia menulis demikian:

“Selain naik sepeda motor ke Ketapang dengan kisaran waktu 6-7 jam perjalanan melalui jalan ‘campur aduk’,  jarak terjauh yang pernah saya tempuh adalah perjalanan naik sepeda motor sendirian dari Tanjung menuju Balai Berkuak,” ungkapnya pertengahan Juli 2018 lalu.

“Saya meninggalkan Tanjung pukul 14.00 WIB tengah hari dan baru tiba di Sandai pukul 19.00 malam. Demi alasan keamanan dan kesehatan, saya mesti menginap di Sandai. Perjalanan dari Tanjung ke Sandai kira-kira masih 3-4 jam perjalanan naik sepeda motor,” lanjutnya meneruskan kisahnya.

Medan perjalanan di wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, Kalbar: jalan di kawasan pedalaman yang berlumpur pekat dan banyak kobangan lumpur di musim hujan. (Dok. Sr. Elisa Petra OSA/Paroki Tanjung, Keuskupan Ketapang, Kalbar)
Butuh mental baja dan tahan banting plus nyali besar untuk menerobos jalanan di kawasan pedalaman hutan di Kabupaten Ketapang, Kalbar, karena jarang bertemu orang di jalanan. (Dok. Sr. Elisa Petra OSA/Paroki Tanjung, Keuskupan Ketapang, Kalbar)
Di musim hujan yang ada adalah lumpur pekat, sementara lautan debu siap membikin jalanan tidak kelihatan sama sekali ketika debu berterbangan terkena efek hembusan angin atau gesekan roda motor. (Dok. Sr. Elisa Petra OSA/Paroki Tanjung, Keuskupan Ketapang, Kalbar)

“Lama perjalanan di jalanan ‘campur aduk’ itu sungguh sangat tergantung juga kondisi jalan dan cuaca: makin banyak hujan, maka makin banyak tantangan di jalan. Esok harinya, saya baru bisa melanjutkan perjalanan naik sepeda motor dari Sandai menuju Balai Berkuak selama 2-3 jam,” tulisnya lagi.

“Hari berikutnya, dalam perjalanan pulang ke Tanjung, saya memutuskan mampir ke Simpang Dua,” pungkasnya bercerita.

Para suster yunior OSA mengucapkan kaulnya didampingi Sr. Lucia Wahyu OSA (kanan, Pemimpin Umum Kongregasi). Ki-ka: Sr. Sophia OSA, Sr. Susana OSA, Sr. Anastasia OSA yang mengucapkan profesi pertama dan Sr. Ferdinanda OSA mengucapkan  kaul kekal.

Jubahan, kaulan dan pesta hidup membiara

Kisah riil tentang karya pelayanan kesehatan yang hingga kini masih diampu Sr. Elisa Petra OSA di Paroki Tanjung di atas adalah contoh nyata hasil gemblengan formatio (pembinaan diri menjadi religius) para suster OSA.

Setelah melewati masa pendidikan sebagai postulan selama setahun dan kemudian masa novisiat selama dua tahun, maka para suster novis OSA baru diperkenankan mengucapkan kaul pertamanya sebagai religius OSA.

Lima perempuan muda postulan akan resmi memulai masa pendidikan mereka sebagai novis suster OSA.

Mereka adalah:

  • Jesi yang kemudian mengadopsi nama biaranya sebagai Sr. Cornelia.
  • Evi menjadi Sr. Felomena.
  • Nurmi berubah nama menjadi  Sr. Vianny.
  • Margaretha memeluk nama biara sebagai Sr. Veronika.
  • Mila berubah nama menjadi Sr. Maximila.
Para suster yunior yang memperbarui kaulnya dan mengucapkan kaul kekalnya.

Satu orang suster yunior yang berkaul kekal adalah Sr. Ferdinanda OSA.

Mereka yang mengucapkan profesi (kaul pertamanya) adalah Sr. Sofi OSA, Sr. Susana OSA, dan Sr. Anastasia OSA.

Foto-foto berikut ini menggambarkan rasa sukacita tersebut.

Para suster postulan OSA masih berbusana adat khas Dayak.

Beberapa postulan OSA dan masih berpakaian adat Dayak mulai memasuki masa pembinaannya sebagai novis OSA. Sejumlah suster novis mengucapkan kaul pertamanya sebagai religius OSA.

Beberapa suster OSA yunior mengucapkan  pembaruan kaulnya dan seorang lainnya mengucapkan kaul kekalnya di hadapan Gereja yang diwakili oleh Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi.

Sukacita para suster OSA mengucapkan kaul pertama, kaul kekal, dan merayakan pesta hidup membiara. Lima orang postulan resmi memasuki masa novisiatnya.

Seorang suster senior merayakan pesta hidup membiaranya sebagai religius OSA.

Sebelum sampai ke perayaan sukacita tersebut, Romo Emanuel Pranawa Datu Martasudjita Pr dari Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta mendampingi para suster OSA ini mengolah hidup batin mereka bersama Tuhan dalam dua paket retret bersama sejak tanggal 28 Juni hingga 17 Juli 2018.

Pemimpin Umum Kongregasi OSA Sr. Lucia Wahyu (kiri) bersama para postulan calon suster novis OSA (berbusana adat Dayak), para suster yunior yang baru saja mengucapkan kaul kekalnya. Pembimbing retret jelang kaulan adalah Romo E. Martasudjita Pr – staf pembina Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan sekaligus dosen Fakultas Teologi Wedabakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Tiga imam OSA menemani kolega mereka yakni para suster OSA.
Lima remaja putri postulan calon suster novis OSA bersama Romo E. Martasudjita Pr, Sr. Lucia Wahyu dan suster senior yang merayakan pesta hidup membiaranya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here